Di IdeaFest 2025, Kolaborasi AI dan Manusia Jadi Topik Utama
Para pembicara di IdeaFest 2025 menekankan pentingnya kolaborasi manusia dan AI, bukan persaingan, dalam menghadapi masa depan digital.
Keberadaan Artificial intelligence (AI) kini menjadi perbincangan di seluruh industri. Teknologi ini disebut mampu memberikan efisiensi pada proses bisnis dan kreatif.
Momentum ini pun dijadikan sesi diskusi spesial di acara IdeaFest2025 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (31/10).
Dalam sesi yang bertajuk Beyond Boundaries: Optimizing Human & AI potential ini, terdapat empat pembicara yakni Irzan Raditya, CEO & Co-Founder, kata.ai; Henri Setiawan, Senior Advisor Digital Business, Telkom Indonesia; Jeffrey Nijstad, Chief Strategy Officer, FCN (Future Creative Network); dan Rhesa Dwi Prabowo, Executive Director, Semesta Business.
Irzan Raditya, CEO & Co-Founder, kata.ai mengatakan, harus diakui keberadaan AI saat ini begitu membantu manusia dalam melalukan pekerjaannya. Termasuk para pekerja dalam menyelesaikan tugasnya.
"74 persen pekerja Indonesia itu pakai AI. Padahal perusahaan tidak memintanya," jelasnya.
Hal senada dengan Jeffrey Nijstad. Chief Strategy Officer, Future Creative Network (FCN) menuturkan bahwa AI punya peran besar dalam industri kreatif. Mulai konseptualisasi, produksi video, dan masih banyak lagi.
Pahami 5 Hal Penting soal AI
Sementara itu, Executive Director, Semesta Business, Rhesa Dwi Prabowo mengatakan pentingnya memahami AI maturity tools. Ini penting agar tahu tujuan yang akan dilakukan dengan teknologi ini. Menurutnya ada 5 hal yang wajib diketahui.
Pertama, Awareness. Pada tahap ini, orang sudah mengetahui keberadaan dan potensi AI, tetapi belum melakukan tindakan nyata. Mereka masih sebatas mencoba-coba secara kreatif tanpa arah yang jelas. Kesadaran sudah ada, namun belum maksimal.
“Kedua, eksperimen. Fase ini ditandai dengan mulai adanya percobaan atau pilot project menggunakan AI, baik di lingkungan kerja maupun kehidupan pribadi. Namun, skalanya masih kecil, terisolasi, dan belum menjadi bagian dari sistem kerja utama.
Lalu ketiga, integrasi. Di tahap ini, AI mulai diintegrasikan ke dalam unit bisnis tertentu, misalnya di divisi pemasaran, penjualan, atau operasional. Penggunaan AI sudah lebih terarah dan mulai dioptimalkan dalam fungsi-fungsi spesifik.
Kemudian, optimalisasi. Organisasi mulai melakukan scale up penggunaan AI lintas divisi dan unit. Manfaatnya mulai dirasakan secara menyeluruh.
Misalnya, dalam dunia perbankan, sistem credit scoring berbasis AI sudah diterapkan, tetapi tetap diawasi oleh analis manusia untuk memastikan akurasi dan kewajaran data.
Manusia berperan sebagai guardrails atau gatekeeper agar keputusan yang dihasilkan AI tetap rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Terakhir, tahap tertinggi adalah AI transformation, ketika AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi sudah menyatu dalam budaya organisasi. Pengambilan keputusan dan cara kerja di semua level telah berorientasi pada pemanfaatan AI secara berkelanjutan,” jelasnya.
Jangan Merasa Jumawa
Hanya saja, menurut Henri Setiawan, Senior Advisor Digital Business, Telkom Indonesia meski saat ini AI sedang menjadi teknologi baru, manusia jangan merasa jumawa. Alias tahu tentang segala hal hanya berdasarkan dari AI.
“Paling berbahaya di sini dengan AI adalah kita merasa diri kita itu super power. Enggak mau dengerin orang lain. Udah ada chatbot kok, nanti saya bisa lihat pakai chatbot. Saya bisa tahu, saya bisa belajar, saya bisa apa saja. Bikin iklan, bikin apapun yang kita mau,” kata Henri.
“Akibatnya apa? Ada kesombongan diri yang muncul di situ. Yang menyebabkan ketidak hati-hatian terhadap apa yang kita lakukan. Karena itu bukan kompetensi kita. Ini yang perlu diwaspadai,” tambahnya.