BPBD Bantul Koordinasikan Penanganan Tanah Longsor Wonolelo Akibat Cuaca Ekstrem
BPBD Bantul berkoordinasi dengan BPBD DIY untuk penanganan lanjutan tanah longsor di Wonolelo, Pleret, usai cuaca ekstrem. Langkah ini penting guna mencegah longsor susulan yang berpotensi membahayakan warga.
BPBD Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil langkah serius dalam penanganan lanjutan tanah longsor di wilayahnya. Koordinasi intensif dilakukan dengan BPBD DIY untuk mengatasi dampak cuaca ekstrem beberapa waktu lalu. Fokus utama adalah di Kedungrejo, Kelurahan Wonolelo, Kecamatan Pleret, yang mengalami longsor susulan.
Kejadian longsor ini bermula pada Kamis (1/1/2026) dan disusul longsoran kedua pada Rabu (7/1/2026), menyebabkan akses jalan warga sempat tertutup material. Meskipun tidak ada korban jiwa atau luka, potensi longsor lanjutan masih tinggi. Oleh karena itu, penanganan khusus sangat dibutuhkan untuk memastikan keamanan warga sekitar.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, menjelaskan perlunya peralatan khusus. Alat seperti vertical rescue dan alat bor diperlukan untuk mengamankan tebing dan merobohkan material secara terkendali. Langkah ini diambil untuk mitigasi risiko longsor yang lebih besar di kemudian hari.
Potensi Longsor Susulan dan Kebutuhan Peralatan Khusus
Antoni Hutagaol dari BPBD Bantul menekankan adanya potensi longsor lanjutan. Sisa material di bagian atas tebing masih berisiko tinggi untuk longsor kembali, terutama jika hujan intensitas tinggi kembali mengguyur daerah tersebut, ancaman longsor akan semakin besar.
Untuk mengatasi risiko ini, BPBD Bantul berkoordinasi dengan BPBD DIY. Penanganan lanjutan memerlukan peralatan khusus seperti vertical rescue dan alat bor. Peralatan ini vital untuk mengamankan tebing dan merobohkan material sisa secara terkendali.
Rencana perobohan material secara terkendali bertujuan untuk menghilangkan ancaman longsor yang tidak terduga. Ini merupakan langkah proaktif guna melindungi pemukiman dan akses jalan warga. Keamanan masyarakat menjadi prioritas utama dalam upaya penanganan ini.
Kronologi Kejadian dan Upaya Mitigasi Dini
Tanah longsor pertama kali terjadi di Kedungrejo, Wonolelo, pada Kamis (1/1/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Kejadian ini dipicu oleh hujan intensitas tinggi dan kondisi tanah yang labil di area tersebut. Material longsoran awal memiliki panjang enam meter, tinggi tujuh meter, dan lebar dua meter.
Longsor susulan kemudian terjadi pada Rabu (7/1/2026), membawa material batu padas berukuran besar hingga diameter dua meter. Longsoran kedua ini diperkirakan memiliki panjang delapan meter, tinggi delapan meter, dan lebar tiga meter. Material longsoran sempat menutup akses jalan lingkungan warga.
Meskipun akses jalan sempat tertutup, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka akibat kejadian ini. Rumah warga di sekitar lokasi juga tidak mengalami kerusakan. Warga bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Wonolelo dan unsur terkait segera melakukan kerja bakti pembersihan, dengan material longsoran dibuang ke lahan kosong di sisi utara dan selatan lokasi.
Imbauan Kewaspadaan untuk Warga Terdampak
BPBD Bantul secara aktif mengimbau seluruh warga yang tinggal di wilayah rawan longsor untuk selalu waspada, khususnya saat hujan deras mengguyur daerah tersebut. Potensi pergerakan tanah bisa meningkat drastis dalam kondisi cuaca ekstrem.
Warga diminta untuk segera melapor apabila menemukan tanda-tanda pergerakan lereng atau muncul retakan tanah. Laporan dini sangat krusial untuk memungkinkan respons cepat dari pihak berwenang. Informasi dari masyarakat dapat mencegah potensi bencana yang lebih besar.
Koordinasi dan kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi ancaman tanah longsor. BPBD Bantul terus memantau kondisi lapangan dan berupaya maksimal dalam penanganan. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi fondasi kuat dalam mitigasi bencana di Bantul.
Sumber: AntaraNews