Frugal Living Diprediksi Bertahan Lama, Generasi Muda Makin Selektif Konsumsi
Tren Frugal Living diprediksi akan bertahan jangka panjang di Indonesia. Generasi muda yang semakin sadar finansial dan selektif dalam konsumsi menjadi pendorong utama gaya hidup hemat ini.
Antropolog Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menilai tren frugal living atau gaya hidup hemat memiliki potensi besar untuk bertahan dalam jangka panjang di Indonesia. Prediksi ini didasari oleh meningkatnya kesadaran finansial serta pola konsumsi yang lebih selektif di kalangan generasi muda.
Meskipun tren estetika frugal living, seperti gaya berpakaian minimalis, dapat berubah seiring dinamika tren yang cepat, prinsip inti efisiensi dan konsumsi rasional kemungkinan besar akan tetap relevan. Hal ini sejalan dengan perubahan gaya hidup dan tuntutan ekonomi yang terus bergerak cepat.
Peningkatan kesadaran finansial di kalangan anak muda, terutama dalam menabung dan membuat anggaran, menjadi kunci keberlangsungan tren ini. Mereka kini lebih rasional dalam mengatur pengeluaran dan menentukan prioritas finansial.
Kesadaran Finansial dan Gig Economy Dorong Frugal Living
Prof. Semiarto menjelaskan bahwa kesadaran finansial yang semakin tinggi di masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi faktor utama. Generasi muda kini lebih fokus pada pengelolaan keuangan, termasuk menabung dan membuat anggaran yang cermat.
Kondisi ini diperkuat oleh pola kerja gig economy yang kini banyak dijalani generasi muda. Pekerjaan berbasis proyek atau lepas seringkali menghasilkan pendapatan yang tidak stabil, sehingga menuntut mereka untuk lebih bijak dalam pengeluaran. Fenomena gig economy ini mengubah cara pandang generasi muda terhadap uang dan pekerjaan.
Fluktuasi pendapatan dalam gig economy membuat generasi muda harus lebih selektif dalam menentukan prioritas belanja. Mereka dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang kadang berlimpah, kadang pula minim, serta menghadapi biaya hidup perkotaan yang terus meningkat.
Prioritas Bergeser: Pengalaman Lebih Penting dari Kepemilikan
Pergeseran prioritas konsumsi juga menjadi pendorong kuat tren frugal living. Generasi muda saat ini cenderung lebih mengutamakan pengalaman dan kesejahteraan (well-being) daripada kepemilikan aset.
“Prioritas sekarang memang bukan pada kepemilikan, tapi pada pengalaman dan well being,” kata Semiarto. Hal ini tercermin dari keputusan mereka untuk menikmati fasilitas tanpa harus memiliki secara permanen.
Sebagai contoh, masyarakat dapat memilih untuk menyewa apartemen atau menggunakan layanan transportasi daring premium, alih-alih membeli properti atau kendaraan mewah. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka mengalokasikan dana untuk hal lain yang dianggap lebih penting.
Estetika Frugal Living yang Dinamis dan Prinsip Efisiensi yang Abadi
Semiarto juga menggarisbawahi perbedaan antara frugal living sebagai tren estetika dan sebagai prinsip efisiensi. Aspek estetika, seperti gaya berpakaian minimalis atau tampilan visual yang sederhana, mungkin akan berubah lebih cepat seiring dinamika tren.
“Yang mungkin berubah cepat adalah frugal living sebagai tren estetika,” ujarnya. Namun, prinsip dasar efisiensi dan konsumsi selektif diprediksi akan tetap bertahan. Hal ini didorong oleh munculnya etika baru di masyarakat urban yang mulai menghindari perilaku konsumsi berlebihan.
Masyarakat urban, khususnya, semakin adaptif terhadap tekanan ekonomi perkotaan dan biaya hidup yang terus naik. Oleh karena itu, praktik efisiensi akan tetap tinggi karena didukung oleh faktor-faktor struktural yang ada dan kesadaran akan dampak konsumsi berlebihan.
Sumber: AntaraNews