Dinas PUPR Mataram Tuntaskan Penanganan Longsor Sungai Jangkuk di Dasan Agung
Dinas PUPR Kota Mataram berhasil tuntaskan Penanganan Longsor Sungai Jangkuk di Dasan Agung yang terjadi akibat hujan deras, dengan metode swakelola dan anggaran efisien.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah menuntaskan penanganan longsor di pinggir Sungai Jangkuk. Lokasi longsor berada di wilayah Dasan Agung, yang menjadi perhatian serius pemerintah kota setempat. Penanganan ini menunjukkan komitmen Dinas PUPR dalam menjaga infrastruktur vital di Kota Mataram.
Longsor tersebut terjadi pada tanggal 2 November 2025, dipicu oleh intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan pada tanggul sepanjang 10 meter di tepi sungai. Penanganan darurat segera dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, menyatakan bahwa perbaikan tanggul yang longsor telah selesai dikerjakan secara swakelola. Pendekatan ini dipilih mengingat sifat penanganan yang mendesak dan bencana yang terjadi menjelang akhir tahun. Anggaran yang dialokasikan untuk perbaikan ini berfokus pada pembelian material, dengan total biaya di bawah Rp100 juta.
Strategi Swakelola dan Anggaran Efisien dalam Penanganan Longsor
Penanganan longsor di Sungai Jangkuk dilakukan dengan metode swakelola, sebuah strategi yang memungkinkan Dinas PUPR Kota Mataram untuk bertindak cepat dan efisien. Lale Widiahning menjelaskan bahwa sistem ini diterapkan karena kebutuhan penanganan segera akibat bencana alam. Dengan swakelola, proses perbaikan dapat dilakukan tanpa menunggu prosedur pengadaan yang lebih panjang, sehingga mempercepat respons terhadap kondisi darurat.
Anggaran yang digunakan untuk proyek Penanganan Longsor Sungai Jangkuk ini terbilang efisien, yaitu di bawah Rp100 juta. Dana tersebut dialokasikan khusus untuk pembelian material seperti semen, pasir, dan batu. Sementara itu, sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam pengerjaan berasal dari internal Dinas PUPR, mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja yang sudah ada.
"Karena bentuknya penanganan segera dan bencana terjadi akhir tahun, perbaikan talud kami lakukan dengan swakelola. Sekarang tinggal dirapikan," ujar Lale Widiahning, menegaskan efisiensi dan kecepatan penanganan. Pendekatan ini membuktikan bahwa penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Inovasi Beronjong Gantikan Talud untuk Atasi Mata Air
Dalam proses perbaikan, Dinas PUPR Kota Mataram tidak lagi menggunakan sistem talud seperti sebelumnya, melainkan beralih ke sistem beronjong. Keputusan ini didasarkan pada hasil asesmen menyeluruh terhadap kondisi lokasi longsor. Ditemukan bahwa di bagian bawah talud yang longsor terdapat sumber mata air yang cukup besar, yang menjadi pemicu utama keroposnya struktur talud.
Penggunaan beronjong dianggap lebih tepat dan inovatif untuk kondisi geografis Sungai Jangkuk yang unik ini. Sistem beronjong memungkinkan mata air untuk tetap mengalir secara alami tanpa menyebabkan kerusakan pada struktur penahan. Ini berbeda dengan talud yang cenderung menahan aliran air, yang dalam kasus ini justru memperparah kondisi.
Lale Widiahning menjelaskan, "Dari hasil asesmen, perbaikan talud yang longsor tersebut tidak lagi menggunakan sistem talud, sebab kondisi di bagian bawah talud terdapat sumber mata air yang cukup besar yang memicu keropos. Karena itu, sistem yang digunakan adalah beronjong agar mata air bisa tetap mengalir." Inovasi ini diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang untuk stabilitas tanggul.
Prioritas Perbaikan dan Rencana Tahap Selanjutnya
Selain penanganan dinding talud yang longsor, Dinas PUPR juga menyoroti kondisi jalan di bagian kiri dan kanan tanggul yang sudah retak. Meskipun demikian, prioritas utama saat ini adalah menuntaskan perbaikan dinding talud untuk mencegah longsor meluas, terutama saat terjadi hujan deras kembali. Fokus pada satu masalah utama ini dianggap krusial untuk stabilitas area.
Perbaikan jalan yang retak hingga ke jembatan akan menjadi tahap berikutnya dalam rencana kerja Dinas PUPR. Tahap ini akan diawali dengan asesmen lebih lanjut untuk menentukan skala kerusakan dan kebutuhan anggaran yang diperlukan. Pendekatan bertahap ini memastikan setiap aspek penanganan dilakukan secara cermat dan terencana.
"Kami tangani satu-satu dulu, agar bisa fokus sekalian kami asesmen dan usulkan untuk kebutuhan anggaran," tambah Lale, menggarisbawahi pentingnya fokus dalam setiap tahapan perbaikan. Rencana ini menunjukkan komitmen pemerintah kota untuk memulihkan seluruh infrastruktur yang terdampak secara komprehensif.
Sumber: AntaraNews