Joko Anwar Hadapi Fobia Lubang Akut di Balik Poster "Ghost in the Cell"
Sutradara Joko Anwar dan produser Tia Hasibuan ternyata mengidap fobia lubang akut, atau trypophobia, yang justru menjadi inspirasi di balik visual mengerikan poster film "Ghost in the Cell".
Sutradara kenamaan Joko Anwar mengungkapkan pengalaman pribadinya menghadapi fobia lubang akut, atau trypophobia, saat menggarap poster film terbarunya, "Ghost in the Cell". Pengakuan ini disampaikan Joko Anwar di Jakarta pada hari Kamis, menarik perhatian publik terhadap makna di balik visual poster yang unik tersebut.
Joko Anwar tidak sendiri dalam menghadapi ketakutan ini; produser film, Tia Hasibuan dari Come and See Pictures, juga mengidap kondisi serupa. Keduanya sengaja menggunakan elemen visual lubang untuk menyampaikan pesan filosofis mendalam.
Film "Ghost in the Cell" sendiri dijadwalkan tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai tanggal 16 April mendatang. Penonton diajak untuk menyelami makna tersembunyi di balik setiap detail visual yang disajikan.
Makna Filosofis di Balik Visual Lubang Poster "Ghost in the Cell"
Joko Anwar menjelaskan bahwa visual lubang yang menyeramkan pada poster "Ghost in the Cell" bukan sekadar elemen horor, melainkan sebuah metafora kuat. Lubang-lubang tersebut merepresentasikan sistem sosial yang busuk dan telah mengakar dalam masyarakat.
Reaksi jijik yang mungkin dirasakan penonton saat melihat poster ini, menurut Joko, adalah refleksi dari kejenuhan terhadap sistem sosial tersebut. Ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi cerminan dari keresahan kolektif.
Lebih jauh, visual lubang pada tubuh karakter hantu dalam poster sebenarnya memiliki isi yang mendalam. Joko Anwar menyebutkan bahwa lubang-lubang itu mewakili semua karakter yang terpenjara oleh sistem tertentu. Mereka terjebak tanpa menyadari atau melihat sistem tersebut sebagai ancaman nyata.
Sutradara ingin menghadapi fobia lubang akut ini dengan menunjukkan sisi keindahan dari kengerian yang ditampilkan. Ia membayangkan bahwa setiap lubang tidak kosong, melainkan berisi bunga seroja atau tumbuhan. Tumbuhan ini menjadi simbol harapan di tengah kengerian yang ada.
Hantu dalam "Ghost in the Cell" sebagai Refleksi Realitas Sosial
Joko Anwar menegaskan bahwa sosok hantu dalam "Ghost in the Cell" bukan sekadar entitas mistis, melainkan representasi sisi terburuk manusia. Hantu ini muncul ketika manusia kehilangan harapan atau terlibat dalam tindakan korupsi.
Menurut Joko, "Hantu ini sebenarnya mewakili sesuatu yang tidak kita pahami. Kita sering melabeli sesuatu sebagai hantu atau ancaman kalau kita tidak paham. Kalau merasa jijik dengan itu, kita jijik sama keadaan di dalamnya. Itu poinnya," ungkap Joko Anwar.
Film ini memposisikan hantu sebagai kondisi psikologis negatif, bukan fenomena supranatural. Pendekatan ini mengajak penonton untuk melihat realitas sosial yang seringkali diabaikan atau tidak dipahami.
Melalui "Ghost in the Cell", Joko Anwar mengajak penonton untuk melihat realitas sosial dalam setiap karya seni. Ia memposisikan film sebagai sarana efektif untuk menyuarakan berbagai keresahan kolektif masyarakat.
Sumber: AntaraNews