Lebaran Betawi 2026: Budaya Pemersatu Bangsa dan Identitas Jakarta Kota Global

Puncak perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng menegaskan budaya sebagai pemersatu bangsa dan identitas Jakarta. Simak kemeriahannya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Lebaran Betawi 2026: Budaya Pemersatu Bangsa dan Identitas Jakarta Kota Global
Puncak perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng menegaskan budaya sebagai pemersatu bangsa dan identitas Jakarta. Simak kemeriahannya! (AntaraNews)

Puncak perayaan Lebaran Betawi 2026 telah sukses digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (12/4). Acara tahunan ini menjadi sorotan utama bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, H. Riano P Ahmad, menegaskan bahwa perayaan ini lebih dari sekadar seremonial.

Menurut Riano, Lebaran Betawi merupakan wadah penting untuk menyatukan silaturahmi antarwarga Betawi dengan seluruh lapisan masyarakat di Jakarta. Esensi utamanya adalah mempererat tali persaudaraan melalui kekayaan budaya lokal. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo juga menekankan peran strategis acara ini.

Pramono Anung Wibowo menyatakan bahwa Lebaran Betawi 2026 memperkuat persatuan masyarakat dan meneguhkan identitas budaya Jakarta sebagai kota global. Acara ini berlangsung selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 April 2026, dengan tema "Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global".

Makna Budaya Lebaran Betawi sebagai Pemersatu

H. Riano P Ahmad, Ketua Umum Bamus Betawi, menyoroti bahwa Lebaran Betawi 2026 bukan sekadar perayaan tahunan biasa. Ia melihatnya sebagai representasi nyata bagaimana budaya mampu menjadi pemersatu bangsa. Tradisi silaturahmi yang kuat di kalangan Betawi diwariskan secara turun-temurun.

Nilai-nilai luhur ini tercermin dalam berbagai prosesi, termasuk simbol penghormatan antara generasi tua dan muda. Salah satu momen penting adalah prosesi simbolis para wali kota dan bupati yang membawa hantaran untuk Gubernur DKI Jakarta. Ini menunjukkan adanya kearifan lokal yang terjaga.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menambahkan bahwa Lebaran Betawi menjadi momentum krusial untuk mengingat kembali jati diri Jakarta. Budaya Betawi adalah identitas utama yang harus terus hidup dan berkembang di tengah dinamika perubahan zaman. Hal ini menegaskan pentingnya pelestarian budaya Betawi.

Kemeriahan Atraksi dan Antusiasme Pengunjung Lebaran Betawi

Antusiasme masyarakat terhadap Lebaran Betawi 2026 sangat luar biasa, terlihat sejak pagi hingga siang hari di Lapangan Banteng. Pengunjung disuguhkan beragam atraksi budaya khas Betawi yang memukau. Di antaranya adalah Hantaran, Palang Pintu, dan Topeng Blantek yang menampilkan cerita kerakyatan.

Kemeriahan semakin terasa dengan pawai ondel-ondel yang dipadukan tradisi sorokan, menarik perhatian banyak pasang mata. Seluruh rangkaian kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Musyawarah (Bamus) Betawi. Kehadiran berbagai atraksi budaya ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.

Selain pertunjukan budaya, pengunjung juga dapat menikmati sajian kuliner khas Betawi yang menggugah selera. Hiburan layar tancap yang digelar pada Sabtu malam (11/4) juga menarik banyak penonton, bahkan saat hujan deras. Riano mengungkapkan banyak pengunjung datang dari luar kota, seperti Tegal dan Yogyakarta, untuk menyaksikan Lebaran Betawi.

Dukungan Pemerintah dan Pelestarian Budaya Betawi

Lebaran Betawi merupakan kalender rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bamus Betawi. Acara ini terus didorong sebagai upaya konkret dalam pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya.

Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa perayaan ini memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan masyarakat. Sekaligus meneguhkan identitas budaya Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar kuat pada tradisi lokal. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan budaya Betawi di tengah modernisasi.

Kegiatan Lebaran Betawi 2026 diawali dengan malam syukuran pada Jumat (10/4) yang diisi pengajian, maulid, tahlilan, tausiah, dan doa bersama. Pada hari berikutnya, Sabtu (11/4), diadakan berbagai atraksi budaya seperti ondel-ondel, tanjidor, silat, dan gambang kromong. Hari terakhir, Minggu (12/4), diisi dengan kegiatan interaktif seperti senam bersama, permainan tradisional Betawi, dongeng rakyat, karnaval budaya, prosesi hantaran, sajian kuliner Betawi, hingga pertunjukan musik dan bazar UMKM.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi