Iran Siap Bentuk Komite Investigasi Serangan Iran dengan Negara Regional
Teheran menyatakan kesiapan untuk membentuk komite investigasi serangan Iran bersama negara-negara regional guna mengungkap sifat target dan keterlibatan AS, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu (15/3) menyatakan kesiapan Teheran untuk membentuk komite investigasi bersama dengan negara-negara regional. Komite ini bertujuan untuk menentukan sifat target yang telah diserang serta hubungan serangan tersebut dengan Amerika Serikat. Pernyataan penting ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan surat kabar The New Arab (Al-Araby Al-Jadeed).
Langkah diplomatik ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang signifikan di kawasan, menyusul serangan gabungan Israel dan AS terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut mengakibatkan sekitar 1.200 korban jiwa, termasuk pemimpin tertinggi Iran kala itu, Ayatollah Ali Khamenei, memicu balasan keras dari Teheran.
Iran telah membalas serangan tersebut dengan melancarkan gempuran drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan siklus kekerasan yang semakin memanas di Timur Tengah.
Tuduhan Keterlibatan AS dan Israel dalam Serangan Regional
Dalam wawancara tersebut, Araghchi menegaskan bahwa serangan balasan Iran secara spesifik menargetkan “pangkalan dan kepentingan AS di wilayah tersebut.” Ini merupakan respons langsung terhadap serangan terhadap Teheran yang dilancarkan dari fasilitas-fasilitas tersebut. Pernyataan ini mengindikasikan adanya dugaan kuat keterlibatan pihak asing dalam konflik yang terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran tersebut juga mengungkapkan bahwa Teheran telah memperoleh informasi intelijen yang menunjukkan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan dari lokasi-lokasi tertentu. Lokasi-lokasi ini berada di wilayah negara-negara Arab, memperkeruh situasi geopolitik di kawasan. Ia menekankan bahwa Iran belum pernah menargetkan area sipil atau permukiman di negara-negara tersebut.
Araghchi menambahkan ancaman serius bahwa Iran akan menargetkan perusahaan-perusahaan Amerika di wilayah tersebut jika fasilitas minyak Iran menjadi sasaran serangan. Ancaman ini akan direalisasikan, menunjukkan potensi perluasan konflik ke sektor ekonomi. “Jika fasilitas energi kami menjadi sasaran, kami juga akan menargetkan fasilitas perusahaan-perusahaan Amerika di wilayah tersebut,” katanya.
Klaim Drone “Lucas” dan Upaya Mediasi Diplomatik
Diplomat senior Iran itu juga mengklaim bahwa Amerika Serikat telah mengembangkan drone yang sangat mirip dengan drone Shahed milik Iran, yang dinamakan “Lucas.” Drone ini, menurut Araghchi, digunakan untuk menyerang target di negara-negara Arab, meskipun informasi tersebut masih dalam proses peninjauan. Klaim ini menambah kompleksitas narasi perang teknologi di kawasan.
Meskipun ketegangan memuncak, Araghchi memastikan bahwa komunikasi dengan negara-negara tetangga tetap berlangsung aktif. Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Oman terus menjalin kontak diplomatik dengan Iran. Ini menunjukkan adanya saluran komunikasi yang terbuka di tengah krisis.
Araghchi juga mencatat bahwa beberapa negara regional sedang melakukan upaya mediasi yang intensif. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan mengusulkan ide-ide konkret untuk mengakhiri perang secara menyeluruh. Iran sendiri menyatakan kesiapan untuk mempertimbangkan usulan apa pun yang dapat memastikan “pengakhiran perang secara menyeluruh.”
Sumber: AntaraNews