Gubernur Sumsel soal Keluarga Pasien Paksa Lepas Masker Dokter: Boleh Bermaafan, Tapi Proses Hukum Jalan Terus
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru geram dengan tindakan kasar keluarga pasien terhadap seorang dokter RSUD Sekayu, Musi Banyuasin.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru geram dengan tindakan kasar keluarga pasien terhadap seorang dokter RSUD Sekayu, Musi Banyuasin. Dia mendukung penuh kasus ini dilaporkan ke polisi.
Herman Deru menyebut langkah hukum yang diambil dr Syahpri Putra Wangsa sudah sangat tepat. Sebab tindakan keluarga pasien di luar batas kewajaran.
"Saya mengecam kejadian itu. Secara personal bermaafan boleh, tapi secara hukum harus tetap jalan" ungkap Gubernur Sumsel Herman Deru, Selasa (19/8).
Deru mengatakan, aksi keluarga pasien bisa saja membuat dokter menjadi takut mengabdi di luar daerah, apalagi di tempat yang jauh dari pusat kota. Padahal yang menjadi korban adalah dokter spesialis yang sangat dibutuhkan tenaganya.
"Itu dokter spesialis yang mau mengabdi di daerah dan harus dihargai. Kok ini malah masih ada yang berlaku tidak wajar," kata Deru.
Deru meminta penyidik segera menyelesaikan penyelidikan hingga status hukumnya ditingkatkan. Dia tak ingin keamanan tenaga medis terancam jika tidak tuntas.
"Saya sudah perintahkan Dinkes Sumsel mengawal kasus ini," kata Deru.
Diberitakan sebelumnya, dr Syahpri Putra Wangsa dimaki dan dipaksa membuka masker oleh keluarga pasien TBC di RSUD Sekayu. Peristiwa itu viral di media sosial setelah akun @perawat_peduli_palembang memposting videonya.
Dalam rekaman video, dokter Syahpri yang melakukan visit ke pasien perempuan yang mengidap TBC di ruang VIP. Dokter konsultan bidang Nefrologi itu justru mendapat perlakuan kasar dari keluarga pasien.
Mereka emosi dan menyebut dokter tersebut bertele-tele merawat ibunya.
"Ini dokter ini, ibu saya disuruh tunggu dahak. Tiap hari tunggu dahak, sedikit-sedikit tunggu dahak. Hasil rontgen, hasil rontgen, kita masuk sini biar pelayanan layak. Kita sewa ruang VIP ini untuk pelayanan. Pelayanan yang bagus, pelayanan yang layak. Bukan sekadar disuruh nunggu. Kalau disuruh nunggu kita bisa pakai BPJS. Kita enggak mau pakai BPJS, enggak mau dimain-mainkan seperti. Kamu ini. Kamu paham ya? Kamu harus paham ya," ungkap seorang pria perekam video, Rabu (13/8).
Pria itu mencecar dokter karena dinilainya pelayanan yang didapatkan tidak sesuai dengan kamar VIP yang sudah disewa untuk perawatan. Dia merasa dokter tersebut tidak optimal memberikan pelayanan medis.
"Ini nyawa, ini emak saya, ini nyawa, jangan kamu kayaknya kesannya main-main. Kamu berdalih dengan menjelaskan hasil rontgen, menunggu air ludah. Ada semua prosedur, saya juga orang sekolah. Ngerti nggak. Dengar nggak? saya juga orang sekolah, cuma kalau hasil rontgen, hasil rontgen, bukan begitu. Saya minta tindakan yang pasti. Kamu bilang ini ruangan sangat layak sangat bagus, mana layaknya ini? Ini plafonnya begini, kamu bilang layak ini," sambung dia.
Kemudian, datang pria lagi dari belakang yang memaksa dokter tersebut membuka masker. Ia kemudian dipaksa untuk menjelaskan penyakit ibunya dan ingin mengetahui wajah si dokter.
"Buka masker, ini nah dokternya. Dokter apa bagian apa, ngomong! Jelasin dekat ibu saya, jelasin sudah tiga hari ini kita masuk ruangan VIP cuma memperlihatkan hasil rontgen, ini dokternya ini. Pulang ke mana kamu?" kata pria itu dengan kasar.
Meski mendapat perlakuan kasar, dokter tetap tenang dan berusaha menjawab keluhan keluarga pasien.
"Jadi ibunya ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadar. Dengan gula darah yang sangat rendah, kemudian tekanan darahnya tidak terkontrol, kemudian kita lakukan pemeriksaan, didapatkan rongent dan adanya gambaran indu trek atau gambaran pecah di paru-paru kanan," kata si dokter.
"Kamu tahu indu trak itu apa?" tanya perekam video.
"Gambaran khas dari penyakit TBC," jawab dokter.
Meski sudah mendapatkan jawaban dari dokter, keluarga pasien nyatanya kurang puas. Mereka kembali marah-marah karena menilai tak ada pelayanan perawatan yang cepat karena setiap hari hanya dilakukan pemeriksaan dahak dan hasil rongent.
"Ini dokter gila, karena saya sudah berapa tahun hidup, orang ngecek TBC harus dari apa?" tanya pria itu.
"Dahak," jawab dokter.