Kalsel Pulihkan Lahan Kritis 250 Hektare Melalui Program RBP REDD+ GCF
Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan (Kalsel) berhasil pulihkan lahan kritis seluas 250 hektare lewat Program RBP REDD+ GCF. Inisiatif ini didukung pendanaan internasional.
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengambil langkah signifikan dalam upaya pelestarian lingkungan. Mereka berhasil memulihkan 250 hektare hutan dan lahan kritis di wilayah tersebut. Inisiatif ini dijalankan melalui Program Result Based Payment (RBP) pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+).
Program pemulihan lahan kritis ini diluncurkan secara resmi pada Kamis, 27 November, di Cempaka, Banjarbaru. Penanaman perdana telah dilakukan bersama lembaga terkait pada lahan seluas 100 hektare. Kegiatan ini menandai komitmen Kalsel dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
Pemulihan lahan ini tersebar di lima lokasi strategis di Kalsel, termasuk Cempaka dan Banjang. Dukungan pendanaan internasional dari Green Climate Fund (GCF) menjadi pendorong utama. Ini adalah bentuk penghargaan atas keberhasilan Indonesia menurunkan emisi.
Dukungan Internasional dan Target Pemulihan Lahan Kritis
Kepala Dishut Kalsel, Fathimatuzzahra, menjelaskan bahwa program RBP REDD+ 2025 merupakan langkah awal rehabilitasi hutan dan lahan. Program ini didukung pendanaan internasional dari Green Climate Fund (GCF). Pendanaan tersebut adalah bentuk penghargaan atas keberhasilan Indonesia mengurangi emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan.
Fathimatuzzahra menyebutkan bahwa pelaksanaan RBP REDD+ 2025 mencakup total 250 hektare. Lokasi-lokasi tersebut tersebar di lima titik berbeda. Kelurahan Cempaka (Banjarbaru), Desa Banjang (Hulu Sungai Utara), Desa Limpasu (Hulu Sungai Tengah), Desa Baliangin (Kabupaten Banjar), dan Desa Gunung Sari (Kotabaru) menjadi fokus utama.
“Dukungan pendanaan RBP REDD+ GCF Output 2 sekitar Rp50 miliar adalah kepercayaan internasional yang harus dijawab dengan pelaksanaan yang tertib, transparan, dan akuntabel,” ujar Fathimatuzzahra. Pernyataan ini menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan dana. Dana ini diharapkan dapat mempercepat upaya pemulihan lahan kritis.
Strategi Penanaman dan Progres Pengurangan Lahan Kritis
Untuk tahap awal, penanaman dilakukan pada lahan seluas 27 hektare yang dibagi menjadi empat blok vegetasi. Dua blok didedikasikan untuk tanaman buah bernilai ekonomi tinggi. Tanaman seperti matoa, manggis, cempedak, dan alpukat dipilih untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Satu blok lainnya dikhususkan untuk tanaman endemik Ulin, yang merupakan spesies lokal penting. Sementara itu, satu blok sisanya ditanami Eukaliptus. Strategi ini bertujuan untuk memulihkan ekosistem secara menyeluruh serta memberikan manfaat ekonomi.
Provinsi Kalsel menunjukkan progres signifikan dalam upaya pengurangan lahan kritis. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas lahan kritis di Kalsel telah menurun drastis. Dari 511.594 hektare pada tahun 2018, kini menjadi 458.478 hektare pada tahun 2022.
Realisasi rehabilitasi melalui berbagai skema telah mencapai 168.086 hektare hingga Oktober 2025. Fathimatuzzahra menegaskan bahwa program RBP REDD+ 2025 ditargetkan untuk mempercepat pemulihan ekosistem. Selain itu, program ini juga diharapkan meningkatkan kualitas lingkungan bagi masyarakat di kawasan rentan.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Kalsel Hijau
Pelaksanaan program RBP REDD+ 2025 melibatkan berbagai pihak terkait. Kick off program ini dihadiri oleh pemerintah daerah, UPT Kementerian Kehutanan, serta masyarakat. Kelompok tani hutan dan berbagai pemangku kepentingan lingkungan juga turut serta.
Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam mewujudkan Kalsel yang lebih hijau. Keterlibatan aktif dari berbagai elemen masyarakat sangat penting. Ini memastikan keberlanjutan program dalam jangka panjang.
“Dengan pendekatan berbasis hasil, kami berkomitmen menjadikan program ini sebagai langkah strategis untuk mewujudkan Kalsel yang lebih hijau, tangguh, dan berketahanan lingkungan di masa depan,” tutup Fathimatuzzahra. Pernyataan ini menggarisbawahi visi jangka panjang. Program ini diharapkan membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat Kalsel.
Sumber: AntaraNews