Indonesia Gandeng ASEAN dan Korsel, Luncurkan Proyek Tekan Emisi Gas Metana
Proyek ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas metana, yang diketahui memiliki potensi kerusakan 30 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Proyek pengurangan emisi gas metana resmi diluncurkan di Indonesia. Proyek mitigasi gas metan di kawasan ASEAN ini bertajuk ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM).
Peluncuran proyek tersebut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Jumhur Hidayat, Duta Besar Republik Korea untuk ASEAN Lee Chul, Kepala Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia Rowan Fraser, serta Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial-Budaya (ASCC) H.E. San Lwin.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Jumhur mengatakan, proyek AKCMM menjadi bentuk kerja sama antarnegara-negara ASEAN bersama Korea Selatan (Korsel) untuk menekan emisi gas metana yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan.
"Ini bagus sekali karena ini merupakan usaha keras bersama, terutama di ASEAN dan sekarang ada di Indonesia, untuk mengurangi reduksi gas metan ini,” kata Jumhur di Le Meridien Hotel, Jakarta Pusat, Kamis (21/5)
Menurut dia, gas metana memiliki daya rusak terhadap lapisan ozon 28 hingga 30 kali lebih besar dibanding karbon dioksida sehingga mitigasi perlu dilakukan secara serius.
“Gas metan ini bisa merusak ozon 28 sampai 30-an kali lebih besar ketimbang karbon dioksida,” ujar dia.
Sumber Metana di Indonesia
Jumhur menyebut sumber utama emisi metana di Indonesia berasal dari tempat pembuangan sampah terbuka atau open dumping serta limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).
Karena itu, pemerintah mulai mempercepat pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi dan listrik di berbagai daerah.
“Ada sekitar 34 daerah aglomerasi yang akan menggunakan waste to energy atau waste to electricity. Hal itu kira-kira mencakup sekitar 113 sampai 114 kota dan kabupaten di Indonesia,” jelas Jumhur.
Jumhur mengatakan bahwa pemerintah pusat kini akan mengambil peran lebih besar agar penanganan emisi metana dapat dilakukan secara terintegrasi dan masif.
"Pembiayaan proyek AKCMM, nantinya akan dilakukan melalui skema investasi. “Ini bisnis. Jadi orang berinvestasi karena dia bisa jualan listrik,” kata dia.
Sementara itu, Duta Besar Republik Korea untuk ASEAN, Lee Chul, mengatakan proyek AKCMM menjadi salah satu bentuk nyata penguatan kemitraan strategis antara Korea Selatan dan ASEAN dalam menghadapi krisis iklim global.
“Kerja sama iklim dan lingkungan telah menjadi salah satu pilar terpenting dari kemitraan ini,” ujar Lee Chul.
Ia menyebut proyek AKCMM merupakan proyek tunggal terbesar yang didanai ASEAN-Korea Cooperation Fund (AKCF) dengan total anggaran mencapai US$20 juta atau setara Rp320 miliar
“Di antara proyek AKCF yang sedang berjalan, inisiatif ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM) menonjol sebagai proyek tunggal terbesar yang didanai AKCF, dengan total anggaran sebesar US$20 juta,” katanya.
Lee Chul menilai peluncuran proyek di Indonesia menjadi penting karena Indonesia merupakan salah satu aktor utama dalam upaya penanganan perubahan iklim di ASEAN.
“Upacara peluncuran hari ini di Indonesia sangat penting karena Indonesia merupakan aktor kunci dalam upaya kolektif ASEAN memerangi perubahan iklim,” ujar dia.