Dinas PUPR Mataram Segera Asesmen Penanganan Longsor Sungai Jangkuk, Warga Diminta Waspada
Dinas PUPR Kota Mataram akan segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap longsor di pinggir Sungai Jangkuk Mataram yang dipicu hujan deras, guna menentukan langkah penanganan terbaik.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengambil langkah cepat menanggapi insiden longsor di pinggir Sungai Jangkuk. Kejadian ini terjadi di Kelurahan Dasan Agung setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama beberapa hari berturut-turut. Tim asesmen akan segera diturunkan untuk mengevaluasi kerusakan dan merencanakan tindakan perbaikan.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, menyatakan bahwa tim akan turun pada Minggu pagi untuk melakukan peninjauan langsung. Asesmen ini penting untuk menghitung kebutuhan material serta menentukan jenis perbaikan yang paling efektif. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga telah dilakukan untuk pengawasan area terdampak.
Longsor yang terjadi di pinggir Sungai Jangkuk ini mengakibatkan penurunan kekuatan tanah akibat resapan air hujan yang intens. Akibatnya, akses jalan di bagian selatan Sungai Jangkuk ditutup sementara demi keamanan warga. Masyarakat yang melintas diimbau untuk menggunakan jalan alternatif di bagian utara.
Penyebab dan Dampak Longsor Sungai Jangkuk
Bencana longsor di pinggir Sungai Jangkuk ini bukan tanpa sebab, melainkan dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem yang melanda Kota Mataram. Hujan deras hingga sedang yang mengguyur selama tiga hari berturut-turut menjadi faktor utama. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan air meresap ke dalam tanah secara berlebihan.
Resapan air yang masif ini meningkatkan kadar air di lapisan bawah tanah, sehingga secara signifikan mengurangi kekuatan tanah. Tanah yang jenuh air menjadi lebih labil dan rentan bergerak, memicu terjadinya longsor. Kondisi ini membahayakan struktur tanah di sepanjang bantaran sungai.
Dampak langsung dari longsor ini adalah kerusakan pada struktur tanah di pinggir sungai dan penutupan akses jalan. Tim BPBD Kota Mataram telah disiagakan di lokasi kejadian untuk memantau situasi. Penutupan jalan ini bertujuan untuk mencegah potensi kecelakaan dan memastikan keselamatan pengguna jalan.
Masyarakat diimbau untuk mematuhi arahan petugas dan mencari rute alternatif. Pengguna jalan dari arah selatan Sungai Jangkuk diminta untuk memutar arah dan menggunakan jalan di bagian utara. Langkah ini diambil sebagai tindakan preventif mengingat kondisi tanah yang masih labil.
Langkah Cepat Dinas PUPR dan Koordinasi Penanganan
Dinas PUPR Kota Mataram tidak menunda penanganan longsor ini dan segera merespons dengan rencana asesmen. "Besok pagi kami akan turunkan tim untuk melakukan asesmen terhadap kondisi longsor, termasuk berapa meter kerusakan," kata Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning. Asesmen ini krusial untuk mendapatkan data akurat.
Lale Widiahning menambahkan bahwa tim memerlukan waktu untuk menghitung material yang dibutuhkan dan menentukan jenis perbaikan yang paling sesuai. Penentuan metode perbaikan ini akan mempertimbangkan kondisi geologis dan hidrologis area tersebut. Tujuannya adalah memastikan perbaikan yang dilakukan bersifat permanen dan tahan lama.
Selain itu, Dinas PUPR juga telah berkoordinasi erat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram. Koordinasi ini penting untuk memastikan pengawasan dan pemantauan yang berkelanjutan di kawasan terdampak longsor. Sinergi antarlembaga diharapkan dapat mempercepat proses penanganan.
Tim BPBD telah bersiaga di lokasi dan mengambil tindakan awal dengan menutup akses jalan. Penutupan jalan ini merupakan langkah darurat untuk melindungi masyarakat dari bahaya longsor susulan. Pihak berwenang terus memantau perkembangan situasi di Sungai Jangkuk.
Rencana Perbaikan dan Evaluasi Metode Sebelumnya
Perbaikan di lokasi longsor Sungai Jangkuk ini bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, sekitar bulan April 2025, jalan yang kini longsor juga pernah diperbaiki karena mengalami retakan. Perbaikan sebelumnya dilakukan dengan sistem rabat, namun ternyata kondisi di bawahnya belum cukup kuat menahan beban dan tekanan.
"Perbaikan waktu itu kami lakukan dengan sistem rabat. Tetapi ternyata kondisi bawahnya belum kuat," jelas Lale Widiahning. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Dinas PUPR. Evaluasi mendalam terhadap metode perbaikan sebelumnya menjadi prioritas.
Untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang, Dinas PUPR akan melakukan asesmen yang lebih komprehensif. Asesmen ini bertujuan untuk menentukan jenis penanganan yang paling tepat dan efektif. Pertimbangan akan diberikan pada penggunaan bronjong atau pembangunan talud.
Lale Widiahning menegaskan, "Apakah akan menggunakan bronjong atau kembali di talud, kemudian di aspal." Keputusan ini akan didasarkan pada hasil asesmen teknis yang mendalam. Tujuannya adalah memastikan infrastruktur di pinggir Sungai Jangkuk dapat bertahan lebih lama dan lebih aman bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews