Sutradara kenamaan Indonesia, Joko Anwar, baru-baru ini menjelaskan filosofi mendalam di balik pemilihan warna baju tahanan dalam film terbarunya, "Ghost in the Cell". Penjelasan ini disampaikan dalam sesi wawancara cegat setelah pemutaran film di Jakarta, Kamis (10/4/2026).
Film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 April 2026 ini, ternyata tidak hanya menyajikan ketegangan horor-komedi, tetapi juga pesan-pesan simbolis yang kuat. Pemilihan warna kuning untuk baju tahanan menjadi salah satu elemen penting yang ingin disampaikan Joko Anwar kepada penonton.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa warna kuning tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebuah representasi harapan. Harapan ini hadir di tengah-tengah gambaran dunia yang begitu kelam dalam cerita filmnya, memberikan kontribusi positif bagi masa depan.
Advertisement
Advertisement
Joko Anwar menjelaskan bahwa warna kuning pada baju tahanan di film "Ghost in the Cell" memiliki makna khusus. "Sebenarnya ini lebih ke moster. Lebih ke moster, ya kuning lah. Warna ini memberikan semacam harapan bagi dunia yang begitu kelam (dalam film)," katanya.
Sebelumnya, tim produksi sempat mempertimbangkan beberapa pilihan warna lain untuk baju tahanan. Pilihan warna biru dan hijau sempat menjadi perdebatan internal. Warna biru, yang dikenal menenangkan, akhirnya tidak dipilih karena dianggap kurang sesuai dengan konteks film.
Demikian pula dengan warna hijau, yang juga memiliki kesan menenangkan, namun Joko Anwar menuturkan bahwa dalam bahasa film, hijau sering diasosiasikan dengan korupsi. Hal ini sejalan dengan tema film yang juga menyentil sisi gelap kekuasaan dan sistem korup.
Advertisement
Advertisement
Joko Anwar menyisipkan pesan penting mengenai harapan dalam karya terbarunya ini. Ia menekankan bahwa meskipun seseorang bisa putus asa, tidak boleh putus asa 100 persen. "Pasti ada 10 persen yang masih punya harapan dan memberikan kontribusi positif bagi masa depan," ujarnya.
Pengembangan cerita "Ghost in the Cell" sendiri memakan waktu yang cukup panjang, yakni dari tahun 2018 hingga 2025. Proses ini didasari oleh pengamatan Joko Anwar terhadap fenomena yang berkembang dalam masyarakat.
Dalam film ini, penjara digunakan sebagai metafora yang kuat untuk menggambarkan bagaimana sistem dapat membatasi ruang gerak warga. Pembatasan ini pada akhirnya membuat mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya.
Advertisement
Film ini juga mengeksplorasi bagaimana kebenaran disembunyikan hingga akhirnya terungkap, serta menyoroti orang-orang biasa yang terjebak dalam sistem yang korup. "Ghost in the Cell" bukan sekadar horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang mendalam dengan refleksi sosial yang kuat.
Sumber: AntaraNews