Waspada! Gelombang Tinggi 6 Meter di Selatan Bali Diprediksi Hingga 10 September, Ini Faktanya!
BBMKG Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini potensi Gelombang Tinggi Selatan Bali hingga 6 meter. Ketahui kapan dan di mana saja dampaknya!
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar baru-baru ini menerbitkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi. Ketinggian gelombang diperkirakan dapat mencapai hingga enam meter di perairan selatan Bali, sebuah kondisi yang memerlukan kewaspadaan tinggi.
Peringatan ini disampaikan oleh Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III, Wayan Musteana, di Denpasar. Fenomena Gelombang Tinggi Selatan Bali ini diprediksi akan berlangsung mulai tanggal 7 hingga 10 September 2025, mencakup beberapa hari ke depan.
Kondisi laut yang ekstrem ini berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran di wilayah tersebut. Masyarakat dan operator kapal diimbau untuk selalu waspada serta memantau informasi terkini dari sumber resmi guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Analisis Pola Angin Pemicu Gelombang Tinggi
Berdasarkan analisis mendalam dari BBMKG Denpasar, pola angin menjadi faktor utama pemicu Gelombang Tinggi Selatan Bali. Angin di perairan utara Bali umumnya bertiup dari arah tenggara-selatan. Kecepatannya bisa mencapai 25 knot atau sekitar 46 kilometer per jam, menciptakan kondisi yang perlu diwaspadai oleh para pelaut.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di perairan selatan Bali. Angin di area ini diperkirakan bertiup dari arah timur-tenggara. Kecepatannya sedikit lebih rendah, mencapai 23 knot atau sekitar 42 kilometer per jam. Meskipun demikian, kecepatan ini tetap signifikan dan berkontribusi pada pembentukan gelombang tinggi yang berbahaya.
Perbedaan pola angin ini secara langsung memengaruhi ketinggian gelombang laut di berbagai wilayah. Untuk perairan utara Bali dan Selat Lombok bagian utara, ketinggian gelombang diperkirakan mencapai hingga 2,5 meter. Angka ini relatif moderat dibandingkan area selatan Bali.
Namun, di Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, dan Selat Bali bagian selatan, ketinggian gelombang diperkirakan jauh lebih tinggi. Area-area ini dapat mengalami gelombang hingga 4 meter, dengan potensi puncaknya mencapai 6 meter. Inilah yang menjadi perhatian utama bagi keselamatan pelayaran di wilayah tersebut.
Imbauan Keselamatan Bagi Pelaku Pelayaran
Kondisi angin dan gelombang laut yang ekstrem ini tentu saja berisiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Oleh karena itu, BBMKG secara khusus mengeluarkan imbauan kewaspadaan bagi berbagai jenis pengguna kapal. Kewaspadaan ini sangat penting untuk mencegah insiden di laut dan melindungi nyawa serta aset.
Pengguna perahu nelayan, yang sering beroperasi di perairan dangkal, diminta mewaspadai kecepatan angin lebih dari 15 knot atau sekitar 27 kilometer per jam. Mereka juga harus berhati-hati jika tinggi gelombang mencapai 1,25 meter, karena kondisi ini dapat dengan mudah membalikkan perahu kecil.
Operator kapal tongkang, yang membawa muatan berat, dianjurkan waspada saat angin berkecepatan 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter. Stabilitas kapal tongkang dapat terganggu secara signifikan oleh kondisi gelombang seperti ini, berpotensi menyebabkan pergeseran muatan atau bahkan tenggelam.
Sedangkan, operator kapal feri, yang mengangkut banyak penumpang, diminta untuk sangat mewaspadai kecepatan angin yang mencapai 21 knot. Mereka juga perlu memperhatikan tinggi gelombang yang bisa mencapai 2,5 meter. Peringatan ini bertujuan untuk memastikan semua pihak mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan demi keamanan penumpang dan kru.
Masyarakat dan pelaku pelayaran dapat membarui informasi cuaca maritim secara berkala dan real-time. Informasi ini tersedia melalui laman resmi bbmkg3.bmkg.go.id atau maritim.bmkg.go.id. Selain itu, pembaruan juga dapat diakses melalui media sosial Instagram @bmkgbali atau aplikasi infoBMKG yang dapat diunduh di ponsel pintar.
Sumber: AntaraNews