Keracunan MBG Kembali Terjadi di Bandung Barat, Siswa SMPN Cisarua Bertumbangan Usai Keluhkan Ayam Bau

Kebanyakan dari korban mendapat penanganan di posko darurat yang didirikan oleh sekolah

Robby Bouceu
Oleh Robby Bouceu - Reporter
Keracunan MBG Kembali Terjadi di Bandung Barat, Siswa SMPN Cisarua Bertumbangan Usai Keluhkan Ayam Bau
Siswa SMPN 1 Cisarua, KBB, mendapat penanganan medis di posko karena mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG, pada Selasa (14/10). (merdeka.com)

Peristiwa keracunan massal diduga usai menyantap sajian Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dialami siswa di SMPN 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa (14/10). Kebanyakan dari korban mendapat penanganan di posko darurat yang didirikan oleh sekolah.

Salah satunya Sarmila (12) siswa kelas 7 SMPN Cisarua. Di atas velbed posko sekolah, tampak gadis itu menangis saat hendak diberikan penangan infus oleh petugas medis. Sebelumnya, terlihat Sarmila yang masih mengenakan seragam Pramuka muntah-muntah.

Ibunya, Wulan (32) mengatakan gejala tersebut dirasakan anaknya sekitar pukul 15.00 WIB. Kala itu putrinya telah pulang sekolah dan ada di rumah. Wulan menceritakan anaknya tak langsung mengalami gejala mual bahkan sempat mengobrol untuk beberapa saat.

Namun, putrinya kemudian mendadak mual-mual dan muntah. Ia pun segera membawanya ke posko sekolah.

“Pulang sekolah jam tiga. Di rumah diam dulu sempat ngobrol-ngobrol. Mual langsung muntah langsung dibawa ke sini,” ucapnya saat dijumpai di SMPN 1 Cisarua.

Menurutnya Wulan, putrinya mengalami gejala tersebut setelah menyantap sajian MBG di sekolah. Namun, tidak langsung merasakan mual.

“Katanya ayamnya bau, sama nasinya masih panas langsung ditutup,” ucap dia.

Siswa SMPN 1 Cisarua, KBB, mendapat penanganan medis di posko karena  mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG, pada Selasa (14/10).
Siswa SMPN 1 Cisarua, KBB, mendapat penanganan medis di posko karena mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG, pada Selasa (14/10). merdeka.com

Dengan adanya kejadian ini, ia pun merasa was-was dengan pembagian MBG di sekolah. Terlebih, kejadian keracunan massal sebelumnya terjadi juga di wilayah KBB tepatnya di Kecamatan di Cipongkor dan Cihampelas dengan korban sedikitnya 1.315 siswa.

“Iya (was-was). Harapannya diganti aja MBG-nya sama snack,” ungkapnya.

Sementara itu, Plh. Camat Cihampelas Herman mengungkap, hingga sekitar pukul 17.30 WIB ada sebanyak 115 siswa yang tercatat sebagai pasien.

Dari angka tersebut, sebanyak 11 orang ditangani di posko sekolah, 56 dirujuk ke puskesmas Cisarua, RSUD Lembang, dan RS Cibabat, sedangkan 48 diperbolehkan pulang usai mendapat perawatan medis.

Herman mengaku pihaknya telah mendapat instruksi dari Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail guna memantau sekolah yang lain.

“Kami koordinasi dengan pihak sekolah dan dapur penyedia makanan, menelusuri kemungkinan kasus serupa di sekolah lain. Tapi alhamdulillah, sampai sore ini belum ada laporan tambahan,” jelasnya.

Siswa SMPN 1 Cisarua, KBB, mendapat penanganan medis di posko karena  mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG, pada Selasa (14/10).
Siswa SMPN 1 Cisarua, KBB, mendapat penanganan medis di posko karena mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG, pada Selasa (14/10). merdeka.com

Kronologi Keracunan di SMPN 1 Cisarua

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Cisarua, Agus Solihin, mengungkap awal terjadinya dugaan keracunan usai menyantap MBG yang menimpa siswanya. Menurut Agus, sekolahnya menerima sekitar 1.300 paket makanan dalam program tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 1.255 paket dibagikan dan dikonsumsi para siswa.

Paket MBG tiba di sekolah sekitar pukul 09.00 WIB dan mulai dibagikan setengah jam kemudian, tepatnya pukul 09.30 WIB.

“Sekitar jam sembilan pagi datang, dibagikan jam setengah sepuluh. Antara pukul sembilan sampai sepuluh, anak-anak makan seperti biasa, belum ada keluhan apa pun,” ujar Agus.

Namun, sekitar pukul 11.00 WIB, sejumlah siswa mulai menunjukkan gejala seperti mual, pusing, dan muntah-muntah.

“Sekitar jam sebelas mulai ada yang mengeluh pusing, mual, bahkan sebagian muntah. Kami langsung pisahkan mereka sesuai gejalanya,” kata Agus.

Pantauan di SMPN 1 Cisarua, setidaknya ada 4 ruang kelas yang dijadikan posko, dua di antaranya telah digunakan. Pukul 18.00 WIB, terpantau sejumlah pasien masih berdatangan ke Posko SMPN 1 Cisarua.

Rekomendasi