Kematian Capra Asal Maluku Utara, IPDN Tegas Bantah Ada Kekerasan
"Untuk capra belum berhubungan dengan senior. Masih ditangani oleh tim diksar dan tidak melibatkan jajaran IPDN," kata pihak IPDN.
Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) membantah adanya dugaan kekerasan terkait kematian Calon Praja (Capra) angkatan XXXVI asal Ternate, Maluku Utara, Maulana Izzat Nurhadi (20).
Izzat diduga meninggal dunia usai mengikuti apel malam dalam rangkaian Pendidikan Dasar Mental dan Disiplin Calon Praja Pratama (Diksarmendispra), Rabu (8/10).
Wakil Rektor II Bidang Administrasi IPDN, Arief M. Edie, menegaskan bahwa pada tahapan diksar, para capra belum berinteraksi dengan senior atau praja lain yang biasanya kerap dikaitkan dengan isu kekerasan.
“Enggak ada. Karena kalau mungkin ada dugaan katanya tadi bilang apa terjadi kekerasan. Enggak ada. Ketemu senior juga belum. Dia belum jadi praja. Masih capra. Jadi belum ketemu sama senior. Belum ada tindakan dari mana-mana,” ujar Arief saat konferensi pers di IPDN, Jalan Raya Bandung–Sumedang, Jumat (10/10).
Di kesempatan tersebut, Arief juga menyinggung isu kekerasan yang kerap muncul di media sosial meskipun tidak sesuai fakta.
“Di IPDN paling seksi (isu) di situ ya, padahal enggak ada,” katanya.
“Isu di medsos nih yang kadang-kadang kalang kabut. Di IPDN sudah zero kekerasan. Untuk capra belum berhubungan dengan senior. Masih ditangani oleh tim diksar dan tidak melibatkan jajaran IPDN,” tambahnya.
Hasil Pemeriksaan Medis
Menurut Arief, hasil pemeriksaan medis memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Tidak ada unsur kekerasan sedikit pun. Di dalam tubuhnya tidak ada luka-luka, itu tidak ada. Semuanya murni karena beliau almarhum henti jantung,” tegasnya.
Izzat sempat mengeluh lemas setelah apel malam dan dibawa ke kamar sakit asrama (KSA).
Namun, pemeriksaan awal tidak menunjukkan kondisi mencurigakan. Karena tidak kunjung membaik, ia kemudian dilarikan ke RS Unpad, hingga akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 23.00 WIB.
Dokter mendiagnosis penyebabnya adalah henti jantung mendadak.
“Kalau bawaan pasti nggak akan diterima (saat mendaftar IPDN),” ujar Arief.
Setelah dinyatakan meninggal, jenazah Izzat dipindahkan ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk pemulasaraan, sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Ternate, Maluku Utara, Kamis (9/10).
“Sudah dimakamkan pagi ini (Jumat 10 Oktober 2025) di Maluku Utara,” kata Arief.
Bantahan Soal Kelelahan Diksar
Isu bahwa Izzat meninggal akibat kelelahan saat diksar juga dibantah. Menurut Arief, kegiatan diksar pada tahap tersebut hanya berupa baris-berbaris.
“Kalau kelelahan enggak juga. Karena dia masih sampai malam. Tidak ada mengeluh sakit juga. Kan temen-temennya ada juga,” ucapnya.
“Dia lemas. Kemudian kita cek. Kita kasih minum. Karena mungkin tidak segera membaik, kita kirim ke RS Unpad,” tambahnya.