Jaksa Agung Sebut Tidak Butuh Kejari yang Bodoh Tapi yang Berprestasi
Jaksa Agung menyinggung soal mutasi di Kejaksaan Tinggi.
Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin menyatakan, di dalam kejaksaan di Indonesia tidak butuh Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) yang bloon dan tidak memiliki prestasi.
Hal tersebut, dia sampaikan saat memberikan sambutan di Peresmian Gedung dan Fasilitas Kantor di Kejati Bali, Denpasar, Bali, pada Selasa (16/9) sore.
Awalnya, Jaksa Agung Burhanuddin bicara soal mutasi ada koordinator 4A atau jaksa dengan jabatan struktural di Kejaksaan Tinggi (Kejati) yang sudah 4 tahun tidak dimutasi dalam sudah lama bertugas di daerah.
"Saya menemukan koordinator di daerah yang sudah 4 tahun lebih, ini terjadi. Saya yang ketipu atau apa, nggak tau. Padahal selalu minta koordinator yang sudah 2 tahun ke atas (dimutasi) masih terjadi yang 4 tahun," kata dia.
"Terakhir yang mutasi kemarin itu ada yang 4,5 tahun. Artinya, saya tidak dikasih
informasi yang benar tentang lamanya bertugas koordinator. Kenapa koordinator dulu saya sampaikan, saya ingin mencoba 4A ini sangat banyak, kalau koordinator ini bergerak, semuanya teman-teman akan bergerak yang lainnya," imbuhnya.
Ia juga menerangkan, dalam satu kali mutasi seperti memutasi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) di daerah itu ada rangkaiannya ada 7 ke bawah. Dan tentu satu kali mutasi itu bergeraknya banyak.
"Karena di dalam satu mutasi. Kita misalnya, mutasi satu Kejati dimutasi, rangkaiannya itu 7 ke bawah. Artinya kalau ada mutasi pasti bergeraknya banyak, saya betul-betul menyesal kok 4,5 tahun. Tetapi ada juga yang 1 tahun sudah bergerak, kan ini Innalilahi gitu," ujarnya.
"Saya benar-benar dikecoh. Kemarin, saya sampaikan ke Karopeg (Kepala Biro Kepegawaian), nggak begini
caranya. Saya mengharapkan teman-teman, tolong saya sedang menatanya untuk merubah, sudah 5 tahun saya berusaha," jelasnya.
Ia menyebutkan, bahwa pertama dirinya masuk ke Kejaksaan Agung, yang menjadi fokus utama ialah sumber daya manusia. Karena, banyak jaksa yang seharusnya berprestasi dan pintar itu talentanya malah tenggelam karena tidak diberikan kesempatan.
"Banyak teman-teman yang tenggelam, kasihan. Padahal mereka pinter, punya talenta tapi tenggelam karena usianya dan tidak diberi kesempatan untuk berprestasi," jelasnya.
Jaksa Agung Burhanuddin juga menyatakan, hingga saat ini pihaknya mengaku masih menemukan Kejari yang masih oon atau bloon. Padahal ada masih ada Kejari dan Kepala Seksi (kasi) di kejaksaan yang pintar.
"Sampai sekarang pun, saya pernah menemukan sesuatu Kejari yang masih oon gitu- loh. Mohon maaf, masih ada Kejari, Kasi-kasi yang pinter, kan dipaksakan gitu, karena sudah pangkat yang 4A. Mungkin, saudaranya siapa, atau temannya siapa, iya dipaksakan jadi Kejari. Saya nggak akan mau lagi yang gitu, yang saya mau adalah yang betul-betul berprestasi, punya otak. Mohon maaf, saya agak kasar sedikit," ungkapnya.
Ia kembali menyatakan, bahwa dia tidak butuh Kejari yang bloon yang tau-nya hanya uang. Sementara, saat ini Kejaksaan Agung sedang membangun bank talent atau kumpulan orang-orang yang berprestasi di kejaksaan.
"Tapi kenyataannya begitu, sudah oon nggak ngerti apa-apa, yang ngerti duit saja. Kita
sedang membangun bank talent yang kita mengharapkan bank ini bisa memenuhi keinginan teman-teman," ujarnya.
"Saya juga tidak menginginkan dan saya tidak memutasi orang yang mengenal saya. Mengenal saya pun untuk apa,? kalau oon atau bloon. Saya tidak akan memberikan kesempatan, yang saya berikan kesempatan adalah betul-betul manusia adhyaksa yang pinter punya integritas," ungkapnya.
Ia menyebutkan, kejaksaan saat ini sedang membangun bank talent dan dia meminta kepada seluruh Kejati di seluruh Indonesia, kalau mengusulkan tolong dilihat dulu, apakah mereka memiliki prestasi dan pintar.
"Saya selalu meminta seluruh Kejati sebenarnya. Kalau mengusulkan orang, tolonglah lihat dulu. Ini pak, ini pak. Padahal cuma kenal dekat saja, saya tidak mau."Pak anak ini berprestasi tolong,". Enggak ini, setiap Kejati mau pindah, puluhan orang diusulkan, artinya Itu bukan karena prestasi tapi ewuh pakewuh, enggak enak kalau enggak diusulkan permintaannya. Nah kalau semua pimpinan masih berpikiran begitu, iya hancur kejaksaan," ujarnya.