Lebaran Betawi 2026: Foke Tekankan Empati Sosial di Tengah Kesederhanaan
Perayaan Lebaran Betawi 2026 diselenggarakan secara lebih sederhana sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi sosial dan global, dengan Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi Fauzi Bowo menekankan pentingnya empati sosial.
Perayaan Lebaran Betawi 2026 telah resmi dibuka di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, berlangsung dari tanggal 10 hingga 12 April 2026. Acara tahunan ini diselenggarakan dengan nuansa yang lebih sederhana, sebuah keputusan yang diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap situasi sosial dan global yang penuh ketidakpastian. Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi (MKB), Fauzi Bowo atau akrab disapa Foke, menegaskan bahwa penyederhanaan ini merupakan momentum untuk meningkatkan empati dan solidaritas sosial di kalangan masyarakat Jakarta.
Foke, yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya Lebaran Betawi di lokasi bersejarah Lapangan Banteng. Ia juga mengapresiasi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung beserta jajaran dan panitia atas persiapan acara yang matang.
Lebaran Betawi bukan sekadar perayaan seremonial setelah Ramadhan, melainkan pengingat penting bagi warga Jakarta untuk menjaga, merawat, dan melestarikan budaya Betawi sebagai identitas kota.
Empati Sosial di Tengah Ketidakpastian Global
Fauzi Bowo menjelaskan bahwa keputusan untuk menyederhanakan perayaan Lebaran Betawi 2026 didasari oleh keprihatinan terhadap kondisi global dan domestik yang memprihatinkan. Situasi global saat ini menimbulkan ketidakpastian yang berdampak luas.
Banyak masyarakat Indonesia yang masih berjuang untuk pulih secara sosial dan ekonomi akibat bencana alam yang terjadi belakangan ini. Selain itu, konflik kemanusiaan di Jalur Gaza serta ketegangan di kawasan Timur Tengah turut memperburuk kondisi dunia secara keseluruhan.
Melihat realitas ini, Foke mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memahami keputusan penyederhanaan tersebut. Ia berharap momentum ini dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan empati dan solidaritas sosial yang lebih besar di antara warga Jakarta dan seluruh elemen bangsa.
Merawat Budaya Betawi di Era Modern
Foke menegaskan bahwa Lebaran Betawi memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perayaan tahunan. Ini adalah ajang krusial untuk melestarikan dan mewariskan nilai-nilai luhur budaya Betawi kepada generasi muda.
Di tengah arus modernisasi dan dinamika Jakarta sebagai kota global, nilai-nilai seperti silaturahmi, gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada orang tua harus terus dijaga. Majelis Kaum Betawi secara aktif melibatkan generasi muda dalam penyelenggaraan acara ini, memastikan keberlangsungan tradisi di masa depan.
Meskipun diselenggarakan lebih sederhana, esensi budaya Betawi tetap terjaga. Salah satu tradisi yang dipertahankan adalah “antaran” atau “sorogan”, yaitu pemberian simbolis sebagai bentuk penghormatan dari yang muda kepada yang lebih tua, atau dari bawahan kepada atasan. Foke menjelaskan bahwa tradisi ini sarat nilai moral dan spiritual, bukan bentuk gratifikasi, melainkan ekspresi takzim dan penghormatan yang mencerminkan struktur sosial harmonis.
Jakarta Kota Global Berakar Budaya Lokal
Lebaran Betawi 2026 mengusung tema “Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan, Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”. Tema ini mencerminkan visi perayaan sebagai ruang inklusif bagi seluruh masyarakat.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang halal bihalal akbar, tetapi juga menghadirkan berbagai atraksi budaya serta kuliner khas Betawi yang dapat dinikmati oleh warga dari beragam latar belakang. Pendekatan inklusif ini penting untuk memperkenalkan budaya Betawi secara lebih luas dan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
Foke mengajak seluruh warga Jakarta untuk menjadikan Lebaran Betawi sebagai momentum mempererat persatuan dan persaudaraan. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran, mengingatkan pentingnya berpegang teguh pada persatuan dan menghindari perpecahan. Keberagaman yang dimiliki Jakarta harus menjadi kekuatan, bukan sumber perbedaan, dalam membangun kota ini dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya.
Rangkaian kegiatan Lebaran Betawi 2026 dimulai dengan malam syukuran pada Jumat (10/4) yang diisi pengajian, maulid, tahlilan, tausiah, dan doa bersama. Pada Sabtu (11/4), berbagai atraksi budaya seperti ondel-ondel, tanjidor, silat, gambang kromong, serta hiburan rakyat seperti lenong Betawi dan layar tancep disajikan. Hari terakhir, Minggu (12/4), diisi dengan senam bersama, permainan tradisional Betawi, dongeng rakyat, karnaval budaya, prosesi hantaran, sajian kuliner Betawi, hingga pertunjukan musik. Masyarakat juga dapat menikmati aneka kuliner Betawi dan mengunjungi bazar produk lokal untuk mendukung UMKM.
Sumber: AntaraNews