Dasco Buka Suara soal Sindir Perubahan Logo Singgung 'Jadi Kancil'
Karena ramai dikaitkan dengan perubahan Logo 'Gajah' Partai Solidaritas Indonesia dibicarakan.
Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menilai perkataan dirinya soal perubahan 'logo' hanya candaan ringan saja. Karena ramai dikaitkan dengan perubahan Logo 'Gajah' Partai Solidaritas Indonesia dibicarakan.
"Ya kita kan sebenarnya kan itu candaan ringan internal di Gekraf, kebetulan saya ketua dan penasehatnya," kata Dasco kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (21/7).
"Saya ya enggak ada niat sama sekali sindir-menyindir, saya hubungan dengan PSI juga cukup dekat saya pikir dan saya pikir juga nggak ada yang merasa kesindir ya begitu," sambungnya.
Dirinya menegaskan, apa yang dikatakannya itu hanya candaan dalam acara yang digelar oleh Gekraf dan bukan menyindir pihak lainnya.
"Saya bercanda di Gekraf gitu loh, karena Gekraf ini kan kreatif gitu loh, saya pikir wah ini saking kreatifnya jangan-jangan mengubah logo juga kan gitu," pungkasnya.
Diunggah Akun Media Sosial
Sebelumnya, sebuah video beredar di media sosial yang menyebutkan soal adanya senggol menyenggol. Hal ini diunggah oleh akun @gus_raharjo.
"Saya ingat ada sebuah partai politik juga sedang kongres pertama. Tadi saya lihat-lihat, apakah lambangnya Gekraf berubah jadi kancil atau enggak? Ternyata enggak, masih," tulis akun tersebut dikutip merdeka.com.
"Saya pikir kan saking kreatifnya ini nanti yang sana berubah jadi, bukan saya yang ngomong. Yang di sini entar jadi kancil," sambungnya.
Kata Komrad Pancasila
Koordinator Komrad Pancasila Antony mengatakan, pernyataan Dasco tidak perlu dibesar-besarkan.
Menurutnya, hal itu hanya gurauan ringan di tengah suasana politik yang makin hangat dan tidak ada maksud menyindir atau menyerang pihak mana pun.
"Pak Dasco itu orangnya santai. Kadang komentar beliau memang jenaka, ya begitu saja, jangan ditarik-tarik ke tafsir politik," kata Antony dalam keterangannya, Senin (21/7).
Menurut Antony, masyarakat dan elite politik harus mulai belajar membedakan antara pernyataan serius dan candaan politik yang sekadar mencairkan suasana.
"Kalau semua dilihat dari kacamata curiga, habis energi kita untuk ribut. Padahal kadang yang dibicarakan cuma soal warna dan bentuk logo," ujarnya.
Logo PSI yang baru memang memunculkan diskusi publik, namun menurut Antoniy, hal itu justru sebagai tanda demokrasi yang hidup.
"Semua orang bebas berpendapat — asal tetap menjaga suasana tetap adem. Ia juga menekankan pentingnya tidak terlalu reaktif terhadap komentar-komentar yang sifatnya ringan dan tidak substansial," paparnya.
"Lebih baik fokus pada substansi: program, gagasan, dan solusi untuk rakyat. Soal desain logo, biar jadi urusan internal partai yang bersangkutan. Jangan semuanya dikaitkan dengan geng ini atau geng itu," sambungnya.
Dengan begitu, publik diimbau untuk menyikapi dinamika politik secara proporsional dan tetap mengedepankan akal sehat.
"Sebab dalam dunia politik, tidak semua pernyataan punya muatan strategis — kadang, ya hanya sekadar celoteh santai di sela agenda padat," pungkasnya.