Anggaran Riset Nasional Turun Drastis, Pengamat: Kunci Indonesia Emas 2045 Ada di Riset!
Anggaran riset nasional Indonesia mengalami pemangkasan signifikan, padahal pengamat menilai penguatan riset adalah motor utama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Mengapa hal ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah?
Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI) Yulian Paonganan menyoroti pentingnya penguatan riset nasional. Ia menyatakan riset merupakan motor penggerak kemajuan bangsa di berbagai sektor krusial. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Rabu, 2 Oktober, sebagai respons terhadap kondisi anggaran riset di Indonesia.
Menurutnya, tanpa riset yang kuat dan berkelanjutan, cita-cita besar Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai secara optimal. Yulian Paonganan, yang akrab disapa Ongen, menegaskan bahwa kemajuan pesat negara-negara besar di Asia berawal dari sistem riset yang solid dan terencana. Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mengambil langkah revolusioner untuk memperbaiki sistem riset nasional.
Penguatan riset ini bukan hanya sekadar investasi, melainkan sebuah keharusan strategis untuk memastikan daya saing dan inovasi bangsa. Langkah proaktif dalam bidang riset akan menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia di masa depan.
Peran Krusial Riset dalam Kemajuan Bangsa
Yulian Paonganan menekankan bahwa revolusi industri dan kebangkitan negara maju tidak terjadi secara tiba-tiba. Semua itu merupakan hasil dari serangkaian riset panjang dan berkelanjutan yang menjadi fondasi utama bagi inovasi dan perkembangan di berbagai sektor. Riset yang kuat mampu memicu kemajuan di berbagai bidang.
Menurut pria yang akrab disapa Ongen ini, riset yang kuat mampu memicu kemajuan di berbagai bidang. Ini termasuk pendidikan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), teknologi, industri energi, hingga stabilitas perekonomian nasional. Investasi dalam riset sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Contoh nyata dapat dilihat pada negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan kini China. Mereka berhasil menjadi kekuatan global karena sejak awal telah membangun sistem riset nasional yang sangat solid dan terencana. Investasi dalam riset telah terbukti memberikan dampak positif yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Anggaran Riset Menurun, Kekhawatiran Terhadap Indonesia Emas 2045
Data yang dimiliki Yulian Paonganan menunjukkan adanya pemangkasan tajam pada anggaran riset nasional. Penurunan ini terjadi setelah pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebuah kondisi yang memprihatinkan bagi masa depan inovasi bangsa. Angka ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kemampuan Indonesia bersaing di kancah global.
Pada tahun 2017, anggaran riset masih mencapai sekitar Rp24,9 triliun atau 0,2 persen dari PDB. Namun, angka ini turun drastis menjadi Rp3,1 triliun pada 2022 dan hanya Rp2,2 triliun pada 2023. Persentase terhadap PDB kini hanya 0,01 persen, menunjukkan penurunan yang sangat signifikan dalam alokasi dana untuk riset.
Perbandingan dengan negara tetangga menunjukkan kesenjangan yang mencolok. Malaysia mengalokasikan 0,95 persen PDB untuk riset, Thailand 0,40 persen, dan Singapura bahkan mencapai 1,89 persen. Angka Indonesia jauh di bawah standar regional, mengindikasikan kurangnya prioritas pada sektor ini.
"Revolusi industri adalah kebangkitan dunia menjadi negara maju, dan itu tidak datang tiba-tiba tapi melalui serangkaian riset panjang," kata Yulian dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Rabu. Ia berharap pemerintah dapat menaruh perhatian lebih terhadap lini riset ini untuk mencapai kemajuan yang diharapkan.
Mendesak Langkah Revolusioner untuk Riset Nasional
Dengan data yang menunjukkan penurunan anggaran riset, Ongen berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius dan mengambil tindakan nyata. Penguatan badan riset negara diyakini akan membuka jalan menuju kemajuan yang lebih luas dan berkelanjutan. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan menguntungkan seluruh lapisan masyarakat.
Pencapaian visi Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara dalam berinovasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Tanpa dukungan riset yang memadai, target ambisius tersebut akan sulit untuk diwujudkan secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kuat dari pemerintah.
"Pemerintah harus segera mengambil langkah revolusioner untuk memperbaiki sistem riset nasional demi Indonesia Emas 2045," tutur Yulian. Ini adalah seruan untuk tindakan konkret dan perubahan kebijakan yang mendasar, bukan hanya sekadar wacana. Langkah ini mencakup peningkatan alokasi anggaran, pengembangan infrastruktur riset, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia peneliti. Investasi jangka panjang pada riset akan memastikan Indonesia memiliki daya saing global dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Sumber: AntaraNews