BBMKG Peringatkan Potensi Angin Kencang Bali hingga 30 Knot, Pelayaran Diimbau Waspada
BBMKG Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini potensi angin kencang Bali hingga 30 knot dan gelombang tinggi di perairan sekitar Pulau Dewata pada 22-25 Februari 2026, mengimbau masyarakat dan pelaku pelayaran untuk selalu waspada.
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang di perairan Bali. Kondisi cuaca ekstrem ini diprakirakan terjadi pada periode 22-25 Februari 2026, dengan kecepatan angin mencapai 30 knot.
Peringatan ini dikeluarkan mengingat potensi risiko yang ditimbulkan oleh angin kencang dan gelombang tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Maria, seorang prakirawan BBMKG Wilayah III, secara khusus menekankan pentingnya kewaspadaan di perairan utara dan selatan Bali.
Imbauan ini bertujuan untuk meminimalkan insiden yang tidak diinginkan di laut akibat kondisi cuaca yang memburuk. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca maritim terkini dari sumber resmi BBMKG.
Analisis Angin Kencang di Perairan Bali
Berdasarkan analisis terbaru dari BBMKG Denpasar, pola pergerakan angin di perairan utara Bali menunjukkan arah dari barat-barat laut. Kecepatan angin di area ini diprakirakan mencapai hingga 30 knot, atau setara dengan sekitar 55 kilometer per jam.
Sementara itu, di perairan selatan Bali, arah angin diperkirakan bergerak dari barat daya-barat laut. Kecepatan angin di perairan selatan ini juga diprakirakan sama tingginya, yakni hingga 30 knot atau sekitar 55 kilometer per jam.
Kondisi angin kencang Bali ini menjadi perhatian serius bagi semua pihak yang beraktivitas di laut. Kecepatan angin yang signifikan dapat memicu gelombang tinggi dan mengganggu stabilitas kapal, sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra.
Prakiraan Gelombang Tinggi dan Dampaknya pada Pelayaran
Selain angin kencang, BBMKG juga memprakirakan potensi ketinggian gelombang laut yang signifikan selama periode tersebut. Ketinggian gelombang laut hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan.
Area yang termasuk dalam prakiraan gelombang 2,5 meter meliputi Selat Badung, Selat Lombok bagian utara, dan Selat Bali bagian selatan. Ini menunjukkan bahwa beberapa jalur pelayaran penting akan terdampak.
Lebih lanjut, BBMKG memprakirakan ketinggian gelombang laut yang lebih ekstrem, yakni antara 2,5 hingga 4 meter, di Perairan Selatan Bali dan Selat Lombok bagian selatan. Kondisi ini sangat berisiko tinggi bagi keselamatan pelayaran.
BBMKG Denpasar secara tegas menjelaskan bahwa kondisi angin dan gelombang laut yang diprakirakan ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Oleh karena itu, berbagai jenis operator kapal diimbau untuk mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.
Imbauan Kewaspadaan dan Akses Informasi Cuaca Maritim
Operator kapal feri diminta untuk mewaspadai kecepatan angin yang mencapai 21 knot dan tinggi gelombang hingga 2,5 meter. Batas ini menjadi patokan penting untuk pengambilan keputusan dalam berlayar.
Bagi operator kapal tongkang, anjuran kewaspadaan diberikan saat angin berkecepatan 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter. Sementara itu, pengguna perahu nelayan diminta untuk sangat berhati-hati.
Perahu nelayan diimbau mewaspadai kecepatan angin lebih dari 15 knot atau sekitar 27 kilometer per jam dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Batas-batas ini menunjukkan tingkat risiko yang berbeda untuk setiap jenis kapal.
Untuk memantau perkembangan cuaca maritim secara berkelanjutan, BBMKG mengajak masyarakat untuk selalu memperbarui informasi. Informasi cuaca dapat diakses melalui laman resmi bbmkg3.bmkg.go.id atau maritim.bmkg.go.id.
Selain itu, informasi cuaca juga dapat diamati dari media sosial resmi BBMKG, seperti Instagram @bmkgbali, atau melalui aplikasi info BMKG. Akses mudah ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengambil keputusan yang aman.
Sumber: AntaraNews