Kisah Haru Dewi Laila, Atlet Menembak Raih Dua Emas SEA Games 2025 Saat Hamil Empat Bulan
Rahasia besar petembak nasional Dewi Laila Mubarokah terungkap usai meraih dua emas SEA Games 2025: Ia berjuang dan berprestasi gemilang saat Dewi Laila Hamil empat bulan.
Atlet menembak kebanggaan Indonesia, Dewi Laila Mubarokah, berhasil menorehkan sejarah gemilang di ajang SEA Games Thailand 2025. Ia sukses menyumbangkan dua medali emas bagi kontingen Merah Putih di Photharam Shooting Range, Bangkok. Prestasi luar biasa ini diraihnya pada Sabtu, 14 Desember, memukau publik dan rekan-rekan atlet.
Namun, di balik sorotan medali emas yang berkilauan, Dewi Laila menyimpan sebuah rahasia besar yang baru terungkap setelah kompetisi usai. Ia berjuang keras dan menunjukkan performa terbaiknya di lapangan tembak dalam kondisi yang penuh tantangan. Rahasia tersebut adalah kehamilannya yang telah memasuki usia empat bulan.
Kondisi ini tentu menambah bobot perjuangan Dewi Laila, yang harus tetap fokus dan tenang di bawah tekanan kompetisi. Kisah inspiratifnya ini menjadi bukti nyata ketangguhan dan dedikasi seorang atlet. Ia berhasil membuktikan bahwa kehamilan bukanlah penghalang untuk meraih puncak prestasi.
Perjuangan di Balik Rahasia Kehamilan
Dewi Laila merahasiakan kondisi kehamilannya rapat-rapat dari banyak pihak. Hanya segelintir orang yang mengetahui, termasuk pengurus Persatuan Menembak Indonesia, pelatih, dan satu rekan atlet terdekatnya. Bahkan Dominique Rachmawati Karini, teman sekamar sekaligus rivalnya di final, tidak menyadari kondisi Dewi Laila hamil.
Menjaga rahasia ini berarti Dewi Laila harus menjalani semua persiapan seperti biasa, termasuk pemusatan latihan, tes fisik, hingga kejuaraan. Pada fase awal kehamilan, tantangan justru terasa lebih berat karena ia mengalami mual. "Waktu masih awal itu mual. Tapi biar enggak ketahuan teman-teman, ditahan sendiri. Cuma cerita ke suami,” ujar Dewi Laila.
Kekhawatiran lain muncul terkait konsumsi vitamin. Sebagai atlet elite, setiap asupan harus dipastikan aman dan tidak melanggar aturan antidoping. Dewi Laila sempat cemas jika vitamin kehamilan justru disalahartikan sebagai pelanggaran, sehingga ia dan tim berkonsultasi dengan Indonesia Anti-Doping Organization (IADO).
Dari konsultasi tersebut, Dewi Laila mendapat arahan untuk melaporkan penggunaan vitamin melalui mekanisme Pengecualian Penggunaan Terapeutik (Therapeutic Use Exemption/TUE) yang diatur oleh Badan Antidoping Dunia (World Anti-Doping Agency/WADA). Langkah ini memberikan ketenangan, memastikan kehamilan tetap terjaga dan aturan dipatuhi.
Duel Sengit dan Keterkejutan Rekan
Menjelang final, ketegangan tidak bisa sepenuhnya dihindari. Dewi Laila mengaku tegang kepada pelatihnya, namun ia hanya diberi nasihat sederhana. “Saya bilang ke pelatih kalau tegang. Tapi pelatih cuma bilang, tarik napas, atur napas, kontrol seperti latihan biasa,” kenangnya.
Nasihat itu menjadi pegangan saat final berlangsung sengit, dengan delapan penembak terbaik saling kejar nilai. Dewi Laila sempat tertinggal, namun perlahan, satu per satu pesaing tersingkir. Hingga akhirnya, tersisa duel sesama Indonesia antara Dewi Laila melawan Dominique Rachmawati Karini.
Sorak penonton mengiringi setiap tembakan di Photharam Shooting Range. Di ujung laga, Dewi Laila berhasil memastikan medali emas, sementara Dominique meraih perak. Keduanya berpelukan di tengah arena, momen yang penuh haru dan menjadi bagian dari sejarah menembak Indonesia.
Dominique sendiri mengaku terkejut ketika rahasia kehamilan Dewi Laila akhirnya terbongkar. “Saya sempat mimpi Dewi hamil,” kata Dominique. “Pas tahu ternyata benar, saya kaget. Saya langsung bilang, ‘tuh kan, benar hamil’.” Tangisan pun kembali mewarnai arena, tidak hanya dari Dewi Laila, tetapi juga dari orang-orang terdekat yang selama ini ikut menyimpan rahasia.
Dukungan Keluarga dan Makna Sebuah Emas
Di tribun, Fathur Gustafian, suami Dewi Laila yang juga atlet menembak, menyaksikan semua perjuangan istrinya dengan emosi bercampur. Baginya, perjuangan ini bukan sekadar tentang medali, melainkan tentang kekuatan dan keyakinan. "Kami sama-sama menguatkan, sama-sama percaya proses,” kata Fathur.
Keputusan melanjutkan kehamilan di tengah persiapan SEA Games 2025 bukanlah hal mudah, mengingat anak pertama mereka masih berusia dua tahun lebih. Mereka sempat berpikir untuk menunda kehamilan, namun nasihat dokter mengubah pandangan mereka. “Tapi dokter bilang, anak ini punya hak hidup, punya rezekinya sendiri,” ujar Fathur.
Sejak saat itu, keyakinan mereka menguat. Dewi Laila rutin mengonsumsi vitamin sesuai anjuran dokter, rajin kontrol, dan tetap menjalani latihan dengan pengawasan ketat. Semua proses dijalani dengan penuh kehati-hatian, demi menjaga kesehatan ibu dan calon bayi.
Ketika dua emas akhirnya diraih, semua perjuangan itu terasa menemukan maknanya. Dewi Laila menunduk, memegang perutnya perlahan. “Walaupun belum bisa dengar, saya bilang terima kasih sudah bertahan, sudah berjuang sama-sama,” ucapnya. Emas di Thailand ini juga menjadi peningkatan prestasi baginya, setelah sebelumnya meraih emas perseorangan dan perak beregu di SEA Games 2021 Vietnam.
Mimpi Olimpiade Bersama Keluarga
Dewi Laila sangat ingin membuktikan dirinya masih bisa bersaing di kancah internasional, itulah mengapa ia sangat ingin tampil di SEA Games 2025. Di arena menembak, ia dikenal sebagai atlet dengan kontrol napas dan emosi yang matang, kualitas penting untuk seorang penembak presisi.
Di SEA Games 2025, Dewi Laila menunjukkan ketenangan itu bukan hanya lahir dari latihan keras, tetapi juga dari keyakinan. Ia percaya bahwa prestasi dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan, selama dijalani dengan jujur, disiplin, dan penuh tanggung jawab.
Dua medali emas yang diraihnya pada akhirnya bukan hanya milik Dewi Laila semata. Ini adalah kisah tentang keberanian menyimpan rahasia, ketaatan pada aturan, dan keteguhan seorang ibu yang memilih tetap berdiri di garis tembak dengan amanah besar di dalam dirinya. "Rezeki ‘si utun’,” kata Fathur tersenyum, merujuk pada bayi yang masih dalam kandungan sang istri.
Dewi Laila dan Fathur pun masih akan tetap melanjutkan mimpinya. Mereka ingin membangun keluarga bahagia dan memiliki satu impian besar. “Mimpi Dewi bisa tampil bersama saya di Olimpiade, karena saya sebelumnya sudah tampil,” ujar Fathur, menunjukkan ambisi mereka untuk berprestasi bersama di pentas olahraga tertinggi dunia.
Sumber: AntaraNews