Dokter Ungkap Kondisi Bunga, Siswi SMK Cihampelas yang Muntah-Muntah dan Meninggal saat Dirujuk RSUD Cililin
Bunga sempat mengalami muntah-muntah hebat, sebelum dinyatakan meninggal dalam perjalanan saat dirujuk ke RSUD Cililin.
Seorang siswi SMK 1 Cihampelas di Kabupaten Bandung Barat, Bunga Rahmawati (17) meninggal pada Selasa (30/9) lalu. Bunga sempat mengalami muntah-muntah hebat, sebelum dinyatakan meninggal dalam perjalanan saat dirujuk ke RSUD Cililin.
Kepala IGD RSUD Cililin, Dwi Anggitasari Puspita mengatakan, Bunga tiba di RSUD Cililin sekitar pukul 13.30 WIB, dengan ambulans desa. Dwi mengungkap kondisi saat Bunga tiba di RSUD Cililin.
"Posisinya datang ke IGD RSUD Cililin itu sudah dalam keadaan pucat, kemudian tampak kebiruan, tidak terlihat adanya pergerakan napas. Kemudian kita melakukan pemeriksaan sudah tidak ada denyut jantung dan dari pupilnya juga sudah tampak midriasis total," ujar Dwi saat dihubungi wartawan, Kamis (30/2).
Menurut Dwi, pihak RSUD Cicilin sempat melakukan Elektrokardiogram (EKG). Namun tidak ditemukan arus kelistrikan dalam tubuh almarhum.
"Sudah dibuktikan juga dengan pemeriksaan EKG memang sudah asistol dan kami nyatakan di tempat bahwa pasien memang dead on arrival atau meninggal dalam di perjalanan,” kata dia.
Bunga Tidak Tercatat Siswa Keracunan MBG
Dwi mengatakan bahwa sejumlah siswa dari sekolah almarhum mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG, pada Rabu (24/9). Namun Dwi memastikan, Bunga sendiri tidak tercatat dalam daftar siswa keracunan diduga usai menyantap MBG.
“Sehingga tidak bisa melihat track-recordnya memang ada penyakit bawaan sebelumnya,” ujar dia.
Soal dugaan mengalami dehidrasi dan gejala keracunan makanan atau penyakit pemicu lainnya, menurut Dwi, dari informasi dihimpun pihak keluarga, Bunga tidak punya gejala penyakit serius.
"Informasi yang kita dapat dari keluarga ketika dilakukan anamnesa (pengumpulan riwayat medis pasien) di IGD memang tidak ada penyakit bawaan hanya ada gastritis atau maag gitu,” kata Dwi.
Dwi melanjutkan, pihak RSUD Cililin belum dapat mengungkap penyebab pasti kematian almarhum. Pemeriksaan lebih lanjut secara forensik lewat autopsi perlu dilakukan untuk itu. Namun, Dwi menyampaikan bahwa pihak keluarga telah menolak hal tersebut.
“Memang informasi yang kita dapat waktu di IGD memang menolak dilakukan autopsi,” kata dia.
Keluarga Ungkap Kronologi Bunga Meninggal Dunia
Kematian Bunga membetot perhatian publik lantaran sempat menyantap sajian MBG pada Rabu (24/9). Sejumlah siswa di sekolahnya pun mengalami keracunan pada hari tersebut. Tapi kondisi Bunga pada hari itu baik baik saja.
Hal itu dikonfirmasi paman Bunga, Nanang (53). Dia mengungkapkan bahwa keponakannya bahkan menyantap dua porsi MBG, mesti tak menjelaskan bagaimana mendapatkannya.
Kondisi Bunga, menurut Nanang, baik-baik saja di hari-hari setelah peristiwa keracunan di sekolahnya. Bahkan, hingga Senin (29/9) dia masih bisa berangkat sekolah, hanya saja pulang lebih awal karena mengeluh pusing dan keluarga menyangka dia hanya masuk angin. Namun kondisi memburuk. Pada Selasa (30/9) dini hari, ia menurut Nanang sempat muntah-muntah. Ia pun tidak berangkat sekolah pada hari itu.
Untuk diketahui, Bunga merupakan anak kedua dari pasangan Agus Saepul Basar dan Siti Nurhayati. Almarhumah tinggal bersama ketiga saudaranya. Ibunya bekerja di Arab Saudi dan ayahnya bekerja sebagai sopir ekspedisi di Tangerang.
Nanang menyebut, di rumahnya, saat hari itu korban hanya tinggal dengan adik bungsunya yang balita. Sebab, kakaknya sedang bekerja dan adik Bunga yang satu lagi bersekolah.
Keadaan yang memprihatinkan dengan bekas muntahan di kamarnya, pertama kali ditemukan oleh adiknya sepulang sekolah. Nanang pun membawa Bunga bersama ke bidan. Namun, kondisinya mengharuskan penanganan di rumah sakit.
Dia pun lantas menelepon pihak desa, untuk meminta bantuan ambulans. Rencananya, Bunga akan dibawa ke RSUD Cililin. Namun, nyawanya tak tertolong saat di perjalanan.
“Saya feeling di jalan udah enggak ada. Soalnya dipangkuan saya pisan, kan sambil pegang oksigen. Tapi sempet masuk RSUD, dicek. Petugas di sana gak lama bilang kalau udah gak tertolong,” tutur dia.
Terkait insiden ini ia bilang, dirinya tak menyalahkan pihak manapun. Menurutnya pihak keluarga telah menganggap itu sebagai musibah.
“Iya keluarga menolak autopisi. Udah saja, musibah,” kata Nanang.