Ini Dua Sosok Penting Pencetus Hari Buruh 1 Mei, Perjuangannya Enggak Main-Main
Hari Buruh Internasional tidak lepas dari tokoh-tokoh yang memperjuangkan hak buruh.
Hari Buruh Internasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei, merupakan simbol perjuangan dan solidaritas kaum buruh di seluruh dunia. Peringatan ini tidak memiliki satu pencetus tunggal, melainkan merupakan hasil dari serangkaian peristiwa dan keputusan kolektif yang berakar pada perjuangan kaum buruh di abad ke-19.
Salah satu peristiwa kunci yang memicu penetapan 1 Mei sebagai Hari Buruh adalah demonstrasi besar-besaran di Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1886. Dalam aksi tersebut, ribuan buruh melakukan mogok kerja untuk menuntut penerapan delapan jam kerja per hari, sebagai reaksi terhadap kondisi kerja yang buruk dan upah yang rendah.
Kerusuhan Haymarket yang terjadi setelah demonstrasi tersebut menjadi titik balik penting dalam sejarah buruh, di mana aksi damai berubah menjadi kekerasan dan menimbulkan korban jiwa. Meskipun tidak ada satu tokoh yang dapat disebut sebagai 'pencetus' tunggal, peristiwa ini menjadi katalis penting dalam perjuangan buruh. Sebagai bentuk solidaritas dan untuk mengenang perjuangan para pekerja, Kongres Sosialis Internasional di Paris pada tahun 1889 secara resmi menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional (May Day).
Keputusan ini diambil oleh federasi internasional kelompok sosialis dan serikat buruh, menjadikan 1 Mei sebagai hari peringatan bagi para pekerja di seluruh dunia. Tokoh-tokoh seperti Peter McGuire dan Matthew Maguire juga berperan penting dalam gerakan buruh awal di Amerika Serikat, memimpin mogok kerja dan menyerukan jam kerja delapan jam. Singkatnya, Hari Buruh Internasional adalah hasil dari perjuangan kolektif kaum buruh dan keputusan internasional, dengan peristiwa Haymarket sebagai titik balik penting yang mendorong penetapan tanggal tersebut.
Perjuangan dan Profil Tokoh Pencetus Hari Buruh
Perjuangan untuk menetapkan Hari Buruh Internasional berakar dari gerakan serikat buruh yang muncul pada abad ke-19. Para tokoh seperti Peter McGuire dan Matthew Maguire memainkan peran penting dalam mengorganisir mogok kerja dan menyerukan perlunya jam kerja yang lebih manusiawi.
Peter J. McGuire (1852–1906) adalah anak imigran Irlandia, lahir di New York. Ia keluar sekolah pada usia 11 tahun untuk bekerja setelah ayahnya bergabung dengan Tentara Union selama Perang Saudara AS. McGuire menjadi aktivis buruh, pendiri United Brotherhood of Carpenters (1881), dan salah satu pendiri American Federation of Labor (AFL) bersama Samuel Gompers.
McGuire mengusulkan ide Labor Day pada 1882 di pertemuan Central Labor Union di New York. Ia menyarankan hari libur untuk menghormati pekerja, diisi dengan parade jalanan untuk menunjukkan kekuatan organisasi buruh, diikuti piknik dan perayaan.
Inspirasi McGuire konon datang dari perayaan buruh di Toronto, Kanada, pada Juli 1882, yang ia hadiri sebagai pembicara. Terkesan dengan parade tersebut, ia mengusulkan perayaan serupa di AS pada 5 September 1882, yang menjadi Labor Day pertama di New York, menarik 10.000–25.000 peserta.
McGuire aktif dalam gerakan buruh, memimpin pemogokan besar pada 1886 dan 1890 untuk hari kerja 8 jam, yang membantu menjadikan isu ini agenda nasional. Ia juga mendorong pendirian AFL, yang memperkuat gerakan buruh AS.
Sementara itu, Matthew Maguire (1850–1917) adalah seorang masinis dari Paterson, New Jersey, dan aktivis buruh keturunan Irlandia. Ia menjabat sebagai sekretaris Local 344 of the Machinists and Blacksmiths Union dan Central Labor Union di New York pada 1882.
Penelitian terbaru, termasuk dari New Jersey Historical Society, menunjukkan bahwa Maguire kemungkinan adalah pencetus sejati Labor Day. Pada 1882, sebagai sekretaris Central Labor Union, ia mengirim undangan untuk parade Labor Day pertama pada 5 September 1882 dan memimpin parade bersama istrinya dari kereta utama.
Maguire memimpin pemogokan pada 1870-an untuk memperjuangkan minggu kerja yang lebih pendek, meningkatkan kesadaran publik tentang kondisi kerja buruk di sektor manufaktur. Ia juga terlibat dalam politik sosialis, menjabat sebagai anggota dewan kota di Paterson dan mencalonkan diri sebagai wakil presiden AS pada 1896 dengan Partai Buruh Sosialis.
Sejarah Hari Buruh menunjukkan bahwa perjuangan para pekerja tidak hanya terbatas pada satu negara, tetapi merupakan gerakan global. Dalam konteks ini, Hari Buruh Internasional menjadi simbol solidaritas bagi para pekerja di seluruh dunia. Setiap tahun, aksi unjuk rasa dan kegiatan diadakan untuk mengekspresikan aspirasi dan tuntutan para pekerja, termasuk di Indonesia.
Hari Buruh juga menjadi momentum untuk membangun dialog antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Ini adalah langkah penting dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih fleksibel dan berdaya saing di Indonesia. Dengan demikian, peringatan Hari Buruh bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebuah pengakuan atas kontribusi dan jasa yang diberikan oleh para pekerja.
Secara keseluruhan, Hari Buruh Internasional adalah peringatan yang menggambarkan perjuangan panjang kaum buruh untuk mendapatkan hak-hak mereka. Melalui peringatan ini, kita diingatkan akan pentingnya menghargai setiap kontribusi yang diberikan oleh para pekerja dalam pembangunan dan kemajuan masyarakat.