Penulisan Ulang Sejarah Tuai Sorotan, Wamenbud Giring Klaim Libatkan 100 Orang Ahli

Rencana pemerintah yang akan menulis ulang sejarah Indonesia menuai pro dan kontra.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Penulisan Ulang Sejarah Tuai Sorotan, Wamenbud Giring Klaim Libatkan 100 Orang Ahli
Penulisan Ulang Sejarah Tuai Sorotan, Wamenbud Giring Klaim Libatkan 100 Orang Ahli (Merdeka.com)

Rencana pemerintah yang akan menulis ulang sejarah Indonesia menuai pro dan kontra. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo menyebut program penulisan ulang sejarah melibatkan 100 orang ahli sejarah.

Giring mengatakan penulisan ulang sejarah sudah masuk bagian dari program Kementerian Kebudayaan. Ia menyebut saat ini progran penulisan ulang sejarah sedang disusun oleh 100 orang ahli sejarah.

"Memang sekarang sedang disusun oleh 100 lebih ahli sejarah. Tapi sabar dulu, kami semua berkomitmen untuk serba inklusif," ujarnya kepada wartawan usai mendampingi istri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Selvi Ananda di Fort Rotterdam Makassar, Kamis (22/5).

Mantan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini berharap masyarakat untuk sabar menunggu penyusunan ulang sejarah Indonesia oleh 100 orang ahli tersebut. Jika nantinya sudah selesai disusun, kata Giring, Kementerian Kebudayaan akan membuka dan mendengarkan masukan dari masyarakat.

"Tinggal wait n see saja dan nanti pada saatnya akan membuka untuk mendengarkan semua masukan. Kita tinggal menunggu saja memang sedang disusun," ucapnya.

Sebelumnya, Ketua DPR Puan Maharani buka suara mengenai penulisan sejarah ulang oleh Kementerian Kebudayaan yang ditargetkan selesai bulan Agustus 2025. Ide penulisan sejarah ulang dicetuskan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Kementerian Kebudayaan menargetkan penulisan sejarah ulang rampung Agustus 2025. Puan meminta penulisan sejarah ulang tidak terburu-buru.

"Itu pasti jangan terburu-buru lah. Namanya penulisan sejarah itu harus dilakukan secara hati-hati," kata Puan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/5).

Puan menyebut, komisi X sudah meminta masukan dari kalangan masyarakat, khususnya sejarawan terkait penulisan sejarah ulang. Dia mengingatkan, jangan sampai ada pengaburan sejarah.

"Yang penting jangan ada pengaburan atau penulisan ulang terkait sejarah, tapi kemudian tidak meluruskan sejarah," ucapnya.

"Jadi jas merah jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Memang sejarah itu pasti ada yang baik, ada yang pahit," ucapnya.

Rekomendasi