Begini Arahan Penting Megawati Terkait Penundaan Penulisan Sejarah Ulang
Penundaan itu dilakukan setelah Kementerian Kebudayaan yang menginisiasi penulisan ulang sejarah itu mendapat masukan dari pelbagai pihak.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan arahan penting Megawati terkait penundaan penulisan sejarah ulang Indonesia sempat ramai diperbincangkan. Penundaan itu dilakukan setelah Kementerian Kebudayaan yang menginisiasi penulisan ulang sejarah itu mendapat masukan dari pelbagai pihak.
"Dari berbagai upaya masukkan agar sejarah dapat ditulis dengan benar. Kemudian didengarkan oleh Menteri Kebudayaan sehingga penulisan sejarah yang menimbulkan berbagai kontroversi itu akhirnya ditunda," kata Hasto usai upacara bendera merah putih di Sekolah Partai PDIP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (17/8).
Hasto secara prabadi ingin penulisan sejarah ulang Indonesia melalui sejumlah kajian akademis. "Dan mari kita semua melihat penulisan sejarah dengan kebenaran melalui kajian-kajian akademis melihat secara komprehensif. Itu yang menjadi arahan dari Ibu Megawati Soekarnoputri," ujar Hasto.
Selain itu, menurut Hasto, PDI Perjuangan siap memberikan kontribusi dalam penulisan sejarah ulang tersebut. Hasto menuturkan, PDI Perjuangan telah mendirikan Badan Sejarah Nasional Partai sehingga bisa akan memberikan kontribusi terhadap bangsa agar dapat belajar dari sejarah.
"Dan kemudian menatap masa depan dengan jauh lebih optimisme setelah kita melihat kebenaran di dalam sejarah itu," pungkas Hasto.
Istana: Peluncuran Penulisan Sejarah Indonesia Kemungkinan Mundur
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa peluncuran penulisan sejarah Indonesia yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada Agustus 2025 kemungkinan mengalami penundaan.
"Ada kemungkinan mundur," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/8), sebagaimana dikutip dari Antara.
Dia menyatakan bahwa hingga saat ini peluncuran tersebut belum dilaksanakan dan terdapat kemungkinan jadwalnya akan mundur dari rencana semula.
"Belum, belum (diperkenalkan pada Agustus," kata dia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menargetkan penulisan sejarah Indonesia versi terbaru rampung pada Agustus 2025 bertepatan dengan HUT ke-80 RI yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.
Fadli Zon optimistis target itu tercapai mengingat proyek penulisan sejarah itu dikerjakan oleh lebih dari 100 ahli sejarah dari berbagai universitas di Indonesia.
“Sekarang baru dalam proses, yang menuliskan ini para sejarawan. Tahun ini (rencananya diluncurkan, red.), (saat) 80 tahun Indonesia merdeka,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/5).
Fadli kemudian menjelaskan proyek penulisan sejarah versi terbaru itu dikerjakan 100 lebih sejarawan dan para ahli dari berbagai universitas di Indonesia.
Dia melanjutkan untuk bagian-bagian yang direvisi, ditambahkan, ataupun diluruskan pun mengikuti hasil kajian para ahli, dan buku-buku sejarah Indonesia yang dituliskan sebelumnya.
“Kami akan update dan menambah beberapa jilid tentu mendasarkan kepada buku-buku yang sudah ada. Kami melibatkan lebih dari 100 sejarawan dari semua perguruan tinggi, dari banyak perguruan tinggi yang memang sejarawan, yang ahli di bidangnya untuk punya kompetensi menulis, dan juga editing (menyunting, red.) di dalam buku itu,” kata Fadli Zon.
Dalam kesempatan berbeda, Fadli Zon menegaskan bahwa akademisi hingga sejarawan yang terlibat dalam penulisan buku sejarah Indonesia merupakan sosok penulis yang ahli pada bidang masing-masing sesuai dengan tema periode sejarah.
“Para penulis tersebut punya kepakaran di bidang masing-masing sesuai tema dan periodisasi sejarah yang diangkat,” ujar Menbud dalam sambutan webinar diskusi draf penulisan buku sejarah Indonesia yang dipantau dari Jakarta, Senin (4/8).
Dia mengatakan bahwa mereka telah memperluas cakrawala historiografi nasional dengan berbagai temuan baru, baik berupa fakta, reinterpretasi, kritis maupun konstruksi teoritik yang memperkaya pemahaman terhadap masa lalu bangsa Indonesia.