Abimana Aryasatya dan Morgan Oey Ungkap Tantangan Syuting Adegan Laga di Film Ghost in the Cell

Pemeran utama film Ghost in the Cell, Abimana Aryasatya dan Morgan Oey, menceritakan pengalaman menantang dalam proses syuting adegan laga, termasuk adegan panjang 15 menit tanpa jeda yang menguras fisik dan mental.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Abimana Aryasatya dan Morgan Oey Ungkap Tantangan Syuting Adegan Laga di Film Ghost in the Cell
Pemeran utama film Ghost in the Cell, Abimana Aryasatya dan Morgan Oey, menceritakan pengalaman menantang dalam proses syuting adegan laga, termasuk adegan panjang 15 menit tanpa jeda yang menguras fisik dan mental. (AntaraNews)

Jakarta, 10 April 2026 – Film “Ghost in the Cell” yang dinanti-nantikan akan segera tayang, menampilkan Abimana Aryasatya dan Morgan Oey sebagai pemeran utama yang berbagi kisah di balik layar. Keduanya mengungkapkan tantangan signifikan yang mereka hadapi saat harus melakoni adegan laga, terutama satu adegan yang direkam selama 15 menit tanpa henti.

Abimana Aryasatya, yang memerankan karakter Anggoro, menjelaskan bahwa adegan perkelahian narapidana di penjara tersebut terbentang dalam 14 hingga 15 halaman skrip. Para pemeran dituntut untuk menampilkan seluruh adegan itu dari awal sampai akhir tanpa jeda, sebuah tugas yang membutuhkan stamina dan fokus luar biasa.

Sementara itu, Morgan Oey, pemeran Bimo, menambahkan bahwa ia harus belajar untuk menggabungkan unsur komedi dalam adegan laga. Menurutnya, komedi laga sangat berbeda dengan adegan laga biasa karena memerlukan ekspresi komikal untuk menambah kesan humor, menjadikannya tantangan tersendiri yang cukup sulit.

Tantangan Adegan Laga Tanpa Jeda di Ghost in the Cell

Abimana Aryasatya mengakui bahwa syuting adegan laga yang panjang merupakan pengalaman baru yang sangat menantang baginya. Ia menuturkan bahwa adegan tersebut tidak hanya dilihat dari aspek laganya saja, melainkan keseluruhan pengambilan gambar yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Adegan perkelahian narapidana di penjara yang mencapai 14 hingga 15 halaman skrip mengharuskan seluruh pemain untuk menampilkan performa tanpa henti. Ini menuntut konsentrasi tinggi dan fisik yang prima dari para aktor untuk menjaga intensitas sepanjang durasi adegan.

Abimana juga menegaskan bahwa keberhasilan adegan panjang ini adalah hasil kerja keras seluruh pemain dan kru. Dedikasi tim produksi sangat krusial dalam menyelesaikan pengambilan gambar yang kompleks dan memakan waktu.

Perpaduan Komedi dan Aksi dalam Ghost in the Cell

Morgan Oey, yang merasa bahwa naskah “Ghost in the Cell” akan menjadi kerja keras sejak pertama kali membacanya, menemukan kesulitan unik dalam adegan komedi laga. Ia menjelaskan bahwa adegan semacam ini membutuhkan ekspresi yang komikal untuk memperkuat efek humornya, sebuah aspek yang tidak ditemukan dalam adegan laga biasa.

Selain tantangan teknis, film ini juga membawa pesan mendalam. Aktor Endy Arfian, yang berperan sebagai narapidana bernama Dimas, berharap kaum muda, khususnya Generasi Z, dapat semakin menyadari keadaan setelah menyaksikan “Ghost in the Cell”.

Endy secara pribadi merasa tercerahkan setelah terlibat dalam film ini, menyatakan bahwa “Ghost in the Cell” sangat spesial baginya karena berhasil membuatnya sadar akan kondisi sekitar.

Metafora Penjara dan Produksi Fiktif Ghost in the Cell

Sutradara Joko Anwar mengembangkan cerita “Ghost in the Cell” selama tujuh tahun, dari 2018 hingga 2025, dengan mengambil inspirasi dari fenomena yang berkembang di masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan film untuk memiliki relevansi yang kuat dengan isu-isu sosial kontemporer.

Joko Anwar menggunakan penjara sebagai metafora utama dalam film ini untuk menggambarkan bagaimana sistem dapat membatasi ruang gerak warga. Metafora ini menyoroti bagaimana individu mungkin tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi di sekitar mereka karena batasan-batasan tersebut.

Untuk menciptakan suasana yang otentik, tim produksi membangun set fasilitas lembaga pemasyarakatan dari awal. Joko Anwar menjelaskan bahwa tempat penjara yang digunakan dalam film ini adalah fiktif, dirancang khusus untuk mendukung narasi dan visual film.

Film “Ghost in the Cell” arahan sutradara Joko Anwar dijadwalkan akan tayang di bioskop mulai 16 April 2026.

Dengan klasifikasi usia 17 tahun ke atas, film ini direkomendasikan khusus untuk teman-teman Generasi Z yang diharapkan dapat menemukan pesan dan kesadaran baru setelah menontonnya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi