Inovasi Indonesia Melonjak di GII 2025: Kinerja Luar Biasa Lampaui Perkembangan Ekonomi
Inovasi Indonesia menunjukkan taringnya di Indeks Inovasi Global (GII) 2025 dengan menduduki peringkat 55, bahkan melampaui tingkat perkembangan ekonominya.
Indonesia mencatatkan prestasi gemilang dalam Indeks Inovasi Global (GII) 2025, berhasil menempati peringkat ke-55 dari total 139 negara yang dinilai. Capaian signifikan ini menunjukkan peningkatan delapan peringkat pada aspek keluaran inovasi, dari posisi 67 menjadi 59.
Peningkatan kinerja ini menempatkan Indonesia dalam kategori "overperformer", sebuah predikat bagi negara yang memiliki performa inovasi melampaui tingkat perkembangan ekonominya. Hal ini mengindikasikan efektivitas riset dan pengembangan di tanah air.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menekankan bahwa riset di Indonesia semakin produktif dan berdampak. Namun, tantangan ke depan adalah memperkuat input inovasi, termasuk pendanaan riset dan kontribusi industri.
Peningkatan Peringkat dan Status Overperformer Inovasi
Indonesia berhasil menunjukkan lonjakan signifikan dalam Indeks Inovasi Global (GII) 2025, naik ke peringkat 55 secara keseluruhan. Peningkatan ini didorong oleh performa kuat pada aspek keluaran inovasi yang naik delapan posisi. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai "overperformer" di kancah global.
Status "overperformer" menandakan bahwa ekosistem inovasi Indonesia mampu menghasilkan output yang melampaui ekspektasi berdasarkan tingkat perkembangan ekonominya. Ini adalah indikator positif bagi keberlanjutan pembangunan nasional.
Fauzan Adziman dari Kemdiktisaintek menegaskan bahwa peningkatan ini mencerminkan produktivitas dan dampak riset yang semakin terasa. Namun, penguatan input inovasi tetap menjadi prioritas untuk mencapai ekosistem yang lebih seimbang.
Alokasi Pendanaan Riset untuk Prioritas Nasional
Kemdiktisaintek melalui Ditjen Risbang telah menyalurkan sekitar Rp2 triliun dana riset sepanjang tahun 2025. Pendanaan ini dialokasikan secara strategis untuk mendukung berbagai program prioritas nasional.
Sebanyak 51 persen dana riset disalurkan kepada Perguruan Tinggi Negeri (PTN), sementara 49 persen sisanya diberikan kepada Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Alokasi ini bertujuan untuk mendorong pemerataan kesempatan riset.
Fokus pendanaan riset mencakup delapan industri strategis, yaitu pangan, energi, kesehatan, maritim, pertahanan dan ketahanan bencana, digitalisasi, manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap sektor-sektor kunci.
Dorongan Hilirisasi dan Kemitraan Inovasi Global
Ditjen Risbang tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga mendanai 16.836 kegiatan riset dan 6.340 kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat basis ilmiah dan sosial.
Dorongan hilirisasi inovasi juga terlihat dari 796 produk riset yang berhasil dikembangkan. Selain itu, terdapat 929 kerja sama dengan 624 mitra industri, termasuk kemitraan internasional.
Kemitraan global terjalin dengan negara-negara seperti Australia, Belanda, Prancis, dan Inggris, yang menunjukkan pengakuan internasional terhadap potensi inovasi Indonesia. Porsi riset yang didanai PTS juga meningkat signifikan menjadi 62,2 persen pada 2025.
Capaian Indikator Kinerja dan Komitmen Berkelanjutan
Berbagai indikator kinerja menunjukkan capaian yang melampaui target yang ditetapkan. Pemetaan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) mencapai 84 lembaga, melebihi target 78.
Dampak publikasi internasional juga meningkat dengan rasio sitasi 1,89 dan h-index 349, melampaui target masing-masing. Ini menunjukkan kualitas riset Indonesia semakin diakui dunia.
Dari sisi hilirisasi, penerimaan Science Techno Park (STP) tercatat Rp93,8 miliar, jauh melampaui target Rp50 miliar. Paten granted juga mencapai 18.006, melebihi target 17.500.
Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus memperkuat peran riset dan inovasi sebagai penggerak pembangunan nasional. Tujuannya adalah menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews