2 Warga Tewas Akibat Longsor, Trenggalek Siaga Penuh Hadapi Bencana Hidrometeorologi
Pemerintah Kabupaten Trenggalek menetapkan status siaga penuh menghadapi Bencana Hidrometeorologi Trenggalek setelah cuaca ekstrem menyebabkan longsor dan banjir, menewaskan dua warga. Apa saja langkah antisipasinya?
Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi menyusul cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah. Penetapan ini dilakukan sejak akhir Oktober, setelah serangkaian kejadian bencana alam terjadi.
Intensitas curah hujan yang tinggi menjadi pemicu utama terjadinya longsor dan banjir di daerah tersebut. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin puting beliung.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mencatat beberapa insiden, termasuk longsor yang menewaskan dua warga. Tim gabungan telah dikerahkan untuk penanganan darurat, termasuk pembersihan material dan pencarian korban.
Dampak Cuaca Ekstrem dan Korban Jiwa
Sejak akhir Oktober, Trenggalek dilanda cuaca ekstrem yang memicu serangkaian bencana hidrometeorologi. Dalam sepekan terakhir, BPBD Trenggalek mencatat beberapa kejadian longsor dan banjir di berbagai kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, menjelaskan bahwa empat kejadian bencana alam terjadi dalam dua hari terakhir di tiga kecamatan. Insiden ini mengakibatkan dua warga meninggal dunia dan dua lainnya masih dalam pencarian. Mereka tertimbun longsor di Desa Depok, Kecamatan Bendungan.
Longsor juga dilaporkan terjadi di Desa Dawuhan dan Kecamatan Dongko, menyebabkan kerusakan rumah dan menutup akses jalan. Sekitar 100 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman sambil menunggu kondisi membaik.
Upaya Penanganan dan Mitigasi Bencana
Menanggapi situasi darurat ini, BPBD Trenggalek segera mengerahkan tim gabungan untuk penanganan di lokasi bencana. Upaya tersebut mencakup pembersihan material longsor dan pencarian korban yang hilang.
Di Kecamatan Trenggalek, banjir luapan Sungai Brangkal menggenangi puluhan rumah di Desa Ngares dan Dawuhan. Sebanyak 165 jiwa terdampak banjir, namun tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini.
Alat berat telah dikirim untuk membuka kembali akses jalan yang tertutup longsor, sementara tim lain fokus membantu warga terdampak banjir. Triadi Atmono menegaskan, "Alat berat sudah kami kirim untuk membuka akses jalan yang tertutup longsor, sementara tim lain fokus membantu warga terdampak banjir."
BPBD Trenggalek juga memperkuat koordinasi dengan seluruh kecamatan dan relawan tangguh bencana di daerah rawan, khususnya wilayah perbukitan dan bantaran sungai. Langkah mitigasi dan pemantauan dini terus dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak akibat bencana hidrometeorologi.
Peringatan BMKG dan Imbauan Kewaspadaan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini. Peringatan tersebut mengindikasikan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan akan disertai angin kencang di wilayah selatan Jawa Timur, termasuk Trenggalek, dalam sepekan ke depan.
Kondisi cuaca ini secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi. Jenis bencana yang diwaspadai meliputi banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan tidak melakukan aktivitas di area berisiko tinggi. Triadi Atmono menambahkan, "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak beraktivitas di sekitar lereng curam atau aliran sungai saat hujan deras berlangsung." Imbauan ini khususnya berlaku di sekitar lereng curam atau aliran sungai saat hujan deras berlangsung.
Sumber: AntaraNews