Kemendukbangga Dorong Efektivitas Menu MBG Berbasis Protein untuk Pencegahan Stunting
Sekretaris Kemendukbangga Budi Setiyono menekankan pentingnya efektivitas menu MBG berbasis protein bagi ibu hamil, menyusui, dan balita untuk cegah stunting, memastikan intervensi gizi lebih tepat sasaran.
Yogyakarta, 28 Juni – Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga)/Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono menyoroti urgensi penyajian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kaya protein. Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan efektivitas intervensi dalam upaya penurunan stunting di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan Budi Setiyono saat berdialog dengan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kembang Basen, DI Yogyakarta, pada Minggu (28/6). Fokus utama adalah sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) yang membutuhkan asupan gizi optimal.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Setiyono menegaskan bahwa protein merupakan komponen gizi paling penting dalam penanganan stunting. Hal ini menjadi kunci dalam memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal sejak dini, serta mencegah risiko kehamilan berisiko stunting.
Pentingnya Protein dalam Menu MBG
Budi Setiyono menjelaskan bahwa untuk tujuan penanganan stunting, protein harus menjadi prioritas utama dalam menu MBG. Sumber protein seperti telur, daging, atau ikan sangat dianjurkan untuk menunjang kecukupan gizi yang diperlukan.
Meskipun karbohidrat dan sayur-mayur tetap penting, protein dianggap lebih mendesak dalam konteks pencegahan stunting. Asupan protein yang memadai pada kelompok 3B akan secara langsung mendukung pembentukan sel dan jaringan tubuh, yang esensial untuk tumbuh kembang anak.
Intervensi gizi berbasis protein ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam menurunkan angka stunting. Dengan demikian, program MBG dapat lebih terfokus dan memberikan hasil yang optimal bagi kesehatan ibu dan anak di seluruh Indonesia.
Optimalisasi Tata Kelola dan Ekosistem MBG
Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33, Budi Setiyono mengumpulkan berbagai usulan dari para TPK. Usulan-usulan ini bertujuan untuk menyempurnakan kebijakan MBG, khususnya bagi kelompok sasaran 3B.
Budi Setiyono mengidentifikasi adanya ekosistem yang sudah terbentuk di tingkat bawah, meliputi posyandu, kader TPK, dan puskesmas. Ekosistem ini didukung oleh pembiayaan dari Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Kementerian Kesehatan, yang menunjukkan potensi besar untuk keberhasilan MBG.
Namun, ia juga mengakui bahwa optimalisasi diperlukan, terutama dari sisi menu dan tata kelola program. Penyempurnaan ini akan memastikan bahwa setiap sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai tujuan penurunan stunting.
Usulan Konkret untuk Penyempurnaan Kebijakan
Diskusi yang melibatkan masyarakat dan hasil pemantauan lapangan menjadi dasar penting untuk merumuskan usulan konkret. Usulan ini akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) guna penyusunan menu khusus untuk kelompok 3B.
Penyempurnaan kebijakan MBG diharapkan dapat mencari intervensi menu yang lebih efektif dalam mencegah kehamilan berisiko stunting dan bayi lahir stunting. Selain itu, menu yang disesuaikan juga akan mendukung proses pertumbuhan anak hingga usia lima tahun.
Budi Setiyono menegaskan bahwa hasil koordinasi dengan BGN akan memastikan penyajian menu khusus 3B disesuaikan dengan kebutuhan gizi spesifik. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Kemendukbangga untuk menciptakan generasi penerus yang sehat dan bebas stunting.
Sumber: AntaraNews