Petani di Kabupaten Lebak, Banten, kini menghadapi tantangan serius. Ribuan meter lahan pertanian mereka rusak parah akibat serangan hama babi hutan dan monyet liar. Kondisi ini menyebabkan kerugian besar bagi para petani yang bergantung pada hasil panen.
Serangan hama ini dilaporkan terjadi sejak beberapa bulan terakhir, dengan babi hutan kerap beraksi pada dini hari. Mereka merusak berbagai tanaman palawija seperti singkong, ubi, jagung, dan kacang tanah yang siap panen. Para petani menduga perubahan habitat satwa liar menjadi pemicu utama fenomena ini.
Pembangunan Waduk Karian dan eksplorasi pertambangan batu di kawasan gunung disebut-sebut sebagai penyebab rusaknya habitat asli. Akibatnya, satwa liar terpaksa mencari sumber makanan ke kebun warga. Situasi ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Advertisement
Advertisement
Kerugian Petani Akibat Serangan Hama Babi Hutan Lebak
Patma, seorang petani di Rangkasbitung, mengungkapkan kekecewaannya. Lahan seluas 5.000 meter persegi miliknya gagal panen setelah diserang babi hutan. "Tanaman singkong dan ubi yang siap panen rusak akibat dimakan babi hutan," kata Patma.
Babi hutan tersebut menyerbu kebun Patma sekitar pukul 01.00 WIB. Kawanan babi hutan ini diduga berasal dari kawasan hutan perkebunan kelapa sawit terdekat. Serangan hama babi hutan ini menyebabkan kerugian material yang tidak sedikit bagi petani.
Ahmad, petani lain di Rangkasbitung, juga mengalami nasib serupa. Kebun ladangnya rusak parah dalam beberapa bulan terakhir akibat serangan babi hutan. Petani bahkan harus melakukan pengamanan dan perburuan.
Advertisement
Mereka melibatkan anjing untuk mengusir babi hutan di malam hari. Selain itu, pemasangan jerat juga dilakukan untuk menangkap hama ini. "Kami tentu merugi jika tanaman pertanian itu dirusak babi," katanya pula.
Advertisement
Perubahan Habitat Pemicu Serangan Satwa Liar di Lebak
Fenomena serangan hama babi hutan ini disebut Patma tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia mencatat bahwa serangan masif dimulai sejak adanya pembangunan Waduk Karian. "Kami menduga kawanan babi hutan itu masuk kebun, karena habitatnya sudah menjadi waduk," katanya lagi.
Hal senada diungkapkan H. Katma, petani di Desa Sindangwangi, Kecamatan Muncang. Dirinya kini tidak lagi menanam pisang karena sering dirusak kawanan kera atau monyet. "Sekarang, banyak populasi babi hutan dan monyet merusak pertanian milik masyarakat akibat kerusakan kawasan gunung itu," katanya lagi.
Kerusakan habitat ini diakibatkan oleh eksplorasi pertambangan batu yang masif. Akibatnya, populasi babi hutan dan monyet meningkat di area pertanian. Mereka terpaksa mencari makanan ke kebun masyarakat.
Advertisement
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, membenarkan hal tersebut. Ia menyatakan serangan hama terjadi karena alih fungsi lahan habitat satwa. Binatang-binatang ini terpaksa mencari makanan ke ladang petani.
Advertisement
Upaya Mitigasi dan Harapan Petani dalam Menghadapi Hama Babi Hutan
Lokasi kebun yang diserang babi dan monyet liar umumnya berdekatan dengan kawasan hutan. Banyak juga yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit. Kondisi ini membuat kebun petani rentan terhadap serangan hama babi hutan Lebak.
Petani di Lebak telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah ini. Mereka melakukan pengamanan kebun secara mandiri pada malam hari. Perburuan dan pemasangan jerat menjadi pilihan untuk mengurangi populasi hama.
Dinas Pertanian Kabupaten Lebak berharap petani dapat lebih proaktif dalam menjaga tanamannya. "Kami berharap petani dapat menjaga tanaman di malam hingga dini hari dengan melakukan pengamanan," katanya pula. Ini untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan oleh serangan hama.
Advertisement
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait diperlukan. Upaya konservasi habitat asli satwa juga penting untuk jangka panjang. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.
Sumber: AntaraNews