Heboh Akar Pohon Beringin Semburkan Air Bersih di Tangerang, Warga Berduyun-duyun Berebut untuk Minum
Fenomena langka ini menjadi daya tarik masyarakat setempat dan mengaitkan peristiwa itu dengan cerita bahwa air tersebut telah berada sejak ratusan tahun lalu.
Warga Desa Tapos, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, dibuat gempar dengan hilir mudik warga antusias mendatangi pohon beringin menyemburkan sumber air bersih dari bagian akarnya.
Fenomena langka ini menjadi daya tarik masyarakat setempat dan mengaitkan peristiwa itu dengan cerita lama wilayah sekitar yang diyakini air tersebut telah berada sejak ratusan tahun lalu.
Terlebih warga juga meyakini bahwa lokasi yang menjadi tempat penemuan sumber air bersih ini, dulunya kerap dijadikan tempat bertapa oleh seorang leluhur yang disebut Ki Buyut Gamparan.
“Ceritanya bergitu,” kata Usep.
Usep, warga setempat menyebutkan jika kehadiran warga mendatangi lokasi pohon beringin itu terjadi beberapa pekan terakhir. Setelah ramai di beberapa grup media warga warga terus berduyun-duyun mengambil air dari akar pohon tersebut.
"Sudah beberapa minggu ini ramai didatangi warga. Mereka rela antre untuk bisa membawa pulang air ini," kata Usep, Rabu (2/7).
Kondisi Air
Dari pantauan di lokasi, air yang dipancarkan dari akar pohon beringin itu terlihat sangat jernih dan bersih selain air yang terpancar juga sangat melimpah. Sementara situasi sekitar lokasi memang sangat rindang dipenuhi beberapa pohon-pohon bambu besar yang menambah suasana sejuk dan asri.
Seorang ibu rumah tangga warga setempat yang ikut mengantre air bersih itu mengaku mengambil air dari akar pohon beringin itu untuk kebutuhan rumah tangganya.
"Sengaja bolak-balik buat keperluan di rumah, saya pakai untuk kebutuhan masak, minum, mandi. InsyaAllah enggak ada masalah," ujar Tinah, warga Tapos.
Menurut dia, air yang diyakini memiliki keistimewaan dibanding air tanah lain tidak boleh dikonsumsi hewan. Menurut dia, air tersebut sempat berhenti menyembur setelah diminum seekor kerbau dan kerbau tersebut mati setelahnya.
"Warga meyakini kalau air dari dalam akar beringin ini hanya untuk manusia, untuk dikonsumsi, atau aktivitas lainnya, karena ada kerbau sempat mati sehabis minum dari sini, dan airnya juga sempet berhenti mengalir," jelas dia.
Pendapat Ahli
Dosen pendidikan Geografi UHAMKA, Mushoddik Daulay, berpendapat bahwa kemunculan air jernih dari akar pohon beringin di Desa Tapos bukanlah peristiwa gaib, melainkan bagian dari proses alami yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
“Air tersebut sejatinya adalah air tanah dangkal yang mengalir dan tertahan oleh struktur akar pohon besar seperti beringin, bambu, atau aren. Ketika tekanan air tanah cukup tinggi dan menemukan celah yang tepat seperti rongga akar air pun keluar ke permukaan membentuk mata air atau pancuran kecil,” jelas dia.
Menurut ayah tiga anak ini, pohon tidak secara aktif mengeluarkan air, melainkan menyediakan jalur keluarnya aliran air tanah.
“Ini bukan karena sifat pohon sebagai penyimpan air, melainkan karena posisinya berada di jalur aliran air bawah permukaan. Karena itu, fenomena ini bisa terjadi di tempat lain yang memiliki kondisi geomorfologi dengan kemiringan tertentu, dan daerah resapan air yang baik,” kata Mushoddik.
“Namun, ada catatan penting jika daerah tangkapan atau resapan air terganggu, seperti karena penebangan pohon, penutupan lahan, atau pembangunan yang tidak ramah lingkungan, maka aliran air tanah dapat terganggu. Mata air seperti ini pun bisa kering dan menghilang. Di sinilah letak pelajaran pentingnya menjaga vegetasi dan ruang resapan bukan hanya untuk mencegah banjir, tetapi juga untuk mempertahankan ketersediaan air bersih,” tandas Mushoddik.