BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Cilacap, Percepat Penanganan Longsor Majenang
BNPB menggelar Operasi Modifikasi Cuaca Cilacap untuk mempercepat penanganan longsor di Majenang. Langkah ini diambil di tengah upaya evakuasi korban yang terus berlanjut dan menjadi atensi pemerintah pusat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memulai operasi modifikasi cuaca guna mempercepat penanganan bencana tanah longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Langkah strategis ini diambil untuk mendukung proses pencarian korban, evakuasi, serta penanganan darurat di lokasi terdampak yang masih berlangsung intensif.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tersebut dipusatkan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, dan direncanakan berlangsung secara intensif sepanjang minggu ini. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa operasi penting ini menggunakan satu armada pesawat khusus.
Pesawat tersebut diberangkatkan dari Bandung menuju area yang berpotensi memicu peningkatan curah hujan di wilayah Cilacap dan sekitarnya. Hingga saat ini, sudah ada tiga sorti penerbangan yang berhasil dilaksanakan dengan total penggunaan bahan semai sebanyak 3.000 kilogram, menunjukkan keseriusan dalam upaya ini.
Atensi Pemerintah Pusat dalam Penanganan Bencana
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca ini merupakan arahan langsung dari Kepala BNPB Suharyanto, sebagai bentuk atensi pemerintah pusat. Ini menunjukkan komitmen serius dalam penanganan bencana jangka pendek yang terjadi di wilayah Cilacap. Langkah ini juga sejalan dengan perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan respons cepat.
Abdul Muhari menegaskan bahwa pelaksanaan operasi modifikasi cuaca akan terus dilanjutkan sesuai kebutuhan di lapangan. Prioritas utama adalah untuk memastikan stabilitas cuaca tetap terjaga dengan baik selama masa krisis ini. Hal ini krusial agar seluruh proses evakuasi dan penanganan darurat dapat berlangsung secara aman dan optimal tanpa hambatan cuaca.
Selain itu, BNPB juga terus berkoordinasi erat dengan berbagai lintas lembaga terkait lainnya, termasuk Basarnas dan pemerintah daerah setempat. Koordinasi yang solid ini sangat penting untuk memastikan seluruh rangkaian operasi berjalan lancar, tepat sasaran, dan efektif. Upaya kolaboratif ini bertujuan mendukung percepatan penanganan bencana di wilayah terdampak longsor Cilacap.
Pencarian Korban Longsor Cilacap Terus Berlanjut
Di tengah upaya modifikasi cuaca untuk mengendalikan kondisi iklim, pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Cilacap, terus dilakukan tanpa henti. Kepala Kantor SAR/Basarnas Cilacap, Muhammad Abdullah, melaporkan perkembangan terbaru mengenai jumlah korban. Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ini telah bertambah seiring berjalannya operasi.
Hingga Minggu petang, total korban meninggal dunia yang berhasil ditemukan hingga hari keempat operasi pencarian mencapai 13 orang. Penemuan jenazah Diah Ramadani (17) menambah daftar korban yang telah berhasil diidentifikasi. Namun, masih ada 10 orang lainnya yang saat ini masih dalam pencarian aktif oleh tim SAR gabungan di lokasi kejadian.
Bencana tanah longsor dahsyat ini terjadi pada Kamis (13/11) sekitar pukul 19.00 WIB, mengejutkan warga setempat. Longsor menimbun sejumlah rumah warga di Dusun Tarukahan dan Dusun Cibuyut, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang. Kejadian ini menyebabkan kerusakan parah dan mengubah lanskap area tersebut secara drastis.
Dampak longsor meliputi kerusakan pada 12 rumah serta ancaman serius terhadap 16 rumah lainnya di area seluas sekitar 6,5 hektare. Material longsor yang masif menimbun permukiman warga. Selain itu, bencana ini juga menyebabkan penurunan tanah sedalam 2 meter dan retakan sepanjang 25 meter, menunjukkan skala kerusakan yang signifikan.
Sumber: AntaraNews