Delapan Warga Distrik Meborok Terseret Banjir Nduga, Dua Jasad Ditemukan
Delapan warga Distrik Meborok, Kabupaten Nduga, dilaporkan terseret banjir dan tanah longsor akibat hujan deras. Simak detail terkini mengenai korban Banjir Nduga.
Jayapura – Bencana alam banjir dan tanah longsor melanda Distrik Meborok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, pada Sabtu (1/11). Insiden ini menyebabkan delapan warga dilaporkan terseret arus deras, memicu kekhawatiran serius di tengah masyarakat setempat. Peristiwa tragis ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam.
Kapolres Nduga, AKBP Alfredo Rumbiak, mengonfirmasi kejadian tersebut kepada Antara pada Rabu (5/11). Ia menjelaskan bahwa banjir dan tanah longsor dipicu oleh meluapnya Sungai Toro di Kampung Genamba, Distrik Meborok. Kejadian berlangsung dari pukul 16.00 WIT hingga 21.00 WIT, saat intensitas hujan mencapai puncaknya.
Delapan warga yang menjadi korban terseret arus banjir tersebut kini dalam pencarian, dengan dugaan kuat telah meninggal dunia. Informasi ini menambah daftar panjang bencana yang kerap melanda wilayah pegunungan di Papua. Pihak berwenang terus berupaya melakukan penanganan dan pencarian korban.
Identifikasi Korban dan Kronologi Kejadian
Kapolres Nduga AKBP Alfredo Rumbiak merinci nama-nama delapan warga yang menjadi korban dalam insiden banjir di Distrik Meborok. Mereka adalah Mulanus Kogoya, Karuk Kogoya, Karungganus Kogoya, Karunggana Kogoya, Rabu Kogoya, Yuranus Kogoya, Utlana Lilbi Gwijangge, dan Unggut Gwijangge. Kedelapan individu ini dilaporkan terseret arus deras saat bencana melanda.
Dugaan kuat mengindikasikan bahwa seluruh korban telah meninggal dunia akibat dahsyatnya banjir dan tanah longsor. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya jasad salah satu korban, Utlana Lilbi Gwijangge, di Kampung Genamba, Distrik Meborok. Penemuan ini menjadi bukti nyata dampak fatal dari bencana alam tersebut.
Peristiwa ini bermula dari hujan deras yang tak henti-hentinya mengguyur Distrik Meborok selama beberapa jam. Curah hujan yang tinggi menyebabkan volume air Sungai Toro meningkat drastis hingga meluap. Luapan sungai ini kemudian memicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang menyeret permukiman warga.
Tim SAR gabungan bersama warga setempat masih terus melakukan upaya pencarian terhadap korban lainnya. Kondisi geografis yang sulit dan cuaca ekstrem menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi dan pencarian. Pihak kepolisian berharap semua korban dapat segera ditemukan.
Total Korban Bencana di Nduga dan Penanganan
Bencana alam di Kabupaten Nduga tidak hanya terjadi di Distrik Meborok. AKBP Alfredo Rumbiak mengungkapkan bahwa secara keseluruhan, tercatat 23 orang menjadi korban akibat dua kasus bencana alam di dua distrik berbeda. Dua di antaranya telah berhasil ditemukan jasadnya, mengindikasikan skala dampak yang signifikan.
Selain Utlana Lilbi Gwijangge yang ditemukan di Sungai Toro, Distrik Meborok, jasad korban lainnya adalah Yupin Pokneangge. Yupin Pokneangge merupakan korban yang terseret di Sungai Panpan, Distrik Dal. Kedua penemuan jasad ini menambah daftar duka bagi masyarakat Nduga yang sedang menghadapi musibah beruntun.
Kapolres Nduga menyatakan bahwa kedua jenazah yang telah ditemukan telah dimakamkan oleh keluarga masing-masing. "Kedua jenazah sudah dimakamkan oleh keluarga masing-masing," kata Kapolres Nduga AKBP Alfredo Rumbiak. Proses pemakaman dilakukan dengan cepat sesuai dengan adat dan kepercayaan setempat.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan terus berkoordinasi untuk memberikan bantuan dan penanganan lebih lanjut. Mereka juga fokus pada korban dan keluarga yang terdampak bencana ini. Upaya mitigasi bencana juga menjadi perhatian serius, mengingat potensi bencana alam yang tinggi di wilayah Papua Pegunungan. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Sumber: AntaraNews