Penguatan Perempuan Jadi Ujung Tombak Keberhasilan Program MBG 3B Kemendukbangga
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan penguatan perempuan adalah kunci utama suksesnya Program MBG 3B, menyasar ibu hamil, menyusui, dan balita non-PAUD.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan peran vital perempuan. Ia menyatakan penguatan perempuan menjadi kunci keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B). Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Jumat, 10 April 2026, menyoroti strategi pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Program MBG 3B merupakan inisiatif penting yang bertujuan untuk memastikan asupan gizi optimal pada kelompok rentan tersebut, terutama dalam fase 1.000 hari pertama kehidupan anak. Periode ini dikenal sebagai masa emas yang sangat menentukan tumbuh kembang anak secara keseluruhan. Intervensi gizi yang tepat di masa ini diharapkan dapat menciptakan generasi penerus yang tangguh dan berkualitas.
Kemendukbangga/BKKBN, sebagai pelaksana utama, memperkuat distribusi dan edukasi program melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK). TPK ini beranggotakan bidan, kader PKK, dan kader KB, yang mayoritas adalah perempuan, berfungsi sebagai garda terdepan di lapangan. Strategi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberdayakan perempuan untuk pembangunan nasional.
Peran Strategis Perempuan dalam Implementasi Program
Wamen Isyana menjelaskan bahwa Kemendukbangga/BKKBN menempatkan perempuan sebagai ujung tombak dalam menjalankan berbagai program, termasuk MBG untuk 3B. Hal ini didasari fakta bahwa hampir 70 persen Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) yang tersebar di seluruh Indonesia adalah perempuan. Kontribusi mereka sangat signifikan dalam memastikan program berjalan efektif.
Peran PKB dan PLKB ini menegaskan kontribusi strategis perempuan dalam memastikan keberhasilan program hingga tingkat akar rumput. Mereka tidak hanya memastikan pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku positif di tingkat rumah tangga. Pendekatan berbasis keluarga ini menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan program gizi.
Secara nasional, terdapat sekitar 200 ribu Tim Pendamping Keluarga atau setara dengan 600 ribu orang yang bekerja di lapangan. Tim ini didukung oleh sekitar 17 ribu PKB dan PLKB, menjadikan perempuan sebagai kekuatan utama dalam implementasi program. Dedikasi mereka sangat krusial dalam mencapai target program MBG 3B.
Investasi Jangka Panjang untuk Sumber Daya Manusia Unggul
Melalui penguatan peran perempuan dan pendekatan berbasis keluarga, Program MBG 3B diharapkan tidak hanya meningkatkan status gizi ibu dan anak. Lebih dari itu, program ini dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Isyana berharap program ini akan menghasilkan anak yang tangguh dan cerdas.
Program MBG secara khusus menyasar kelompok pada fase 1.000 hari pertama kehidupan, sebuah periode emas yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Intervensi pada masa ini sangat krusial untuk mencegah stunting dan masalah gizi lainnya. Fokus pada periode awal kehidupan ini menunjukkan visi jangka panjang pemerintah.
Inisiatif ini juga sejalan dengan Astacita keempat Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Astacita tersebut menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi utama bagi kemajuan Indonesia. Program MBG 3B menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan visi tersebut.
Mandat Presiden dan Komitmen Kemendukbangga
Mandat Presiden Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 Pasal 47 secara tegas menekankan pentingnya distribusi MBG untuk 3B. Kebijakan ini menegaskan bahwa program tersebut merupakan salah satu intervensi kunci dalam upaya penurunan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Dukungan regulasi ini memberikan landasan hukum yang kuat.
Oleh karena itu, Kemendukbangga/BKKBN memperkuat komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui intervensi berbasis siklus hidup keluarga. Fokus utama adalah pada periode penting sejak kehamilan hingga balita, memastikan setiap tahapan tumbuh kembang anak mendapatkan perhatian maksimal. Ini merupakan bagian dari upaya holistik pemerintah.
Komitmen ini mencerminkan pendekatan menyeluruh dalam pembangunan keluarga dan individu. Dengan memastikan gizi yang cukup dan edukasi yang tepat, Kemendukbangga/BKKBN berupaya membangun fondasi kesehatan dan kecerdasan generasi mendatang. Program MBG 3B menjadi manifestasi nyata dari komitmen tersebut.
Sumber: AntaraNews