Dalam Setahun 35 Anggota Satpol PP Meninggal Dunia, Ini Alasannya
Sebanyak 35 anggota Satpol PP DKI meninggal dalam setahun. Beban kerja tinggi, jam kerja panjang, dan minim fasilitas disebut jadi faktor utama.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, mengungkapkan puluhan personelnya meninggal dunia dalam kurun waktu hampir satu tahun terakhir.
Kondisi tersebut disampaikannya dalam rapat bersama Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kamis (24/4/2026).
“Saya menjadi Kasatpol PP hampir setahun, Pak. Jadi sudah hampir anggota saya 35 orang meninggal dunia. Dan ternyata perbandingannya sama dengan tahun sebelumnya 42 orang,” kata Satriadi.
Ia menegaskan, tingginya angka kematian tersebut bukan disebabkan oleh faktor kepemimpinan, melainkan kondisi kerja di lapangan yang dinilai berat.
“Jadi memang bukan karena Kasatnya, Pak, tapi karena memang kondisionalnya yang beban kerja dan sarana prasarananya yang luar biasa,” katanya.
Beban Kerja Tinggi, Jam Tugas Panjang
Satriadi menjelaskan, jumlah personel Satpol PP di tingkat kelurahan relatif terbatas, hanya sekitar 7 hingga 10 orang.
Dengan jumlah tersebut, mereka harus menangani berbagai tugas pengawasan dan penertiban dengan intensitas tinggi.
Akibatnya, sejumlah anggota terpaksa bekerja dalam waktu yang sangat panjang.
“Anggota Satpol PP itu ada yang sampai kerja sampai 36 jam. Karena jumlah personelnya tidak sebanding,” ungkap Satriadi.
Kondisi ini disebut berdampak pada kesehatan anggota, termasuk meningkatnya tekanan darah akibat kelelahan kerja.
“Makanya kemarin kami melakukan cek, medical check-up, ternyata tensi darah, tensi tingginya luar biasa,” katanya.
Fasilitas Minim hingga Tidur di Musala
Selain beban kerja, keterbatasan fasilitas juga menjadi persoalan yang dihadapi personel di lapangan.
Satriadi menyebut banyak anggota tidak memiliki ruang istirahat yang memadai, meskipun harus berjaga selama 24 jam.
“Cuman tidak ada tempat istirahatnya, Pak, di kantor kelurahan. Padahal mereka jaga 24 jam di kantor kelurahan,” kata Satriadi.
Ia mengungkapkan, sejumlah anggota terpaksa beristirahat di musala atau lorong kantor karena tidak tersedianya ruang khusus.
“Itu juga menjadi kendala. Nah sekarang masih numpang di musala, kadang-kadang di lorong,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Satriadi meminta perhatian dari DPRD DKI Jakarta untuk meningkatkan fasilitas dan memperbaiki sistem kerja agar kondisi personel lebih terjaga.
“Mohon Bapak Ibu Komisi A bisa memperhatikan kami, menjaga stamina lah, kemanusiaan itu,” tandas Satriadi.