Hasto Menangis Saat Baca Pleidoi, Kutip Pesan Bung Karno dan Megawati dengan Suara Bergetar
Terdakwa Hasto Kristiyanto sempat menangis saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi.
Terdakwa Hasto Kristiyanto sempat menangis saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam sidang lanjutan kasus suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI Harun Masiku dan perkara perintangan penyidikan.
Dua kali Hasto menitikkan air mata, pertama saat mengulas warisan semangat perjuangan Presiden Soekarno untuk membangun Indonesia.
"Sebab Bung Karno mengatakan ‘bahwa revolusi belum selesai’ dan Ibu Megawati Soekarnoputri telah berseru lantang pada tahun 1993 bahwa ‘Bendera sudah saya kibarkan, pantang untuk diturunkan'," tutur Hasto dengan suara bergetar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2025).
Kemudian yang kedua, Hasto kembali menangis saat menceritakan sejarah PDIP yang berperan sebagai penjaga demokrasi bagi rakyat tertindas. Dia pun mengingat peristiwa penyerangan kantor PDI pada 27 Juli 1996 atau Kudatuli.
"Apapun risikonya partai terus memimpin pergerakan rakyat. Partai digerakkan oleh ide dan cita-cita bagi kemerdekaan agar keadilan dan kemakmuran rakyat dapat diwujudkan. Di dalam PDI Perjuangan selalu menyala dengan jiwa perjuangan. Dalam sejarahnya pula ketika rezim otoriter berkuasa selama 32 tahun lamanya, PDI berperan penting sebagai suluh demokrasi. PDI Perjuangan menjadi harapan rakyat tertindas dan wahana bagi suara-suara kritis," jelas dia sambil terisak.
"PDI Perjuangan mencoba dihancurkan melalui dualisme kekuasaan dengan campur tangan negara secara langsung yang berujung pada peristiwa 27 Juli 1996 yang sebentar lagi akan kami peringati," sambungannya.
Cerita Sejarah PDIP
Hasto sempat berhenti membacakan nota pembelaanya untuk menghela nafas dan menahan tangis. Dia kemudian melanjutkan dengan semangat PDIP yang tetap setia pada demokrasi, di tengah tantangan pragmatisme politik yang semakin menguat.
"Sejarah penindasan akhirnya melahirkan PDI Perjuangan. Partai ini selalu setia pada jalan demokrasi meskipun pada periode 2004-2014, pragmatisme politik semakin menguat. Pada periode ini, eksistensi partai sepertinya hanya mewujud apabila menjadi bagian pemerintahan. Dalam periode ini PDI Perjuangan terus melakukan konsolidasi ideologi, organisasi, kader, dan sumber daya kepartaian," Hasto menandaskan.