Kanwil Kemenag Bali Gencarkan Edukasi Manasik Haji untuk Siswa di Pulau Dewata
Kantor Wilayah Kementerian Agama Bali aktif memberikan edukasi manasik haji kepada siswa di berbagai tingkatan, menanamkan pemahaman ibadah sejak dini dan mempersiapkan generasi muda Bali untuk berhaji.
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Bali telah memulai program edukasi manasik haji bagi para siswa di Denpasar. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkenalkan prosesi ibadah haji kepada anak-anak sejak usia dini. Dengan demikian, diharapkan dapat menumbuhkan cita-cita untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut di masa depan.
Program edukasi ini awalnya menyasar siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setara sekolah dasar dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setara SMP. Namun, Kanwil Kemenag Bali juga membuka peluang untuk memperluas jangkauan edukasi ini ke sekolah-sekolah umum. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menyebarkan pemahaman keagamaan secara luas.
Kepala Kanwil Kemenag Bali, Mahmudi, menyatakan bahwa edukasi tentang manasik haji dikenalkan agar anak-anak tahu bagaimana prosesi haji. Ia berharap, pengetahuan ini akan menjadi penguat bagi mereka di kemudian hari untuk dapat menjalankan ibadah haji dengan baik, sesuai dengan cita-cita seluruh umat Islam untuk berhaji.
Penanaman Pemahaman Ibadah Haji Sejak Dini
Mahmudi menekankan pentingnya edukasi manasik haji ini sebagai penguat bagi siswa agar mereka dapat menjalankan ibadah haji dengan baik di masa mendatang. Ia mengakui bahwa salah satu tantangan utama dalam program ini adalah perlunya kesabaran dalam menjelaskan dan mendidik anak-anak. Hal ini dikarenakan mereka cenderung sangat aktif dan belum semuanya fokus dalam menerima penjelasan.
Meskipun demikian, Mahmudi optimis bahwa moderasi beragama yang sangat baik di Bali akan mendukung keberhasilan program ini, bahkan jika edukasi diberikan ke sekolah umum. Ia percaya bahwa keberagaman tidak akan berpengaruh negatif dan justru dapat lebih memoderasi agama saat sekolah umum dikenalkan tentang manasik haji. Agama lain pun, menurutnya, sangat bisa menerima karena haji merupakan bagian dari rukun Islam.
Edukasi ini menjadi semakin relevan mengingat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 telah resmi mengatur bahwa anak usia 13 tahun sudah bisa mengikuti ibadah haji. Di Bali sendiri, kerap kali anak usia di bawah 17 tahun menjalankan ibadah haji untuk menggantikan orang tuanya, seperti yang terjadi pada musim haji tahun ini di mana seorang anak berusia 14 tahun menjadi jemaah haji termuda Bali.
Simulasi Haji Komprehensif dan Pembentukan Karakter
Pendidikan manasik haji ini perdana dilakukan di sekolah dengan jumlah peserta yang besar, melibatkan 450 siswa terdiri dari PAUD, MI, dan MTs di Yayasan Mutiara Bunda Bali. Kegiatan ini mengambil waktu bersamaan dengan momen bulan haji, dengan harapan edukasi ini dapat tertanam sejak dini pada diri para siswa.
Pihak sekolah sendiri terlibat aktif dalam penyiapan area simulasi yang komprehensif. Area tersebut mencakup miniatur Ka’bah dan pelatarannya, Mas'a, simulasi Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah, Tawaf di depan Ka’bah, Sai, dan Tahalul. Menurut Kepala Yayasan Mutiara Bunda Bali, Sri Utami, semua prosesi ini disimulasikan seakan-akan berada di Tanah Suci, termasuk bacaan-bacaan saat dari Hajar Aswad ke Rukun Yamani.
Sri Utami menjelaskan bahwa tujuan dari simulasi ini adalah agar siswa memiliki gambaran ketika dewasa nanti akan melaksanakan ibadah haji. Lebih lanjut, ini juga merupakan penanaman karakter bagaimana mereka belajar bersabar, mengantre, dan memahami aturan yang berlaku. Ruang kelas bahkan digunakan sebagai hotel sesuai kloter, menambah kesan realistis simulasi.
Memperkuat Moderasi Beragama dan Tren Edukasi Haji di Bali
Mahmudi meyakini bahwa pengenalan manasik haji kepada siswa sekolah umum tidak akan menimbulkan masalah keberagaman, karena di Bali moderasi beragama sudah sangat baik. Ia menegaskan bahwa agama lain pun sangat bisa menerima, sebab haji merupakan salah satu rukun Islam yang penting. Pandangan ini menunjukkan bagaimana pendidikan keagamaan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai toleransi.
Pengetahuan manasik haji pada generasi muda saat ini dipandang penting juga mengingat tren yang mulai terlihat di Bali. Sebagai contoh, di Jembrana, sudah ada pembelajaran manasik haji yang bahkan memiliki miniatur Ka’bah, menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap edukasi ini.
Inisiatif Kanwil Kemenag Bali ini tidak hanya mempersiapkan generasi muda untuk ibadah haji, tetapi juga secara tidak langsung memperkuat pemahaman akan nilai-nilai keagamaan dan toleransi. Dengan edukasi yang tepat, diharapkan muncul generasi yang tidak hanya memahami rukun Islam, tetapi juga mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Sumber: AntaraNews