FOTO: TV di Era Digital, Bertahan atau Bertransformasi?
Diskusi Publik Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Universitas Indonesia, Depok, Jumat (7/11/2025).
Dunia televisi sedang diuji. Pemirsa makin banyak pindah ke platform digital, iklan ikut terseret, dan cara orang menikmati hiburan pun berubah total. Tantangannya jelas: bertahan dengan cara lama atau bertransformasi jadi lebih dinamis. Hal itu mengemuka dalam Diskusi Publik Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Universitas Indonesia, Depok, Jumat (7/11/2025), yang mengangkat tema “Platform Digital dan Penyiaran: Peluang atau Ancaman.
Sekjen Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Gilang Iskandar menilai kehadiran platform digital seperti pedang bermata dua. Satu sisi jadi ancaman karena iklan dan penonton beralih ke dunia online, tapi di sisi lain membuka peluang baru lewat kolaborasi dan jangkauan yang lebih luas. Menurutnya, TV harus memanfaatkan digital sebagai saluran tambahan. Lewat strategi multiplatform, televisi bisa hadir di berbagai perangkat, dari layar besar hingga smartphone, sambil menghadirkan konten kreatif dan iklan yang lebih segar. “Yang penting, TV harus tetap relevan dengan penonton sekarang,” ujarnya.
Kuncinya, lanjut Gilang, ada pada kualitas konten, kecepatan informasi, dan inovasi program.Ia juga mendorong pemerintah untuk menyiapkan regulasi yang ramah inovasi, mulai dari pengelolaan frekuensi digital hingga kemudahan perizinan. Dengan dukungan kebijakan yang adaptif, TV bisa bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya.Meski begitu, televisi masih punya keunggulan tersendiri: kontennya tak digerakkan algoritma dan tetap sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.
“Lembaga penyiaran tetap penting, karena jadi bagian dari kedaulatan budaya dan ekonomi kita,” tegas Gilang.Di tengah derasnya arus digital, televisi kini ditantang untuk tak hanya jadi tontonan, tapi juga pengalaman, yang relevan, dekat dan tetap Indonesia banget..