Kasus Kematian Ibu dan Anak di Bandung, Aktivis Soroti Pentingnya Deteksi Mental dan Jaminan Sosial
Ia pun mendorong sejumlah hal dievaluasi oleh pemerintah setempat guna mencegah kejadian serupa terulang.
Penemuan jenazah seorang ibu beserta dua anaknya di rumah kontrakan di Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada Jumat (5/9) dini hari, mengundang keprihatinan luas. Kasus tragis ini bahkan menarik perhatian kelompok aktivis anak, Save The Children Indonesia, yang segera turun tangan untuk memberikan dukungan dan mengawal proses penanganan kasus.
Brand and Communication Manager Save The Children Indonesia, Dewi Sri Sumanah, mengungkap rasa prihatin atas adanya fenomena tersebut. Terutama terkait dugaan sang ibu EN (34) terlebih dulu merenggut nyawa kedua buah hatinya alias filisida, sebelum meregang nyawa.
Ia pun mendorong sejumlah hal dievaluasi oleh pemerintah setempat guna mencegah kejadian serupa terulang. Poin pertama, ialah adanya upaya-upaya deteksi dini terkait kesehatan mental orang tua.
Sebab, tindakan dugaan filisida yang disusul dengan bunuh diri bisa jadi dipengaruhi oleh masalah kesehatan mental EN yang tak lekas terdeteksi. Dewi berpandangan, bisa jadi secara mental, beban yang dirasakan ibu itu cukup berat. Bisa saja dia mengalami depresi berat gitu atau stres kronis yang tidak tertangani lantaran sejumlah faktor yang ada.
"Kami mendorong pemerintah terkait agar dapat mendeteksi kesehatan mental orang tua. Karena itu penting. Sebab apabila orangtua mengalami masalah kesehatan mental, maka anak yang juga turut beresiko. Jadi penting," kata dia saat dihubungi wartawan, Senin (8/9).
Pada praktiknya, upaya deteksi dini masalah mental orangtua tidak hanya cukup dengan membuka hotline. Ia mendorong adanya langkah door to door lewat keterlibatan pengurus kewilayahan yang paling dekat dengan masyarakat.
"Misalnya bisa memberdayakan posyandu yang ada atau PKK misalnya gitu ya," kata dia.
"Intinya yang sangat dekat dengan warga gitu, sehingga bisa melakukan deteksi terhadap orang tua yang menghadapi depresi, terutama misalnya seorang wanita atau ibu yang dia menghadapi depresi misalnya pasca melahirkan, ditambah lagi tekanan ekonomi, ditambah lagi mungkin ada kekerasan rumah tangga yang terjadi gitu misalnya ya," jelasnya.
Selain hal di atas, ia juga mendorong pemerintah setempat dapat menyediakan perlindungan sosial, lewat bantuan dan sebagainya. Utamanya, yang dapat membantu terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat kelompok di bawah garis kemiskinan dan kelompok rentan.
Ini mengingat kasus EN sendiri, diduga terpicu lantaran faktor ekonomi.
"Lalu kelompok masyarakat yang masuk garis kemiskinan penting untuk mendapat perlindungan sosial, seperti bantuan sosial, dan juga upaya lain yang bisa diberikan tanpa biaya. Perlu dicek kelompok rentan seperti ini,” kata dia.
Lebih lanjut, Dewi juga mengatakan bahwa sosialisasi guna membangun kesadaran pola asuh yang seimbang antara ibu dan ayah juga perlu digalakkan.
“Artinya tanggung jawab bersama dalam pengasuhan. Itu yang perlu digalakkan. Apapun, sosialisasi, parenting sekolah, dan juga jangan ada pengecualian seperti ayahnya kerja. Meskipun kerja ayah harus hadir dalam memberikan pengasuhan,” katanya.
Terakhir, Dewi juga menyorot pentingnya kesadaran untuk tidak menstigma kelompok masyarakat dengan ekonomi lemah. Ia pun mendorong antaranggota masyarakat dapat memedulikan dan menjaga alih-alih muncul sikap yang bersifat diskriminatif.
Hal ini, dikatakan Dewi, tak lepas dari isi surat yang diduga ditulis EN sebelum meregang nyawa, yang menyebut dirinya merasa terkucilkan.
“Kemudian terkait stigma masyarakat di lingkungan. Kalau dalam kasus yang terjadi kan di surat wasiatnya sering diolok ya, mungkin sering diejek atau didiskriminasi karena kondisi ekonomi yang sulit,” kata dia.
“Ini yang perlu dibangun di tengah masyarakat bahwa siapapun mereka dengan latar belakang ekonominya, mereka punya hak yang sama. Jadi di masyarakat itu tidak boleh ada diskriminasi dan kita perlu saling menjaga,” dia menambahkan.
Diketahui, selain jasad EN, dua anaknya pun ditemukan tidak bernyawa dengan kondisi leher terjerat tali, diduga dilakukan oleh EN sebelum ia meregang nyawa.
Kasat Reskrim Polresta Bandung, Kompol Luthfi Olot Gigantara mengungkap jenazah ketiganya pertama kali ditemukan oleh suami dan ayah korban, yakni YS.
“Mereka ditemukan meninggal dunia sekitar pukul 04.00 WIB oleh suami korban, YS, yang baru pulang kerja,” ujar Luthfi saat dikonfirmasi wartawan, pada Jumat (5/9).
Peristiwa ini bermula saat YS mendapati rumahnya terkunci dari dalam saat pulang kerja. Mengintip dari lubang ventilasi, ia melihat istrinya EN telah dalam kondisi leher tergantung di kusen pintu kamar hingga berteriak histeris.
“Warga yang mendengar teriakan datang kemudian mendobrak pintu dan menemukan dua anak korban juga sudah tidak bernyawa dengan tali yang masih menjerat di leher,” imbuh dia.
Mendapati laporan atas kejadian ini, polisi segera mengecek lokasi kejadian guna melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dipimpin langsung oleh Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono. Hasilnya, dipastikan bahwa EN tewas dalam kondisi lehernya tergantung di kusen pintu, sedang kedua anaknya dalam kondisi tergeletak di ruang depan dan dalam kamar, juga dengan kondisi leher yang terjerat tali.
“Untuk posisi pintu dan jendela dalam keadaan terkunci dari dalam dan tidak ditemukan luka terbuka terhadap para korban,” ungkap dia.
Selain jenazah ketiga korban, pihak kepolisian juga menemukan ponsel dan secarik kertas berisi tulisan tangan dalam bahasa Sunda, diduga dibuat oleh EN sebelum ia meregang nyawa. Surat yang berisi permohonan maaf kepada keluarga hingga curahan masalah hidup itu kini diamankan pihak kepolisian beserta ponsel tersebut.