Lalat Serbu Sejumlah Desa di Kintamani Bangli, Ternyata Ini Penyebabnya
Serbuan lalat ini sejak tahun 2012 dan selalu terjadi di awal tahun atau Bulan Januari saat musim penghujan.
Fenomena merebaknya lalat di wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, menjadi viral di media sosial dan menjadi perbincangan netizen.
Fenomena serbuan lalat ini, telah terjadi setiap tahunnya di wilayah Kecamatan Kintamani, dan bahkan sudah sejak tahun 2012 dan selalu terjadi di awal tahun atau Bulan Januari saat musim penghujan.
"Terakhir-terakhir ini, memang populasi atau kerumunan lalat itu relatif meningkat. Saya dapatkan informasi dari pendahulu saya, dari tahun 2012 masalah ini sudah sempat dibahas, di tahun 2012," kata I Wayan Sarma selaku Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli, saat dikonfirmasi pada Selasa (6/1).
Wayan Sarma menerangkan, fenomena serbuan lalat ini polanya selalu sama setiap tahunnya dan terjadi di awal Bulan Januari atau awal musim hujan dan mulai terlihat peningkatan yang signifikan.
"Terutama di Kecamatan Kintamani. Jadi ini memang berpola saat awal bulan dan awal tahun. Dan awal musim hujan memang populasinya tinggi, kemudian bulan-bulan selanjutnya mulai berkurang," imbuhnya.
Penyebab Lalat Muncul
Ia menyatakan, penyebab berkembangnya lalat di wilayah Kintamani, salah satunya adalah akibat penggunaan limbah ternak sebagai pupuk di wilayah pertanian di Kintamani, dan rata-rata pupuk yang digunakan adalah dari kotoran ayam atau pupuk postal yang merupakan pupuk organik yang berasal dari kotoran ayam.
Pupuk kotoran ayam itupun dibeli oleh para petani dari luar Kabupaten Bangli, atau pemasoknya dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun dari Jawa.
"Kalau penyebabnya salah satu diantaranya akibat penggunaan limbah ternak sebagai pupuk. Bukan dari ternak di sana (Bangli), mereka bahkan beli, pemasoknya itu dari luar Bangli bahkan dari luar Bali, dari Lombok, ada dari Jawa juga banyak," jelasnya.
"(Pupuk itu) terutama mungkin bekas ayam pedaging. Itu namanya postal, di mana sekam yang sudah bercampur kotoran ayam. Yang biasanya digunakan saat pemeliaran ayam petelur atau ayam yang warna putih," jelasnya.
Serang Sejumlah Desa
Serbuan lalat itu, terjadi di beberapa desa di wilayah Kintamani, terutama di desa sekitar daerah kaldera Batur yang merupakan titik pariwisata.
"Terutama di sekitar kaldera Batur. Kenapa di sana paling kentara. Karena memang di sana adalah titiknya pariwisata, Kalau di desa-desa lain memang banyak, tapi karena tidak ada pariwisata, tidak begitu dikeluhkan," katanya.
Ia menyebutkan, fenomena serbuan lalat ini biasanya hanya terjadi sebulan dan setelah itu mulai menghilang atau berkurang kerumunan lalat tersebut.
"Mungkin satu bulan sudah hilang. Biasanya pada Bulan Januari dan Februari ini hujan lebat, lalu telur-telur lalat itu hanyut. Tapi kalau sekarang hujan, sekarang lagi kemarau, hujan lagi kemarau lagi, itu justru tambah banyak," katanya.
Untuk pertanian di wilayah Kintamani itu, adalah pertanian sayur-mayur seperti bawang merah, tomat, kubis, cabai dan lain-lainnya. Tetapi, serbuan lalat itu tidak menyebabkan gagal panen karena lalat bagi pertanian bukan hama.
"Kalau untuk (dampak) kesehatan, saya enggak berani komentar masalah itu. Tapi memang paling tidak kerumunan lalat itu kita akui," ujarnya.
Langkah Pencegahan
Ia menyebutkan, untuk serbuan lalat di wilayah Kintamani masih terjadi dan belum ada berkurang dan fenomena ini memang terjadi setiap tahunnya.
"Masih sama. Belum ada pengurangan yang secara signifikan. Itu dari awal-awal Bulan Januari ini yang biasanya bersamaan dengan musim hujan, tinggi-tingginya curah hujan. Sudah fenomena tahunan," jelasnya.
Ia juga menerangkan, untuk antisipasi serbuan lalat dan solusi untuk permasalahan tersebut, sudah sering dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bangli.
"Kita mulai dari hulunya, dari petaninya. Kami berikan edukasi kepada petani melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang ada di masing-masing desa, agar tidak menggunakan limbah ternak. Artinya kotoran ayam begitu ambil dari kandang, gunakan sebagai pupuk, itu tidak benar," ujarnya.
"Tetapi semestinya harus dilakukan proses dekomposisi (penguraian), proses perombakan, proses pelapukan atau minimal fermentasi. Itu yang harus dilakukan," ujarnya.
Kemudian, untuk solusinya tentu harus komprehensif dan tidak bisa dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli saja. Selain itu, selama ini pihaknya telah beberapa kali melakukan pelatihan atau bimtek mengelola limbah ternak menjadi pupuk yang sehat.
"Kalau kami dari pertanian sudah melakukan edukasi kepada petani. Bahkan kami sudah melakukan bimtek beberapa kali ini, untuk melatih petani bagaimana mengolah limbah ternak ini menjadi pupuk yang sehat. Itu yang kami lakukan," ujarnya.
Kemudian berikutnya adalah pengadaan ataupun fasilitasi pupuk organik atau pupuk yang sudah dipermentasi yang memang sudah menjadi pupuk organik padat.
"Itu yang kita lakukan. Baik bantuan dari pemerintah kabupaten maupun dari pemerintah provinsi. Untuk mengurangi penggunaan limbah ternak ini," tandasnya.