Ditinggal Banjir Tanpa Barang, Keluarga Riki Mengungsi dengan Bayi yang Masih Merah
Salah satu keluarga bernama Riki (31) asal Banyuwangi, Jawa Timur, harus mengungsi ke Balai Banjar bersama istrinya bernama Oki (29) dan anaknya bernama Aksen.
Puluhan warga terdampak banjir di Kota Denpasar terpaksa mengungsi ke Balai Banjar Sedana Mertha Ubung, Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Ubung, Denpasar Utara, setelah rumah dan tempat tinggal mereka tak lagi layak huni akibat banjir pada Rabu (10/9) dini hari.
Salah satu keluarga bernama Riki (31) asal Banyuwangi, Jawa Timur, harus mengungsi ke Balai Banjar bersama istrinya bernama Oki (29) dan anaknya bernama Aksen yang baru lahir 7 hari yang lalu, dan kini anaknya harus dilarikan ke rumah sakit oleh petugas setempat karena mengalami gejala panas di tubuhnya.
"Anak saya katanya agak panas. Usianya baru 7 hari, ini sekarang sama istri dan petugas dibawa ke rumah sakit. Kalau kemarin sehat-sehat saja kondisinya," kata Riki saat ditemui di Balai Banjar Sedana Mertha, Kamis (11/9).
Riki tinggal bersama istri dan anaknya di sebuah indekos di Gang Mawar, Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Ubung. Pada Rabu (10/9) dini hari, tempat kos-nya dilanda banjir, ia dan istrinya serta anaknya harus menyelamatkan diri saat air mulai meninggi dan memasuki kamar kos-nya.
"Awalnya air masuk masih satu jengkal, enggak lama sedikit habis itu sudah naik. Saya mengungsi sekitar jam 3 pagi. Waktu itu ngungsi di kos tentangga yang agak tinggi. Kondisi kos saya hancur sekali. Barang-barang sudah nggak ada yang bisa diselamatkan," ungkapnya.
Riki dan istrinya tidak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Mereka, hanya bisa membawa baju anaknya dan lalu secepatnya mencari tempat yang aman agar tidak terseret banjir.
"Tinggal baju saja yang saya pakai. Cuma pakaian anak saya yang saya bawa. Kalau barang lainnya sudah terseret banjir," ungkapnya.
Riki berkerja sebagai buruh proyek di daerah Denpasar, dan tinggal di kamar kos-nya di Gang Mawar, Ubung, sudah satu tahun lebih dan dia mengaku baru pertamakali di tempatnya di landa banjir dan dia mengungsi pada Rabu (10/9) pagi kemarin.
"Saya sudah satu tahun lebih di kos. Selama ini baru pertamakali banjir. Waktu itu kita panik karena air sudah tinggi. Iya harapan kami agar pemerintah bisa membantu para korban banjir yang terdampak," ujarnya.
Kondisi yang sama juga terjadi kepada Deby (27), dia harus mengungsi ke Balai Banjar Sedana Mertha Ubung, dengan suaminya bernama Fransisco (27) dan anaknya yang masih kecil bernama Arcio berusia 7 bulan. Keluarga kecil asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menceritakan bahwa kondisi tempat indekosnya sudah hancur diterjang banjir.
Dia bersama suami dan anaknya tinggal di sebuah kos di Gang Mawar, di Jalan Cokroaminoto dan tidak bisa menyelamatkan seluruh barangnya seperti lemari, TV, dan lainnya yang hanyut dibawa banjir.
"Kalau di kos saya itu sekitar 10 kamar, itu semuanya hancur terkena banjir dan tidak bisa dihuni lagi. Kasur, lemari, perabot rumah tangga, pokoknya semuanya dibawa. Hanya sepeda motor yang bisa dibawa. Dan beruntung tidak ada korban jiwa, semua penghuni kos selamat,"ujarnya.
"Saya hanya menyelamatkan baju-baju anak saya, kalau yang lain tidak sempat. Handphone juga terbawa arus banjir. Tinggal pakaian yang kita pakai," ujarnya.
Ia juga menceritakan, bahwa memang tempat indekosnya berdekatan dengan sebuah kali. Pada saat itu, sekitar pukul 02:00 WITA, dia terbangun karena ada teriak-teriakan banjir dan dia langsung keluar dari tempat kosnya dan mencari tempat aman hingga pada sore harinya dia mengungsi ke Balai Banjar Sedana Mertha Ubung.
"Kemarin pagi kita bingung, mau dimana tinggal, terus ada teman, akhirnya kemarin sore kita disuruh ke sini. Saat ini saya masih cari tempat tinggal kos," ucapnya.
Deby juga bersyukur, selama di pengungsian anaknya tidak rewel dan juga bisa mendapatkan makan dan tempat untuk mengungsi dan diberi bantuan selimut dan perlengkapan bayinya.
Dia mengaku untuk saat ini yang dibutuhkan adalah tempat kos yang baru agar secepatnya bisa beraktivitas seperti sediakala, dan suaminya yang bekerja sebagai sekuriti hotel.
"Saya tinggal di kos baru tiga bulan, sebelumnya saya ngekos di daerah Tuban, Kuta. Yang saya butuhkan tempat kos dan sampai saat ini belum mendapatkannya," ujarnya.
Sementara, untuk pengungsi Balai Banjar Sedana Mertha Ubung, ada sebanyak 12 KK atau 29 jiwa. Diantaranya, 6 wanita dan 23 laki-laki, lansia 4 orang dan bayi 2 orang.
Sebelumnya, banjir merendam 43 titik di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, Bali, pada Rabu (10/9) pagi, banjir juga terjadi di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Jembrana, Bali, dan di wilayah lainnya di Pulau Bali.