Manfaatkan Kearifan Lokal, Begini Cara Warga Desa di Kendal Jaga Kelestarian Air
Mereka membuat kesepakatan bersama agar air di Tuk Serco terus mengucur sepanjang massa
Mereka membuat kesepakatan bersama agar air di Tuk Serco terus mengucur sepanjang massa
Foto: Indonesia.go.id
Manfaatkan Kearifan Lokal, Begini Cara Warga Desa di Kendal Jaga Kelestarian Air
Masyarakat adat di Nusantara memiliki beragam cara untuk menjaga kelestarian air dengan berbagai pendekatan. Hal tersebut dapat ditemui salah satunya di Dusun Ngijo, Desa Purwogondo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Di daerah itu, mereka menjalankan kearifan lokal demi menjaga kelestarian sebuah mata air bernama Tuk Serco. Agar air tetap mengalir sepanjang masa, mereka membuat kesepakatan bersama agar air di Tuk Serco terus mengucur.
Kesepakatan itu adalah, mereka memilih beberapa jenis tanaman keras seperti pohon petai, durian, melinjo, dan sengon untuk ditanam di lahan sekitar mata air. Tanaman keras dipilih karena akarnya mampu mengikat dan menyimpan air.
Tak hanya itu, masyarakat juga membuat kesepakatan mengenai kriteria atau syarat pohon yang dapat ditebang. Misalnya tinggi batang pohon sudah melebihi 30 meter, diameter batang lebih dari 80 sentimeter, dan usia pohon di atas 40 tahun. Setiap batang pohon yang telah ditebang harus dicarikan penggantinya yaitu bibit dari tanaman sejenis untuk ditanam kembali.
Semua itu dilakukan demi Tuk Serco karena debit air mata air itu tidak pernah menyurut sepanjang waktu. Dikutip dari Indonesia.go.id, debit mata air itu tercatat mencapai 12 liter per detik atau lebih dari satu juta liter per hari. Bahkan saat masuk musim kemarau, debit air di Tuk Serco tetap mengucur deras.
Untuk menjaga agar air di Tuk Serco tidak tercemar, mereka bersepakat untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitar mata air. Mereka menggelar ritual secara rutin dan tidak mengubah titik aliran air.
Penduduk juga dilarang membersihkan peralatan makan minum dan alat-alat dapur di kolam mata air karena dapat mencemari lingkungan. Mereka pun juga dilarang mendirikan bangunan baik itu bangunan permanen maupun semi permanen di sekitar aliran air.
Tradisi atau pelaksanaan ritual-ritual khusus dilakukan masyarakat Dusun Ngijo di Tuk Serco setiap tahun sebelum memasuki Bulan Ramadan.
Mereka melakukan Nyadran, yaitu menggelar doa sambil membawa sesaji. Dalam doanya, mereka memohon pada Sang Pencipta agar Tuk Serco selalu mengalirkan air bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, masyarakat Dusun Ngijo juga secara rutin merawat saluran dan pipa-pipa paralon yang mengalirkan air di Tuk Serco sembari mengecek kondisi hutan perbukitan di belakang desa yang menjadi lumbung pasokan mata air.
Mereka melakukannya secara sukarela karena tak ingin kehilangan manfaat besar dari mata air yang spesial itu.