FHCI Soroti Pentingnya Penguatan Pengalaman Karyawan di Era AI untuk Produktivitas Berkelanjutan
Forum Human Capital Indonesia (FHCI) menekankan urgensi penguatan Pengalaman Karyawan di Era AI, membahas peran teknologi dalam pengelolaan sumber daya manusia, dan strategi adaptasi untuk menjaga produktivitas serta inovasi.
Forum Human Capital Indonesia (FHCI) baru-baru ini menyoroti pentingnya penguatan pengalaman karyawan di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI). Diskusi ini berlangsung dalam acara FHCI Connect Expert Series 9 di Jakarta pada Kamis (9/4). Acara tersebut bertujuan untuk membahas peran krusial AI dalam mendukung pengelolaan sumber daya manusia.
Peningkatan kebutuhan organisasi untuk mempertahankan produktivitas tinggi sekaligus memastikan kualitas pengalaman karyawan menjadi fokus utama. FHCI Connect Expert Series 9 mengusung tema “Reigniting Employee Experience in the Age of AI”. Hal ini menunjukkan komitmen FHCI dalam menghadapi tantangan transformasi digital.
Melalui forum ini, FHCI berharap dapat memperkuat kolaborasi antar Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tujuannya adalah mengembangkan sumber daya manusia yang adaptif dan siap menghadapi perubahan berbasis AI. Inisiatif ini krusial untuk memastikan kesiapan tenaga kerja di masa depan.
Fokus FHCI pada Pengalaman Karyawan dan AI
FHCI secara konsisten menekankan bahwa pengalaman karyawan adalah faktor kunci dalam keberhasilan adopsi AI. Forum ini menjadi wadah strategis untuk berbagi pandangan dan praktik terbaik di antara para pemimpin SDM BUMN. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan kerja yang mendukung inovasi.
Diskusi mendalam dalam FHCI Connect Expert Series 9 menggarisbawahi bahwa AI bukan hanya alat teknis. AI juga merupakan katalisator untuk mendefinisikan ulang interaksi karyawan dengan pekerjaan mereka. Hal ini mencakup bagaimana mereka belajar, berkolaborasi, dan berkontribusi.
Kolaborasi antar BUMN menjadi esensial dalam upaya ini. Dengan berbagi pengetahuan dan sumber daya, perusahaan-perusahaan pelat merah dapat mempercepat pengembangan talenta. Mereka juga dapat membangun ekosistem yang mendukung adaptasi terhadap teknologi AI secara efektif.
Strategi Implementasi AI untuk Efisiensi dan Keamanan Data
Direktur IT Digital PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Faizal Rochmad Djoemadi, menyampaikan pandangannya mengenai implementasi AI. Ia menekankan bahwa penerapan AI harus memberikan manfaat yang terukur seiring dengan investasi yang dikeluarkan. Pengukuran dilakukan melalui indikator seperti efisiensi, produktivitas, kecepatan pengambilan keputusan, pengurangan kesalahan manusia, serta peningkatan inovasi.
Faizal juga menyoroti pentingnya pengelolaan akses dalam penggunaan AI untuk menjaga keamanan data internal perusahaan. Aspek keamanan data internal perusahaan menjadi prioritas utama. Ia mendorong peningkatan literasi AI di lingkungan kerja serta pergeseran dari digital native menuju AI native.
“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi, manusia yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak,” ujar Faizal. Pernyataan ini menegaskan bahwa adaptasi terhadap AI adalah kunci untuk tetap relevan di masa depan.
Pengembangan Kompetensi dan Kesiapan Tenaga Kerja di Era AI
Wakil Ketua FHCI, Hadjar Seti Adji, yang juga Direktur Human Capital dan Transformasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, menekankan pendekatan berbasis pengalaman karyawan. Pendekatan ini krusial dalam pengelolaan SDM di era AI. Pemanfaatan platform pembelajaran digital menjadi strategi utama.
Integrasi platform seperti LinkedIn Learning dengan platform internal WIKAdemy membantu pengembangan kompetensi karyawan. Hal ini juga mendukung peningkatan karier secara lebih terarah. Kebutuhan akan keterampilan baru yang terus meningkat dapat diatasi melalui inisiatif ini.
Melalui platform itu, integrasi tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas pembelajaran yang signifikan. Kenaikan akses materi tercatat sebesar 14 persen, penyelesaian kursus 23 persen, serta peningkatan frekuensi login harian mencapai 40 persen. Data ini membuktikan efektivitas pendekatan tersebut.
Senior Program Manager LinkedIn, Monique Tugas, turut menyoroti percepatan perubahan kebutuhan keterampilan di dunia kerja seiring perkembangan teknologi. Data LinkedIn Economic Graph memprediksi sekitar 70 persen keterampilan dalam pekerjaan akan berubah pada 2030. Oleh karena itu, perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang aman dan berbasis kepercayaan, serta berfokus pada dampak dan hasil kinerja. Investasi dalam reskilling dan upskilling juga sangat penting untuk memastikan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan.
Sumber: AntaraNews