Perjalanan 70 Tahun Gobel Group: Mewujudkan Mimpi dan Berkontribusi Bagi Indonesia
Berawal dari mimpi Thayeb Gobel, Gobel Group tumbuh menjadi kelompok usaha nasional yang selama 70 tahun membangun industri dan berkontribusi bagi Indonesia.
Suatu sore sepulang kerja, Thayeb Mohammad Gobel, melihat persoalan yang menyayat hati. Saat berjalan kaki sepanjang pinggiran sungai Ciliwung, ia disuguhkan dengan kondisi masyarakat yang memprihatinkan.
Kemiskinan begitu nyata di hadapannya. Banyak warga terpaksa mandi, mencuci, bahkan berkumur menggunakan air sungai yang keruh dan kotor.
Situasi tersebut, kontras dengan keadaannya. Pakaian yang melekat di tubuhnya saja sudah jauh lebih baik dibandingkan mereka.
Gobel saat itu, adalah karyawan yang punya jabatan mentereng. Didambakan banyak orang. Seorang Wakil Direktur di Fasco. Sebuah perusahaan percetakan yang tersohor. Praktis, hidupnya mapan.
Namun, pemandangan yang dilihatnya sehari-hari, justru membuatnya termenung. Pikirannya mulai bergelayutan kemana-mana hingga kemudian terlempar jauh sewaktu kecil di Tolotio. Sebuah desa kecil di Gorontalo.
Dalam Ramadhan KH; Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang, 1994; Ebu – panggilan kecilnya - pernah membeli dua tandan pisang milik seorang kakek yang hendak pergi ke pasar. Ia lalu mencegatnya. Membayarnya dan bergegas memikul dua tandan pisang itu ke pasar serta menjualnya.
Tak butuh waktu lama, dagangannya laris manis. Ebu senang bukan kepalang. Membawa keuntungannya itu pulang ke rumah. Sejak kecil, dia memang punya tekad menjadi pengusaha. Bahkan, kepada Matji (bibi) yang merawatnya, ia pernah mengutarakan keinginannya itu.
“Mau jadi saudagar kaya raya,” kata Ebu.
Belakangan, setelah beranjak dewasa, ia tersadar bahwa menjadi saudagar kaya raya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penuh perjuangan yang berdarah-darah, apalagi tak punya privilege.
Tetapi yang jelas, hingga ia menduduki jabatan Wakil Direktur di Fasco, semangatnya menjadi pengusaha tak pernah padam. Tak seperti api yang disiram air.
Pintu Masih Tertutup
Kepada Izahar Latif, kawan dekat Gobel di perusahaan percetakan itu, ia pernah mengatakan dengan setengah percaya diri dan mungkin bergurau, bahwa dia digariskan oleh Tuhan menjadi orang kaya raya. Seorang saudagar yang diperhitungkan di kancah nasional. Izahar pun hanya manggut-manggut lalu tersenyum.
“Sudah ada suratan di sini, Zar. Suratan,” ungkap Gobel sambil menunjukan garis tangannya seperti ditulis Ramadhan KH.
Gobel memang sudah ‘tidak betah’ terus menerus menjadi karyawan seumur hidup, meski jabatannya bagus.
Ia merasa bahwa mimpinya menjadi seorang pengusaha harus diwujudkan segera. Gobel lalu nekat melepas jabatan yang didambakan banyak orang itu.
Hari pertama jadi calon pengusaha sukses, tentu bersemangat. Menggebu-gebu. Mencoba segala bisnis yang punya peluang bagus. Mulai dari mebel, jualan motor, bahkan memproduksi semir sepatu dilakoninya.
Sayang, usaha itu berkali-kali gagal. Padahal, ia sudah pontang-panting melakukan berbagai cara salah satunya mendekati orang-orang yang bekerja di pemerintahan. Namun nasib baik belum memihaknya. Ia hanya dapat janji-janji palsu.
Badai pun datang, ia mulai kesulitan. Uang untuk bertahan hidup di Jakarta kian menipis. Kesulitannya ini sebenarnya sudah dikhawatirkan rekan-rekannya yang bekerja di percetakan. Mereka cemas lantaran Gobel belum menyiapkan rencana pasti usai tak lagi bekerja di sana.
Tetapi, ia seperti batu hitam tak berlekah. Pendiriannya sangat kuat. Keinginannya untuk menjadi seorang pengusaha begitu keras. Sampai pada akhirnya, ia bersama teman-temannya mendirikan perusahaan. Perusahaan ini bergerak di bidang pengiriman barang berat melalui jalur laut. Berbulan-bulan ia geluti bisnis ini. Mondar-mandir Pelabuhan Tanjung Priok saban hari jadi rutinitasnya.
Sayangnya, itu juga gagal. Besar pasak daripada tiang. Kalah saing dengan perusahaan sejenis. Maka, ambruk sudah perusahaan logistik yang diupayakannya itu. Gobel pun menganggur lagi.
Dalam tulisan yang disusun Ramadhan KH soal Gobel itu, bahkan disebut ia benar-benar menjadi pengangguran. Lontang-lantung mencari pekerjaan sana-sini. Setiap hari ia jalan kaki, melewati tikungan demi tikungan, toko demi toko, mencari lowongan kerja di kawasan Kota Tua Jakarta.
Kondisi Berbalik
Usai jadi pengangguran, Gobel lalu bekerja di NV Behring. Sebuah perusahaan dagang di Jalan Pinangsia 75, Jakarta. Usahanya bergerak di perakitan radio dengan suku cadang dari Austria.
Masa-masa bekerja di NV Behring menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya. Jika sebelumnya ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain untuk mencari nafkah, kali ini ia datang dengan tujuan berbeda: belajar.
Di perusahaan dagang yang merakit radio menggunakan komponen dari Austria itu, Gobel tidak hanya mengenal produk elektronik, tetapi juga memahami bagaimana sebuah radio dirancang, dirakit, dipasarkan, hingga diterima konsumen.
Pengalaman tersebut melengkapi bekal yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun bekerja di Dasaad Moesin Concern, Fasco, dan sejumlah perusahaan lainnya. Kegagalan demi kegagalan sebagai pengusaha justru membuat pandangannya semakin matang.
Ia mulai melihat bahwa peluang terbesar bukan sekadar berdagang, melainkan membangun industri sendiri. Indonesia, menurutnya, tidak bisa selamanya bergantung pada barang-barang buatan luar negeri.
Keyakinan itu membuat Gobel kembali mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan pekerjaannya di NV Behring dan mengajak beberapa rekannya mendirikan perusahaan sendiri. Pilihannya jatuh pada industri radio. Barang elektronik yang ketika itu mulai menjadi kebutuhan masyarakat sekaligus sarana penting penyebaran informasi.
"Tahun 1954, sewaktu saya mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Co. dengan mengambil tempat di Cawang," kenang dia.
Keinginan Gobel untuk terus belajar membawanya ke Jepang pada 1957 melalui program Colombo Plan. Perjalanan itu menjadi salah satu momentum paling menentukan dalam perjalanan bisnisnya.
Di Negeri Sakura, ia berkesempatan bertemu dengan Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co., sosok yang ketika itu telah dikenal sebagai salah satu tokoh besar industri elektronika dunia.
Pertemuan tersebut mempertemukan dua generasi dengan latar belakang yang berbeda. Gobel masih berusia 27 tahun, seorang pengusaha muda dari Indonesia yang tengah merintis industri elektronika nasional.
Sementara Matsushita telah menginjak usia 64 tahun dan puluhan tahun membangun kerajaan bisnis yang berawal dari produksi lampu sepeda bermerek National. Dalam pertemuan itu, semangat dan visi Gobel meninggalkan kesan mendalam bagi Matsushita.
Hubungan yang semula dibangun melalui pertukaran gagasan kemudian berkembang menjadi kemitraan bisnis. Pada 1960, Matsushita Electric Industrial Co. menjalin kerja sama teknis dengan PT Transistor Radio Manufacturing.
Kolaborasi tersebut membuka jalan bagi perusahaan Gobel untuk tidak lagi hanya memproduksi radio, tetapi juga memasuki industri televisi yang saat itu masih sangat baru di Indonesia.
Kesempatan besar datang ketika Menteri Olahraga Maladi menunjuk perusahaan Gobel untuk bekerja sama dengan Leppin Karya Yasa dalam memproduksi televisi guna mendukung penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta pada 1962. Menjelang pesta olahraga terbesar di Asia itu, sekitar 10.000 unit televisi hitam-putih berhasil diproduksi, menjadi tonggak penting lahirnya industri televisi nasional.
Mendirikan pabrik radio tentu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Dalam Gobel, Budaya Dan Ekonomi: Tentang Wirausaha, Manajemen, Dan Visi Industri Thayeb Mohammad Gobel; 1998, kesempatan itu datang ketika Gobel memperoleh kredit sebesar Rp5 juta dari Bank Industri Nasional (BINA).
Dana tersebut menjadi napas awal bagi perusahaan yang baru dirintisnya. Dengan modal itu, ia mulai memproduksi radio bermerek Tjawang, mengambil nama daerah tempat pabrik pertamanya berdiri.
Pilihan nama itu kemudian berkembang menjadi simbol lahirnya industri elektronika nasional. Pasar pun menyambutnya dengan antusias. Dalam rentang 1954 hingga 1964, sekitar satu juta unit Radio Tjawang berhasil terjual.
Angka tersebut bukan hanya menjadi keberhasilan bisnis Gobel, tetapi juga menandai lahirnya salah satu merek elektronika nasional pertama yang mampu diterima luas oleh masyarakat Indonesia.
Dipanggil Soekarno
Keberhasilan Radio Tjawang dan televisi produksi perusahaannya membuat nama Thayeb Gobel semakin dikenal. Produknya tak hanya beredar di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau pelosok negeri. Popularitas itulah yang akhirnya sampai ke telinga Presiden Soekarno.
Dalam tulisannya, Ramadhan KH menulis, Soekarno telah mengetahui transistor radio merek Tjawang dan produk Leppin yang digunakan masyarakat hingga ke desa-desa yang jauh dari Jakarta. Rasa penasaran itu kemudian membawa keduanya bertemu.
Dalam perbincangan tersebut, Soekarno melontarkan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sarat makna. Mengapa Gobel memilih menekuni industri radio transistor?
Jawaban Gobel menunjukkan bahwa ia memandang teknologi lebih dari sekadar komoditas bisnis.
"Supaya pidato Bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat yang jauh terpencil, di kaki gunung, di pulau-pulau, meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, Pak," ujarnya.
Bagi Gobel, radio adalah jembatan yang menghubungkan negara dengan rakyatnya. Melalui perangkat yang ringkas dan mudah dibawa, informasi dapat menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini sulit tersentuh.
Pergantian pemerintahan setelah 1966 tidak mengubah arah perjalanan usahanya. Ketika Soekarno lengser dan pemerintahan baru mulai membuka pintu bagi investasi asing melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, Gobel justru melihat peluang untuk membawa industri elektronik nasional naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Pengalaman membangun radio dan televisi di dalam negeri menjadi modal penting untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan global tanpa meninggalkan cita-citanya membangun industri Indonesia.
Generasi Penerus yang Menentukan
Berkat ketangguhan dan warisan kepemimpinannya, kini Gobel menjelma menjadi perusahaan besar di Indonesia.
Kelompok usaha yang begitu diperhitungkan sepak terjangnya di Republik ini. Di usia 70 tahun, Gobel Group telah memiliki 18.000 tenaga kerja. Ini berkat ekspansi dan kesuksesan beragam bisnis yang digeluti.
Setidaknya saat ini Gobel memiliki 4 lini bisnis, yakni Elektronik dan Manufaktur, Trading & Services, Food & Hospitality, dan Property & Infrastructure. Seluruh usahanya itu adalah bukti bagaimana mimpi Thayeb Mohammad Gobel menjadi kenyataan.
“Mau jadi saudagar kaya raya,” ujar dia sewaktu kecil.
Meski ia yang meletakan fondasinya, namun ada tangan dingin dari generasi penerusnya. Sepeninggal Thayeb Gobel pada 1984, Rachmat Gobel didaulat menjadi penerusnya. Ia merupakan anak kelima dan putra pertama Thayeb. Berkembangnya usaha ayahnya ini, tidak lepas dari perannya.
Ia betul-betul mampu menerjemahkan filosofi dan mimpi usaha sang pendiri. Tidak mudah meneruskan bisnis keluarga bila generasi penerusnya tak mampu menangkap peluang dan peka terhadap perkembangan zaman.
Menurut Dosen Departemen Manajemen UGM, Rocky Adiguna, menjaga keberlangsungan bisnis keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya masih menjadi tantangan besar di berbagai negara. Sebagian besar perusahaan keluarga tidak mampu melewati proses regenerasi.
“Dari 80 persen perusahaan keluarga hanya 30 persen yang mampu berlanjut ke generasi kedua dan sekitar 12 persen yang bertahan hingga generasi ketiga. Artinya, terdapat kecenderungan transisi antar generasi yang semakin sulit,” jelasnya dikutip dari situs resmi UGM.
Data itu, lanjut dia, menunjukkan bahwa proses suksesi sering kali menjadi titik paling krusial dalam perjalanan sebuah perusahaan keluarga. Semakin panjang rantai regenerasi, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi.
Namun demikian, Rocky menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah sebuah keniscayaan. Sejumlah perusahaan keluarga di berbagai belahan dunia membuktikan bahwa bisnis dapat bertahan selama berabad-abad apabila memiliki tata kelola dan proses regenerasi yang kuat.
Ia menyontohkan Hoshi Ryokan di Jepang yang telah diwariskan hingga generasi ke-47 sejak berdiri pada abad ke-13. Selain itu, terdapat Zamil Group di Arab Saudi yang kini memasuki generasi kelima, serta keluarga Antinori di Italia yang mampu mempertahankan bisnisnya hingga generasi ke-25.
Pada akhirnya, perjalanan Gobel Group masih panjang. Ada lembaran-lembaran bab berikutnya yang akan ditentukan oleh kemampuan setiap generasi. Memastikan nilai, visi, dan semangat pendirinya terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.