KTT ASEAN ke-47: Menlu RI Ingatkan TAC Hampir 50 Tahun, Dorong Persatuan dan Sentralitas ASEAN Hadapi Dinamika Global
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan sentralitas ASEAN dalam menghadapi tantangan global dan internal, menegaskan peran krusial kawasan.
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, secara tegas menyerukan pentingnya persatuan dan sentralitas ASEAN dalam menghadapi berbagai dinamika global. Pernyataan ini disampaikan dalam Pertemuan Tingkat Menlu ASEAN (AMM) yang menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN. Acara penting tersebut berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada hari Sabtu.
Seruan Menlu Sugiono menyoroti kebutuhan mendesak bagi negara-negara anggota untuk mempertahankan posisi sentral ASEAN. Hal ini krusial baik dalam menyelesaikan isu-isu internal maupun merespons tantangan yang muncul dari panggung dunia yang semakin tidak terduga. Persatuan regional dianggap sebagai kunci utama untuk ketahanan bersama.
KTT ke-47 ASEAN sendiri dijadwalkan berlangsung dari tanggal 26 hingga 28 Oktober 2025, dengan mengusung tema "Masa Depan yang Tangguh dan Inklusif Bersama". Presiden RI Prabowo Subianto juga turut hadir dalam agenda ini, didampingi oleh Menlu Sugiono dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Peran Krusial ASEAN dalam Resolusi Konflik
Menlu Sugiono menggarisbawahi bahwa persatuan dan sentralitas ASEAN telah terbukti efektif dalam mengatasi berbagai tantangan di masa lalu. Salah satu contoh nyata adalah peran ASEAN dalam menengahi konflik antara Kamboja dan Thailand. Konflik tersebut berhasil diselesaikan melalui dialog dan konsultasi terbuka.
Di bawah kepemimpinan Malaysia, upaya mediasi ini membuahkan hasil berupa tercapainya gencatan senjata antara kedua negara yang berseteru. Keberhasilan ini menunjukkan kapasitas ASEAN sebagai mediator yang kredibel. Indonesia, melalui Menlu Sugiono, menyatakan dukungan penuh terhadap peran ASEAN dalam memantau implementasi kesepakatan tersebut.
"Kami mendukung peran ASEAN dalam memantau implementasi kesepakatan ini sembari menghargai hak-hak dari pihak terkait," kata Sugiono. Ia juga menegaskan komitmen Indonesia, "Indonesia senantiasa siap berkontribusi terhadap proses ini," menunjukkan kesediaan untuk aktif dalam upaya perdamaian regional.
Memperkuat Pondasi Regional dan Kerja Sama Eksternal
Selain tantangan internal, Menlu Sugiono juga menyoroti situasi global yang semakin dinamis dan sulit diprediksi. Kondisi ini membawa persoalan baru yang menuntut daya tanggap yang kuat dari ASEAN. Untuk itu, penguatan pondasi bersama menjadi sangat esensial agar ASEAN dapat menavigasi dinamika tersebut secara efektif.
Salah satu pondasi penting yang disebutkan adalah Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation/TAC). Perjanjian ini akan berusia 50 tahun pada 2026, dan Menlu Sugiono menekankan perlunya memastikan relevansi TAC untuk masalah saat ini dan di masa depan.
Menlu juga menyerukan peningkatan kerja sama dengan mitra-mitra utama ASEAN. Selain itu, penguatan Institut Perdamaian dan Rekonsiliasi ASEAN (AIPR) juga menjadi fokus, termasuk dalam aspek penelitian untuk mewujudkan perdamaian. Ini menunjukkan komitmen terhadap diplomasi preventif dan resolusi konflik.
Peningkatan hubungan eksternal secara strategis juga menjadi agenda penting. Hal ini dapat dilakukan melalui perluasan mitra wicara secara seimbang dan terukur. Langkah ini diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dinamika global, memperkuat posisi ASEAN di kancah internasional.
Menjaga Prioritas Sentralitas ASEAN di Tengah Dinamika Global
Dalam pernyataannya, Menlu Sugiono secara konsisten menekankan bahwa persatuan dan sentralitas ASEAN adalah prioritas utama. Ini adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian global yang terus berkembang. Upaya kolektif negara-negara anggota harus diarahkan pada tujuan tunggal ini.
"Usaha bersama kita harus memiliki satu tujuan, yaitu mempertahankan dan memperkuat persatuan dan sentralitas ASEAN di tengah dinamika dan ketidakpastian global," tegas Menlu Sugiono. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya visi bersama untuk masa depan kawasan.
Ia melanjutkan, "Ini harus tetap menjadi prioritas kita seiring kita memajukan ASEAN yang semakin kuat." Pesan ini selaras dengan tema KTT ke-47 ASEAN, "Masa Depan yang Tangguh dan Inklusif Bersama," yang menekankan pentingnya ketahanan dan inklusivitas regional.
Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto bersama Menlu Sugiono dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam KTT ini juga menunjukkan komitmen tinggi Indonesia. Delegasi Indonesia berupaya aktif berkontribusi dalam perumusan strategi regional.
Sumber: AntaraNews