Cerita Lengkap Bocah Raya Meninggal Akibat Cacing Bersarang di Tubuh, Sungguh Memilukan
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Raya dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R Syamsudin Sh (Bunut).
Seorang bocah berusia tiga tahun bernama Raya dari Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia akibat infeksi cacing gelang. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Raya menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R Syamsudin Sh (Bunut).
Namun, sangat disayangkan, biaya perawatan yang seharusnya ditanggung oleh pemerintah daerah tidak dapat dipenuhi karena Raya tidak memiliki identitas resmi. Akhirnya, biaya perawatan yang mencapai Rp 23 juta tersebut ditanggung oleh Rumah Teduh & Peaceful Land setelah adanya kesepakatan dengan pihak rumah sakit.
"Kami alihkan status perawatannya menjadi tunai, ditanggung oleh Rumah Teduh," jelas Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land, Selasa (19/8/2025).
Kasus meninggalnya Raya mendapatkan perhatian dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dedi Mulyadi bahkan menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.
Berikut adalah beberapa fakta terkait meninggalnya Raya akibat infeksi cacing gelang yang patut dicatat.
Dibawa ke Rumah Sakit Dalam Keadaan Tidak Sadar
Kisah menyedihkan tentang Raya dimulai dari cerita Iin Achsien, yang merupakan pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land. Kejadian ini berawal dari laporan anggota keluarga Raya pada 13 Juli 2025, yang menginformasikan bahwa Raya mengalami sesak napas.
Relawan dari Rumah Teduh segera melakukan asesmen pada hari yang sama. Namun, saat mereka tiba, Raya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Penyakit cacingan akut yang dideritanya baru diketahui setelah ia dibawa ke RSUD R Syamsudin SH (Bunut).
"Kondisinya sudah drop, langsung dimintakan masuk ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit)," ungkap Iin pada Selasa (19/8/2025).
Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH, dr Irfanugraha Triputra, menjelaskan bahwa Raya tiba di IGD RSUD R Syamsudin SH pada 13 Juli 2025 sekitar pukul 20.00 WIB dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia diantar menggunakan ambulans oleh tim relawan Rumah Teduh.
"Menurut pihak keluarga, sehari sebelumnya Raya hanya mengalami gejala demam, batuk, dan pilek," jelas dr Irfanugraha saat dikonfirmasi.
Pada awalnya, dokter menduga bahwa ketidaksadaran Raya disebabkan oleh meningitis TB atau komplikasi dari TBC paru, mengingat orang tua Raya juga sedang menjalani pengobatan TBC. Namun, dugaan tersebut berubah ketika dokter melihat cacing keluar dari hidung Raya selama observasi di IGD.
"Kemungkinan tidak sadarnya ada dua, antara faktor TBC atau karena infeksi cacing," tambah dr Irfan.
Selain dalam keadaan tidak sadarkan diri, kondisi vital Raya juga tidak stabil, terutama tekanan darahnya. Setelah penanganan awal untuk menstabilkan kondisinya, Raya segera dirawat di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) setelah berkonsultasi dengan spesialis anak.
Keadaan yang dialami Raya menunjukkan betapa pentingnya perhatian dan penanganan medis yang cepat dalam situasi darurat. Hal ini juga mengingatkan kita akan dampak serius dari penyakit yang tampaknya sepele, seperti cacingan, yang bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik.
Cacing Menyebar Hingga ke Paru-Paru dan Otak
Selama masa perawatan, kondisi Raya tidak menunjukkan perbaikan. Irfanugraha mengungkapkan bahwa infeksi cacing gelang (ascaris) yang dialami Raya telah mencapai tahap yang sangat parah dan telah menyebar ke organ-organ vital seperti paru-paru dan otak.
Dia menjelaskan bahwa keluarnya cacing dari hidung merupakan indikasi bahwa cacing tersebut telah menjalar hingga ke saluran pernapasan atau saluran pencernaan bagian atas.
"Ini cenderung terlambat. Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar," terang dia.
Kondisi yang serius ini membuat penanganan medis menjadi sangat sulit. Raya mengembuskan napas terakhir pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB, tanpa sempat dipulangkan dari rumah sakit.
Ia meninggal dunia di RSUD R Syamsudin SH setelah menjalani perawatan selama sembilan hari. Kejadian ini menggambarkan betapa berbahayanya infeksi cacing gelang yang tidak ditangani dengan cepat.
Dengan kondisi yang semakin memburuk, harapan untuk kesembuhan semakin menipis, dan akhirnya Raya tidak dapat bertahan lagi.
Pemda Tak Dapat Membantu karena Raya Tidak Memiliki Identitas
Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land, pernah mengungkapkan bahwa saat berupaya menyelamatkan Raya, timnya menghadapi tantangan yang sangat besar. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah ketidakadaan identitas Raya. Rumah sakit memberikan waktu 3x24 jam untuk mengurus BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) agar biaya perawatan dapat ditanggung oleh pemerintah.
Namun, dalam prosesnya, perjuangan untuk mendapatkan dokumen tersebut mengalami banyak hambatan.
"Kita langsung ke Disdukcapil, diarahkan ke Dinas Sosial karena orang tuanya ada keterbelakangan mental. Dari sana diarahkan ke Dinas Kesehatan, dan akhirnya Dinas Kesehatan angkat tangan," jelasnya.
Waktu yang diberikan telah habis, dan selama tiga hari berturut-turut, tidak ada respons yang diterima.
"Waktunya sudah habis 3 hari berturut-turut, tidak ada tanggapan apapun," tambahnya.
Akibat situasi ini, tenggat waktu dari rumah sakit pun terlewat. Meskipun hubungan dengan RSUD Bunut sangat baik, dan rumah sakit telah memberikan kelonggaran biaya selama tiga hari pertama, aturan tetap harus diikuti.
"Kami alihkan status perawatannya menjadi tunai, ditanggung oleh Rumah Teduh," kata Iin.
Ia juga menyebutkan bahwa total tagihan perawatan Raya mencapai lebih dari Rp 23 juta, namun setelah mendapatkan diskon, sisa tagihan dibebaskan setelah pembayaran awal.
Orang Tua ODGJ
Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, memberikan penjelasan mendalam tentang situasi keluarga Raya. Ia mengonfirmasi bahwa kedua orang tua Raya mengalami gangguan jiwa (ODGJ), yang berdampak pada pengasuhan yang kurang optimal.
"Anak itu sering bermain di kolong rumah yang berbentuk panggung bersama ayam. Dia juga berjalan lambat dan menderita demam. Setelah diperiksa di klinik terdekat, ternyata dia mengidap penyakit paru," ungkap Wardi.
Wardi menambahkan bahwa pemerintah desa telah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu keluarga tersebut.
"Desa telah melakukan berbagai upaya. Ada bantuan dari pemerintah, baik dari Dinas Kesehatan maupun dari Dana Desa (DD). Bahkan, anak tersebut sempat sehat dan berat badannya naik karena mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) setiap hari," jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa rumah keluarga Raya pernah hancur dan telah dibangun kembali oleh warga serta pemerintah desa. Ironisnya, karena faktor ODGJ, alas rumah panggung mereka sempat dirusak untuk dijadikan bahan bakar memasak.
Menurut Wardi, keluarga Raya tidak segera membawa anak tersebut ke rumah sakit ketika kondisinya memburuk.
"Mungkin mereka tidak menyadari bahwa Raya sudah berada dalam keadaan seperti itu," katanya.
Ia baru mengetahui kondisi parah Raya setelah berita tentangnya viral dan langsung berkoordinasi dengan Rumah Teduh untuk proses pemakaman.
Dedi Mulyadi Minta Maaf
Dedi Mulyadi mengungkapkan rasa prihatin dan permohonan maaf atas meninggalnya Raya, seorang balita berusia 3 tahun.
"Saya menyampaikan prihatin dan rasa kecewa yang mendalam, serta permohonan maaf atas meninggalnya seorang balita berusia 3 tahun, dan dalam tubuhnya dipenuhi cacing," ungkapnya dalam akun Instagram @dedimulyadi71 pada Rabu (20/8/2025).
Politikus Gerindra ini menuturkan bahwa ia telah berkomunikasi dengan dokter yang menangani jenazah Raya dan mendapatkan informasi mengenai kondisi keluarga korban.
"Ibunya mengalami gangguan kejiwaan atau ODGJ, dia sering dirawat oleh neneknya, dan bapaknya mengalami penyakit paru-paru, TBC. Dan dia sejak balita terbiasa di kolong rumah itu bersatu dengan ayam dan kotoran. Sehingga dimungkinkan dia seringkali, tangannya tidak pernah dicuci, mulutnya kemasukan cacingan, sehingga menimbulkan cacingan yang akut," jelasnya.
Kondisi keluarga dan nasib korban membuat Dedi Mulyadi geram, terutama terhadap aparatur desa Cianaga. Ia pun mempertimbangkan untuk memberikan sanksi kepada tim penggerak PKK, Kepala Desa, dan Bidan Desa terkait insiden tersebut.
"Untuk itu perhatian untuk semua dimungkinkan saya aan memberikan sanksi bagi desa tersebut karena fungsi-fungsi, PKK-nya tidak jalan, fungsi Posyandunya tidak berjalan, dan fungsi kebidanannya tidak berjalan," tegasnya.
"Sanksi-sanksi akan kami berikan ke siapapun dan daerah manapun yang terbukti tidak memberikan perhatian ke masyarakat. Dan selanjutnya kami melakukan langkah-langkah penanganan kepada keluarga tersebut," katanya.
Reaksi Kemenkes
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai dugaan kelalaian yang terjadi di rumah sakit yang pernah merawat korban.
"Kami perlu tahu dulu situasi dan masalah di RS dan pasien," ungkap Aji kepada Liputan6.com pada Rabu (20/8/2025).
Aji menekankan bahwa rumah sakit tidak seharusnya menunda pemberian pelayanan medis hanya karena masalah administratif. Jika pasien berada dalam kondisi darurat, tindakan pertolongan harus segera dilakukan.
"Pelayanan harus tetap berjalan sambil administrasi dilengkapi," tegasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam memastikan bahwa layanan kesehatan di daerah dapat berjalan dengan baik.