Cerita Pilu Pria di Sukabumi, Puluhan Tahun Tubuh Dipenuhi Kutil Tak Dapat Pengobatan
Abdurohman (45), warga Jalan Benteng Kidul, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat, menderita akibat penyakit kulit genetik.
Kisah menyedihkan dialami oleh Abdurohman (45), seorang pria yang tinggal di Jalan Benteng Kidul, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ia menderita penyakit kulit genetik yang menyebabkan tubuhnya dipenuhi dengan kutil dan dibiarkan tanpa pengobatan selama bertahun-tahun.
Setelah kondisi Abdurohman viral di media sosial, ia menjadi perhatian publik. Untungnya, setelah berita ini menyebar, tim gabungan dari pemerintah dan relawan segera memberikan bantuan.
"Warga kami ini menderita penyakit kulit genetik. Setelah mendapat laporan, kami langsung melakukan pengecekan ke lapangan," kata Lurah Benteng, Tri Hastuti, sebagaimana dilansir dari Antara pada Rabu (27/8).
Saat tim mendatangi rumah Abdurohman, mereka menemukan beberapa permasalahan, termasuk fakta bahwa Abdurohman tidak memiliki dokumen kependudukan.
Menurut keterangan ayahnya, Hamdan (70), Abdurohman mengalami disabilitas intelektual, sehingga ia jarang bersosialisasi dan tidak pernah bertemu dengan petugas saat pendataan dilakukan.
"Ketika ada pendataan, yang bersangkutan tidak pernah bertemu karena lebih sering berada di belakang rumah. Alasan keluarga tidak menceritakan kondisi ini mungkin disebabkan oleh faktor psikologis atau masalah pribadi. Kami menghargai keputusan mereka, yang terpenting sekarang adalah penanganan terhadap Abdurohman," tambah Tri.
Abdurohman diharapkan mendapatkan perawatan yang layak dan dukungan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Tindakan Medis
Sebagai langkah pertama, Abdurohman dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah R Syamsudin SH untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan. Biopsi telah dilakukan untuk memastikan jenis penyakit yang dideritanya.
"Hasil biopsi akan keluar dalam waktu sekitar satu pekan. Penjelasan dari perawat, kondisi ini tidak berbahaya dan bersifat genetik. Penanganan akan disesuaikan dengan saran dari dokter kulit," ujar Lurah Tri.
Selain itu, masalah administrasi Abdurohman yang telah terbengkalai selama puluhan tahun juga segera ditangani.
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Sukabumi langsung melakukan kunjungan untuk melakukan perekaman biometrik dan penerbitan KTP.
"Data kependudukan sudah selesai. Petugas Disdukcapil hadir langsung untuk rekam biometrik. Setelah NIK tersedia, BPJS Kesehatan Abdurohman juga langsung bisa diaktifkan kembali," tambah Lurah Tri.
Abdurohman diharapkan dapat segera mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dan administrasi kependudukannya dapat diselesaikan dengan cepat.
Perawatan Berhenti Setelah Ibu Meninggal Dunia
Menurut penjelasan dari ayahnya, Hamdan, Abdurohman telah menderita penyakit ini sejak masa kecilnya. Ia pernah mendapatkan perawatan di RS Hasan Sadikin (RSHS) ketika masih menempuh pendidikan di SLB. Namun, pengobatan tersebut terhenti setelah ibunya meninggal dunia sekitar sepuluh tahun yang lalu.
"Pengobatan tidak dilanjutkan karena katanya tidak ada perkembangan. Setelah ibunya meninggal, kondisi ekonomi keluarga juga mulai menurun," ujar dia.
Saat ini, keluarga Abdurohman tercatat dalam Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan pernah menerima bantuan beras. Sayangnya, bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) dihentikan karena tidak ada anggota keluarga yang memenuhi kriteria.
Meskipun pengobatan Abdurohman telah dimulai, Ketua Tim Penanganan Keluhan dan Humas RSUD R Syamsudin SH, dr. Irfan Nugraha Triputra, menyatakan bahwa biaya perawatan mungkin akan menjadi tanggung jawab pribadi. "Kami belum bisa memastikan, tetapi penilaian awal tidak ada kegawatan sehingga kalau dirawat, ada risiko tunai," jelas dr. Irfan Nugraha.
Mereka berharap agar ada solusi yang dapat membantu meringankan beban biaya perawatan yang mungkin akan mereka hadapi ke depannya.