Ibu Bayi Nyaris Tertukar Somasi RSHS Bandung, Minta Tes DNA dan Suster Dipecat
Somasi tersebut diajukan sebagai langkah hukum atas dugaan peristiwa yang dialami kliennya di fasilitas kesehatan tersebut.
Nina Saleha yang sempat nyaris kehilangan bayinya karena diduga tertukar, melalui kuasa hukumnya melayangkan surat somasi kepada Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Somasi tersebut diajukan sebagai langkah hukum atas dugaan peristiwa yang dialami kliennya di fasilitas kesehatan tersebut.
Kuasa Hukum Nina, Krisna Murti, menegaskan kliennya dan pihak rumah sakit belum sepakat untuk berdamai. Maka dari itu, informasi yang beredar mengenai sudah adanya perdamaian tidaklah benar.
Krisna membenarkan pihak rumah sakit sudah menyampaikan permintaan maaf dan kliennya sudah menerima permintaan maaf itu. Namun, adanya permintaan maaf tak semata menghilangkan unsur pidana yang kemungkinan terjadi dalam kasus itu.
Perdamaian
Jikapun memang ada perdamaian, Krisna menuturkan, mestinya ada semacam dokumen resmi yang menjadi bukti adanya perdamaian. Namun, dokumen itu tidak pernah ada.
"Klien kami belum pernah melakukan permintaan atau kesepakatan damai dengan pihak rumah sakit," katanya di RSHS Bandung pada Senin (13/4).
Dalam kesempatan itu, Krisna pun membantah pernyataan dari pihak rumah sakit mengenai kronologi kejadian yang menimpa kliennya. Hal pertama yang dibantah yakni pernyataan soal kliennya yang telah menandatangani surat kepulangan.
"Karena menunggu terlalu lama dan surat tersebut masih dipegang oleh klien kami, akhirnya klien kami datang ke ruangan tersebut. Ketika sampai di sana, bayinya tidak ada," ucap dia.
Intimidasi
Lalu, hal lain yang dipertanyakan yakni terkait petugas sekuriti rumah sakit yang diduga malah melakukan intimidasi terhadap kliennya, bukan malah mengadang para pelaku yang membawa bayi kliennya. Padahal, para pelaku diduga melakukan tindak pidana penculikan.
"Ketika ditanya mengenai dugaan unsur pidana, kami menyampaikan bahwa dugaannya adalah percobaan penculikan bayi atau kemungkinan adanya transaksi tertentu," kata dia.
Maka dari itu, untuk memperjelas kasus itu, Krisna meminta agar segera dilakukan tes DNA terhadap bayi kliennya untuk memastikan bayi itu merupakan anak dari kliennya. Selain itu, proses tes DNA harus diawasi oleh tim yang independen.
Lalu, pihaknya juga meminta agar suster yang memberikan bayi kliennya ke orang lain tak hanya dikenakan sanksi dinonaktifkan tapi dipecat dari jabatannya. Selain itu, pihaknya juga meminta agar CCTV rumah sakit dibuka.
"Kami juga menyampaikan bahwa tidak cukup hanya menonaktifkan suster yang terlibat. Kami meminta agar dilakukan pemecatan, karena tindakan tersebut sangat serius," ujar dia.
Surat Somasi
Kini, surat somasi sudah dilayangkan kepada RSHS Bandung. Jika dalam kurun waktu tiga hari tak ada tanggapan atas surat somasi tersebut, maka pihaknya bakal menempuh jalur hukum.
"Apabila surat tersebut tidak dibalas atau tidak ada upaya untuk mengungkap peristiwa ini, maka kami akan melanjutkan perkara ini ke ranah hukum," ujar dia.
Perawat yang Menyerahkan Bayi Nina
Sebelumnya diberitakan, perawat yang menyerahkan bayi Nina ke orang lain dinonaktifkan dari jabatannya dan dipindah ke bagian yang tak berurusan langsung dengan pasien. Perawat itu juga dikenakan sanksi Surat Peringatan (SP) 1.
Adapun Nina bercerita peristiwa itu terjadi pada Rabu (8/4). Ketika itu, anaknya yang baru saja dilahirkan hendak pulang usai dimandikan dan dipakaikan baju. Namun, hingga jadwal yang sudah ditentukan, Nina tak kunjung dipanggil oleh pihak rumah sakit untuk membawa anaknya pulang.
Selama menunggu di ruang tunggu, Nina berkenalan dengan seorang wanita yang juga hendak membawa anaknya pulang. Namun, berbeda dengan Nina, wanita itu diminta menunggu lebih lama oleh pihak rumah sakit karena ada masalah pada bagian paru-paru anaknya.
Setelah berbincang singkat dengan wanita itu, Nina memutuskan untuk ke lantai bawah rumah sakit untuk mencari makan karena belum ada juga panggilan dari pihak rumah sakit untuk membawa anaknya.
Namun, tak lama berada di lantai bawah, Nina memutuskan kembali ruang tunggu karena firasatnya tak enak. Benar saja, setibanya di sana, dia mendapati anaknya sudah digendong oleh wanita yang sempat berbincang dengannya di ruang tunggu dan hendak membawa anaknya ke luar area rumah sakit. Dia pun langsung menegur wanita itu.
Wanita itu mengaku menerima anaknya dari seorang suster. Ketika dicek, gelang yang jadi pertanda anaknya sudah digunting oleh suster itu. Dia sempat bertanya alasan suster itu menggunting gelang anaknya dan menitipkan anaknya ke orang lain tapi tak mendapat jawaban yang memuaskan.
Setelah ramai dibahas di media sosial, Nina mengaku sudah dihubungi pihak RSHS Bandung. Namun, pihak rumah sakit baru menyampaikan permintaan maaf saja.