Kemdiktisaintek Perkuat Pendidikan Maritim Nasional Hadapi Dinamika Global
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan Pendidikan Maritim Indonesia demi mencetak lulusan berdaya saing global dan menjawab tantangan industri.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Khairul Munadi, mendorong transformasi pendidikan maritim di Indonesia. Langkah ini bertujuan agar pendidikan maritim dapat beradaptasi dengan dinamika global serta kebutuhan industri yang terus berkembang.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Maritim yang berlangsung di Makassar pada Jumat (24/4). Melalui keterangan resminya di Jakarta pada Minggu (26/4), Khairul Munadi menekankan pentingnya transformasi ini.
Transformasi pendidikan dinilai krusial untuk mengoptimalkan pendidikan vokasi dan menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki daya saing tinggi. Hal ini penting untuk menangkap berbagai peluang di pasar kerja, baik di dalam maupun luar negeri.
Mendorong Transformasi Pendidikan Maritim Nasional
Khairul Munadi menegaskan bahwa momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat konsolidasi dan kolaborasi antar-institusi pendidikan maritim. Tujuannya adalah mendorong transformasi pendidikan vokasi yang berorientasi pada lulusan yang terserap dan berdaya saing.
Tantangan utama dunia pendidikan saat ini bukan sekadar mencetak lulusan dalam jumlah banyak, melainkan memastikan mereka memiliki kompetensi yang tersertifikasi dan terkoneksi dengan lapangan kerja. Ini mencakup pasar kerja nasional maupun internasional.
Visi penguatan sektor bahari ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kemaritiman sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional. Tujuannya adalah mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Peluang Global dan Tantangan Penyerapan Lulusan
Peluang bagi lulusan pendidikan maritim di kancah internasional sangat terbuka lebar. Industri pelayaran dunia diproyeksikan masih menghadapi kekurangan puluhan ribu tenaga kerja terampil, terutama pada level perwira.
Meskipun Indonesia termasuk dalam jajaran penyedia pelaut global utama, Khairul Munadi mencatat bahwa potensi besar ini belum sepenuhnya terkonsolidasi. Kontribusi tenaga kerja internasional masih terkonsentrasi pada sejumlah institusi tertentu saja.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Beny Bandanadjaja, menambahkan bahwa penguatan kolaborasi antar-perguruan tinggi merupakan kunci utama. Kolaborasi ini penting agar lulusan vokasi maritim dapat terserap secara merata di ekosistem global.
Penyesuaian Kurikulum untuk Daya Saing Global
Pendidikan vokasi maritim harus menjadi jalur utama penyiapan talenta global Indonesia. Oleh karena itu, penguatan kolaborasi antar-perguruan tinggi menjadi kunci agar lulusan terserap optimal, baik di pasar kerja nasional maupun internasional.
Staf Khusus Mendiktisaintek Bidang Jejaring Industri dan Kerja Sama Luar Negeri, Oki Earlivan Sampurno, mengingatkan adanya tantangan dalam menyelaraskan jumlah lulusan (supply) dengan kebutuhan riil industri (demand).
Pihaknya berkomitmen untuk terus merumuskan langkah konkret dalam memperkecil celah tersebut. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan relevansi kurikulum agar setiap lulusan vokasi semakin siap menjawab tantangan pasar tenaga kerja yang terus berkembang dinamis.
Sumber: AntaraNews