Basarnas Tetapkan Radius 1 Km Fokus Pencarian Pesawat ATR di Bulusaraung
Operasi Pencarian Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di Sulawesi Selatan kini difokuskan pada radius satu kilometer dari lokasi serpihan di Bukit Bulusaraung, Pangkep-Maros, dengan prioritas utama menemukan korban.
Basarnas telah menetapkan radius pencarian sejauh satu kilometer dari lokasi penemuan serpihan pesawat ATR 42-500. Serpihan pesawat nahas tersebut ditemukan di puncak Bukit Bulusaraung, Kabupaten Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan. Operasi ini menempatkan fokus utama pada pencarian korban yang berada di dalam pesawat.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, mengonfirmasi penetapan area pencarian ini di Jakarta pada Minggu. Area tersebut dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) darat. Pembagian ini bertujuan untuk mempercepat proses penelusuran di medan pegunungan yang sulit.
Operasi SAR melibatkan total 376 personel tim gabungan dari berbagai instansi. Tim ini terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta unsur potensi SAR lainnya, termasuk organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala).
Fokus Operasi dan Tantangan Medan
Edy Prakoso menegaskan bahwa seluruh operasi difokuskan pada pencarian korban. Tim gabungan bekerja keras di medan bukit bebatuan kars yang memiliki ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Kondisi cuaca di lokasi pencarian juga dilaporkan cepat berubah, menambah tantangan bagi para petugas.
Medan yang ekstrem dengan kontur kars dan ketinggian signifikan memerlukan keahlian khusus dari setiap personel. Perubahan cuaca yang mendadak, seperti angin kencang dan jarak pandang terbatas, seringkali menjadi hambatan. Faktor-faktor ini membuat proses pencarian dan evakuasi menjadi lebih kompleks dan berisiko.
Koordinasi antarunit pencarian menjadi krusial untuk memastikan efektivitas operasi. Setiap SRU darat memiliki tugas dan area tanggung jawab spesifik. Mereka harus beradaptasi dengan kondisi lapangan yang dinamis demi mencapai target utama, yaitu menemukan korban pesawat ATR.
Kronologi Penemuan Serpihan Pesawat
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT ditemukan pada Minggu pagi, kurang dari 24 jam setelah dilaporkan hilang kontak oleh otoritas penerbangan udara di Sulawesi Selatan. Keberadaan pesawat terdeteksi sekitar pukul 07.17 Wita.
Penemuan awal terjadi setelah pesawat patroli udara melaporkan terlihatnya serpihan berwarna putih di kawasan Bukit Bulusaraung. Tim darat kemudian mengonfirmasi temuan serpihan pesawat di sisi utara puncak bukit sekitar pukul 08.02 Wita. Penemuan ini disusul dengan ditemukannya badan pesawat sekitar pukul 08.09 Wita untuk identifikasi lebih lanjut.
Kantor SAR Makassar melaporkan bahwa helikopter sempat mendarat dan menurunkan sejumlah personel Kopasgat dan Basarnas. Penurunan personel ini bertujuan untuk memperkuat tim SAR darat. Namun, helikopter kembali mengudara karena angin berembus cukup kencang dan jarak pandang terbatas, hanya sekitar lima meter.
Data Manifest dan Korban Potensial
Berdasarkan data manifest penerbangan, pesawat ATR tersebut mengangkut total 11 orang. Jumlah ini termasuk awak pesawat yang bertugas. Informasi ini menjadi dasar penting bagi tim pencari untuk mengidentifikasi dan mengevakuasi korban.
Di antara penumpang, terdapat tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Nomenklatur 'Kementerian Kelautan dan Perikanan' adalah nomenklatur resmi yang digunakan saat ini. Mereka adalah Ferry Irawan selaku analis kapal pengawas, Deden Mulyana sebagai pengelola barang milik negara, serta Yoga Naufal sebagai operator foto udara. Keberadaan mereka di pesawat menunjukkan misi tertentu yang sedang dijalankan.
Identifikasi korban menjadi prioritas utama setelah penemuan serpihan dan badan pesawat. Tim gabungan terus berupaya maksimal di tengah medan yang menantang. Proses ini memerlukan ketelitian dan kehati-hatian mengingat kondisi lokasi kejadian.
Sumber: AntaraNews